13. DEKAT

795 28 3
                                        

Terhitung sudah empat hari Nazea dan Nazia tinggal terpisah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Terhitung sudah empat hari Nazea dan Nazia tinggal terpisah. Mereka tetap melakukan kebiasaannya tanpa hambatan. Keduanya terbiasa karena memang dulu sempat tinggal terpisah juga. Toh, mereka juga setiap hari bertemu di sekolah atau terkadang jika main.

Sore-sore seperti ini memang enak untuk bersantai sambil menonton. Seperti yang di lakukan Nazia sekarang, ia tengah menonton drama di laptopnya sembari rebahan di soffa. Tidak ada yang mengganggunya sama sekali karena keadaan rumah Aina pun sepi. Mengingat Gibran yang belum pulang bekerja, dan Gerdan yang sedang pergi main dengan temannya. Sementara Aina, wanita itu tengah bersiap akan pergi ke pengajian rutin di masjid depan sana. Aina turun dari tangga dengan raut wajah bingung, sedangkan Nazia yang melihat Aina merasa heran.

" Umi, kenapa? "

" Alfan sakit, tapi umi nggak bisa datang ke sana harus pergi, " kata wanita itu yang ikut duduk disebelah Nazia.

"Alfan kalo udah sakit, nggak mau ngapa-ngapain, pasti dia juga belum makan, " lanjut Aina dengan raut wajah khawatir.

" Kalau aja Zia bisa bantu, pasti dengan senang hati Zia bantuin umi. Tapi, kalau kayak gini Zia juga bingung, " balas Nazia tersenyum kaku.

" Kalo kamu bantuin umi jagain Alfan sampai selesai pengajian, kamu mau? " pinta Aina menatap Nazia penuh harap.

" Jagain Alfan, di rumahnya? " ulang Nazia yang diangguki Aina.

" Iya, kamu mau kan? "

" Tapi, kita—— "

"Gapapa, lagian cuma sebentar, umi juga percaya sama kalian," sela Aina yang tau maksud ucapan Nazia.

" Yasudah, Zia siap-siap dulu," jawab gadis itu yang menuruti permintaan Aina.

" Iya sana, nanti alamat rumahnya umi kirim ya, " ujar Aina.

"Umi pergi dulu, Assalamu'alaikum. "

" Waalaikumsalam. "

Nazia berlalu menuju kamarnya untuk bersiap. Sejujurnya, ia sangat malas untuk menjaga Alfan yang sedang sakit. Apalagi mengingat Alfan yang merupakan musuhnya. Tapi Nazia cukup tau diri, selama ini ia tinggal di rumah Aina dan anggap saja menjaga Alfan ini sebagai ganti rasa terimakasihnya.

Mengesampingkan dahulu masalah dendamnya untuk kali ini. Gadis itu sekarang sudah siap dengan pakaian yang cukup simpel. Dirasa sudah siap ia turun dari tangga sambil menenteng sebuah jaket. Ia akan pergi ke rumah Alfan dengan motor kesayangannya itu.

Ia menghidupkan motor dan melaju dengan cepat membelah jalanan. Jalan cukup macet karena sekarang sudah waktunya jam pulang bekerja. Sekitar dua puluh menit Nazia sudah sampai di tempat tujuannya. Apalagi jika bukan rumah Alfan. Ia cukup kagum melihat bagunan ini, sederhana tapi cukup nyaman untuk di tempati. Gadis cantik itu memencet bel namun sama sekali tak ada sahutan. Ia melakukannya berkali-kali dengan cepat dan berharap segera dibuka oleh pemilik rumah.

SECRET | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang