[REVISI]
Dendam dan Cinta?
Keduanya merupakan hal yang berbeda. Dua kekuatan yang bertolak belakang namun sama-sama menghancurkan. Mereka seperti dua arus yang berlawanan, namun membawa perubahan yang tidak terduga. Ketika keduanya hadir diwaktu ya...
" Jika anak-anak lain bercerita pada ibunya, lantas aku yang tak mendapatkan peran ibu-harus apa? " _Nazia Keira_
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Berada dalam sebuah sunyi yang sengaja dibuat, memiliki perjalanan yang panjang. Terlahir bersama bukan berarti akan selalu hidup berdampingan. Kadang, sebuah takdir sengaja mempermainkan. Siang ini, bersama langit yang tampak mendung. Tidak ada panas, namun tidak pula hujan.
Wanita itu, berjalan layaknya sebuah kebenaran ada pada hatinya. Kedua sudut bibirnya yang tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman hangat. Memandang wajah sang bayi dalam gendongannya, tanpa mengalih pada bayi lain didepannya.
Di depan rumah megahnya, wanita itu berucap. "Jagalah dia, karena saya tidak akan sanggup untuk merawat keduanya bersama. Jangan pernah memberitahunya jikalau dia memiliki sebuah keluarga."
" Tapi--"
" Saat waktunya tiba kami akan bertemu dengannya, kembali. Pastikan dia tidak mengetahui nama belakangnya, sebelum kami semua bertemu. Cukup katakan bahwa namanya, Nazia Keina. "
Mendengar ucapan majikannya, wanita itu mengangguk patuh. Dia menatap iba seorang bayi kecil yang sudah ada dalam dekapannya. Bayi itu tertidur pulas, tanpa tau bahwa dirinya telah terbuang oleh keluarganya sendiri.
" Maafkan saya nyonya, berapa lama kami akan tinggal disana? " tanyanya yang hanya mendapatkan helaan napas dari wanita depannya.
" Berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, aku hanya tidak ingin dia menyaksikan langsung perbedaan kami padanya. Setidaknya sampai putri pertamaku-bisa sembuh, " balas Nara. Ia membalikkan tubuhnya, segara memasuki rumah dengan putri pertamanya.
Terlahir sama, tidaklah menjamin hidupnya akan sama. Kini sebuah fakta ada tanpa pihakan. Menyisihkan seseorang yang ingin keadilan namun tidak terdengar. Sama seperti hati bayi mungil itu, siang ini langit bahkan mendukungnya. Tidak ada teriknya matahari, tidak pula ada hujan yang turun.
Berjalan lurus tanpa pamit, seorang wanita itu menutup mulutnya rapat. Tidak memberikan keluhan sedikitpun, karena tugasnya hanya menjaga bayi mungil yang tersingkir itu.
Sungguh, malang sekali nasibmu bayi kecil. Batin wanita yang menjadi pengasuh itu. Dia mengusap lembut pipi mulus sang bayi.
☆
Waktu yang berjalan cepat, kini harinya tiba. Hari dimana umur gadis kecil itu bertambah. Nazia Keina, usianya sudah menginjak empat tahun. Setelah hari lalu itu, dirinya tumbuh dengan kesederhanaan. Hidup bersama kosong yang hinggap tanpa sosok keluarga yang menemani.
" Kei, kenapa murung sekali? " Sosok wanita duduk disamping Nazia yang termenung sendirian.
Beberapa detik, Nazia tidak sedikitpun mengeluarkan suaranya. Gadis kecil itu hanya duduk dengan bibir terkatup. Mengayunkan kaki mungilnya kesana- kemari, dan matanya yang menatap lurus. Semakin lama mata indahnya berair, hingga kini air mata itu tidak lagi sanggup untuk membendung. Buliran air matanya meluruh membasahi pipi bersama tubuh yang bergetar.