41. TIGA KUBU?

467 10 0
                                        

“ Aneh, kenapa mereka semua nyerang Aderfia juga?”
_Reno Revandra.

" Zi lu---"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Zi lu---"

Tersentak kaget Nazia berusaha bersikap seperti biasanya. Ia juga nampak mengkhawatirkan kembarannya, walau rasa curiganya yang jauh lebih besar.

" K-kalian tolong Zea," ujarnya lebih dulu.

" Tanpa lu minta kita akan selamatin dia, " jawab Revan.

Nazia mengangguk kaku, namun rasa gugup yang melandanya tak bisa ia sembunyikan. Ia takut akan terjadi sesuatu yang tidak terduga, sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.

Sementara itu, Alfan memandang istrinya dengan penuh tanya. Dahinya menyeringit kebingungan, dia merasa Nazia menyembunyikan suatu hal dibelakangnya. Dia ingin mendekapnya, ingin bertanya apa yang salah, namun rasa gengsinya yang lebih besar menghalangi langkahnya.

" Rencana apa lu yang buat? " bisik Alfan bahkan nyaris tidak terdengar.

Nazia menoleh, sedikit terkejut akan kalimat yang diucapkan lelaki itu. Hatinya juga ikut tergores karena kalimat itu seolah menyudutkan dirinya yang bermasalah. Bukan hanya itu, Nazia juga takut jika semua ini akan...

" Gue tau lu pasti paham, " lanjut Alfan.

Setelah itu Alfan pergi lebih dulu diikuti oleh yang lain.

Nazia, ia masih membisu. Otaknya seakan tidak bekerja dengan kalimat yang diucapkan Alfan. Tidak bohong, hatinya juga sedikit gelisah karena hal itu. Apa mungkin Alfan mengatahui semuanya? atau ini hanyalah sebuah kebetulan semata?

Gue gak bisa jika harus diam terus menerus, batin Nazia sambil mengigit bibir dalamnya gelisah.

Sesuai dengan apa yang diperintah, Shaka mengemudikan motornya menjelajahi jalanan. Ia tidak sebodoh itu untuk melanggar perintah yang jelas bukanlah mainan, namun ia juga tidak bisa untuk terus menerus patuh. Sedikit patuh tidak masalah bukan?

Kini, lelaki itu sudah tiba tepat di depan sebuah gedung tinggi yang gelap. Sebuah gedung tua di ujung kota yang temannya maksud. Lelaki itu menuruni motornya, menatap sekeliling yang tampak begitu sepi. Bahkan yang terdengar hanyalah suara jangkrik yang saling bersahutan.

Ting!

Unknown

|| Kami sudah menunggumu.
     Apakah kau tetap tidak mengetahui
     dimana kami? Bodoh!

Pesan dari seseorang itu kembali terkirim, dan Shaka yang diam tanpa berniat membalas.

Sorotan mata tajam menghunus dari samping. Tentu saja menatap Shaka yang masih diam di sana. Seseorang itu tersenyum miring, merasa tidak sabar dengan apa yang akan terjadi. Apakah akan berakhir sesuai kemauan mereka atau justru berakhir sesuai yang dia inginkan?

SECRET | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang