[REVISI]
Dendam dan Cinta?
Keduanya merupakan hal yang berbeda. Dua kekuatan yang bertolak belakang namun sama-sama menghancurkan. Mereka seperti dua arus yang berlawanan, namun membawa perubahan yang tidak terduga. Ketika keduanya hadir diwaktu ya...
" Seperti laut tanpa ombak, semuanya sunyi. Ada ombak yang lebih keras terdengar, hingga kini dirinya telah pergi. Lalu karang datang, terseret oleh takdir hingga karang menetap. "
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ruang kosong tanpa kehidupan, tapi ada suatu hal yang ingin terisi. Bagai pelangi tanpa warna, dan api tanpa asap. Aneh. Namun semuanya adalah fakta tanpa bantahan. Hidup dalam dua nama yang terukir hanya akan menciptakan jurang yang curam. Tanpa terangan cahaya yang mampu membuat kaki tersandung.
Bencinya itu, bohong. Nyatanya ada sesuatu yang lebih besar tercipta. Terjadi dalam sebuah kesalahan yang seharusnya tidak pernah ada. Dirinya tidak pernah menyesal, hanya saja-semesta mungkin ingin mengujinya. Bagaimana rasa itu tumbuh, dan bagaimana rasa itu bisa bertahan.
Terpaku pada setumpuk kertas-kertas bercoret tinta. Matanya tidak pernah mengalih, masih menatap secarik kertas yang tanpa tau apa isinya. Fokusnya hanyalah sebuah sandiwara dari sebuah kekosongan. Yang jika dibuka, semuanya akan terbongkar.
Gue nggak pernah sangka, kehidupan yang nggak pernah sekalipun terlintas sekarang terjadi begitu saja. Hatinya berkata, melayang pada sebuah hal yang tidak pernah hinggap.
" Sekarang, entah berapa lama-aku akan menunggu?" Kalimatnya itu pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari semua yang terucap.
" Setiap hari harapan aku sama, berharap kamu baik-baik saja dan bisa kembali pada yang seharusnya kamu pulangi. " Tangannya melepas sebuah kaca yang bertengkar dibatang hidung. Menyandarkan punggung itu pada sandaran kursi yang menopang.
Membuka sebuah laci yang ada di mejanya, laki-laki itu mengambil sebuah figura kecil. Figura putih dengan kaca yang sangat mengkilat, bagai sinar tanpa halangan. Memandang sendu seseorang yang ada didalam figura itu, hingga tidak ada lagi kalimat yang terucap.
Tidak dapat dipungkiri ada sesak yang tertanam dalam hatinya. Ada rindu yang sulit diucapkan, dan ada dua netra yang tidak bisa berbohong. Dalam sejuta satu cara entah mengapa takdir ini tidak sedikitpun berpihak padanya. Terus memberikan cobaan yang tanpa tau kapan semuanya selesai. Namun, manusia bisa apa? Diam dan menunggu, hanya itu yang dapat dilakukan setelah harapannya yang jauh lebih besar.
☆
" Ran, gimana? " Kalimatnya terlontar dengan ragu terus mengiringi.
Beberapa saat tidak ada percakapan yang terdengar. Tidak ada yang menjawab, dan hanya ada ketenangan menyelimuti. Hingga salah satu dari mereka menghela napasnya lelah, dia menjawab. " Pihak kepolisian belum bisa tangkap mereka-"
" Enggak becus! " Mikha sontak bangkit dari duduknya.
" Kalau polisi nggak bisa kasih hukuman untuk mereka, biar gue yang turun dan bunuh biadab itu! " desis Mikha. Dia menatap lurus dengan tatapan yang menghunus. Setelah apa yang terjadi, mereka masih berkeliaran diluar sana?