47. EXTRA CHAPTER [TOPENG FAKTA]

570 12 3
                                        

" Yang sakit itu, bukan cinta. Namun, ego yang tertutup oleh topeng fakta."

Mendobrak pintu keras, suara langkah kaki terdengar cepat melangkah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mendobrak pintu keras, suara langkah kaki terdengar cepat melangkah. Kakinya melangkah kesana-kemari, mengunjungi setiap ruangan yang ada. Namun, yang dicarinya tidak ada. Yang ada hanyalah kesunyian yang terus menghadiri setiap sudut rumah.

Dengan deru napas yang tidak beraturan, ia duduk di sebuah soffa. Membuka jaket kulit yang dipakainya, dan melemparkan ke sembarang arah. Alfan memijat pangkal hidungnya pusing dengan mata yang terpejam erat. " Bodoh, Fan. Apa masih pantas sekarang lo cari dia? "

Terkekeh sinis, Alfan membuka ponselnya yang berdering. Melihat nama Mikha yang tertera, ia segera menjawab panggilannya.

" Brengsek! " maki Mikha dari sebrang sana dengan emosinya yang terdengar tidak stabil.

" Kalau lo telpon gue hanya untuk maki-maki nggak jelas, gue matiin--"

" Lara kasih, sekarang. "

Alfan mengerutkan keningnya bingung. Lara kasih? itu sebuah nama rumah sakit kecil di pedesaan dalam. Dulu, Alfan pernah mendengar nama itu dari Nazia. Lebih tepatnya saat gadis itu mengatakan bahwa Lara kasih adalah tempat yang tidak pernah mau dia kunjungi, lagi.

" Nazia ada disini, dia butuh lo, Fan-"

Memutuskan panggilannya sepihak, Alfan menyambar kunci motor yang ada dimeja. Tanpa mengambil jaketnya kembali Alfan keluar rumah begitu saja. Bahkan pintu rumahnya saja ia tidak menguncinya.

" PERGI! PERGI KALIAN SEMUA!! "

Teriakannya menggema, memenuhi ruangan kosong dengan beribu luka. Memundurkan langkanya, gadis itu tampak ketakutan. Dia tidak berhenti hingga kini tubuhnya sudah terpojok oleh dinding. Perlahan tubuh kurus itu meluruh, memeluk lututnya sendiri bersama tanganya yang bergetar hebat.

Sekali lama tangisannya mulai terdengar kencang. Bersama teriakan keras yang mengikuti setiap lirihnya. Pakaian serba putih yang dipakainya, kini menunjukan mengapa dirinya. Tubuhnya tidak pernah berhenti bergetar, seperti ada ketakutan yang semakin dalam terasa.

Memukul kepalanya keras, Nazea menangis histeris. Ada banyak bayangan yang muncul dalam benaknya. Diikuti dengan suara-suara keras yang semakin bersahutan ditelinganya. Semakin lama kondisinya bukan membaik, melainkan semakin memburuk dengan semua ingatan yang dimilikinya kembali.

Semuanya, seakan datang tiba-tiba untuk Nazea. Seperti rasa sakit dalam hidupnya yang tidak pernah hilang. Selalu ada hingga dirinya berapa di titik paling lemah untuknya. Cukup lama pada posisi yang sama, Nazea tidak berhenti mengeluarkan isaknya.

Seorang dokter dan perawat datang dengan tergesa-gesa, dia menghampiri Nazea. Menyuntikkan sebuah suntikan dengan cairan yang entah apa. Hingga semakin lama Nazea mulai stabil dengan tubuhnya. Isaknya kini reda bersama deru napasnya yang semakin tenang.

SECRET | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang