[REVISI]
Dendam dan Cinta?
Keduanya merupakan hal yang berbeda. Dua kekuatan yang bertolak belakang namun sama-sama menghancurkan. Mereka seperti dua arus yang berlawanan, namun membawa perubahan yang tidak terduga. Ketika keduanya hadir diwaktu ya...
“ Mungkin, jika bisa memilih aku tak akan melakukannya.”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di tengah keramaian, semua orang berlalu kesana kemari, sama seperti Nazia dan Alfan. Sepasang kekasih itu tengah berbelanja untuk kebutuhan di rumah baru mereka. Dengan ekspresi Nazia yang tampak lebih bersemangat, Alfan justru mendatarkan wajahnya tak tau mengapa. Gadis itu berlari kesana kemari guna mengambil barang-barang yang ia inginkan, walaupun semuanya tidak terlalu penting, tapi biarlah.
Jadi, tau bukan, mengapa Alfan mendatarkan wajahnya melihat tingkah Nazia?
Nazia sengaja mengambil banyak kotak susu favoritenya, terlebih karena memang ia tak bisa memakan cemilan. Bukan hanya susu yang ia ambil, melainkan berbagai permen dan coklat Nazia juga ambil. Ia sengaja berbelanja banyak karena tentu Alfan yang akan membayar semua ini.
" Jangan banyak-banyak, " tegur Alfan yang mendorong troli di belakang Nazia. Gadis itu seperti anak kecil yang berjalan kesana kemari dan Alfan yang tetap mengikutinya dari belakang.
" Ini sedikit Alfan, lo jangan perhitungan dong sama istri sendiri," balas gadis itu santai, ia bahkan tak perduli dengan ekspresi datar Alfan sejak tadi.
" Iyaa, si paling istri..." Terkekeh geli Nazia berbalik menatap Alfan yang ternyata juga menatapnya. Kedua netra mereka bertemu, diam dalam beberapa detik hingga akhirnya Nazia yang kembali melanjutkan langkahnya.
" Masih lama? Gue mau pulang, laper..." kata Alfan dengan kalimat akhirnya yang sedikit pelan.
" Iya, sabar. "
Berdecak sebal, Alfan menghentikan langkahnya dan memandang Nazia yang masih sibuk memilih banyak barang walau trolinya yang sudah hampir penuh. Masalahnya, hampir 2 jam mereka mengelilingi tempat ini dan Nazia yang tampaknya belum juga selesai. " Sabar mulu, kelamaan lo, Nazia."
" Ihh rewel, kayak bocil ya, lo?" seru Nazia menatap Alfan dengan tatapan tajam. Mereka bahkan seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya karena nakal.
" Bocil mana ada yang sekeren gue?" sahut lelaki itu dengan jada percaya dirinya yang sudah tinggi.
" Dihh! Pede banget lo! " Nazia berucap dengan tawa kecil, ntah apa yang gadis itu tertawakan namun rasanya terlihat menggemaskan untuk Alfan lihat.
Tatapan matanya mengarah pada seorang gadis di depannya. Menatap dalam pada kedua bola mata itu. Terlihat indah dengan senyuman yang terbit di bibir gadisnya. Memberikan sentuhan hangat di dalam hati saat melihat senyumannya.