37. MUNDUR

486 12 0
                                        

“ Gue kalah, kalah dengan perasaan gue sendiri. ”

Hari berganti hari, waktu berganti waktu, dan bulan yang berganti bulan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari berganti hari, waktu berganti waktu, dan bulan yang berganti bulan. Rumah yang tadinya di isi dengan keributan, kini berubah hening. Tak ada keributan kecil yang di lalui, dan yang ada hanyalah keasingan diantara mereka. Sejak saat itu, semuanya berubah. Tak ada lagi Nazia yang marah-marah setiap hari. Tak ada pula kelakuan ajaib yang di lakukan Alfan.

Mereka, persis seperti dua orang asing yang dipaksa untuk bersama. Setiap hari, mereka melakukan tugasnya masing-masing. Alfan yang selalu bekerja setiap pulang sekolah, dan Nazia yang selalu melaksanakan tugasnya sebagai perempuan yang sudah menikah. Hidup mereka damai, namun dilanda kesepian dan rasa bersalah yang besar.

Mereka tau, mereka hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk kembali. Untuk saat ini mungkin inilah pilihan terbaik, dari pada harus berpisah. walaupun begitu, keduanya masih memikirkan untuk masa depan. Pernikahan bukanlah hubungan yang harus mengutamakan ego masing-masing, tapi hubungan yang memerlukan kepercayaan dan memaafkan. Mereka percaya, walau tak pernah mengungkapkan perasaan. Tapi, sebuah rasa sudah ada seiring berjalannya waktu.

" Sebentar lagi umi dan abi sampai, bersikap biasa jangan sampai mereka tau hal ini. " Gadis itu mendongak saat lelaki di depannya berbicara.

" Tap---"

" Satu lagi, malam ini lu tidur dikamar gue. "

" Gue ga mau mereka nanti curiga. " Lanjut Alfan, setelah itu meminum minumannya.

" Iya, tap---"

" Gue bisa tidur di soffa, kalo lu ga mau kita satu ranj---"

" Gue mau! "

Diam, itulah yang terjadi saat Alfan mendengar jawaban Nazia yang cepat. Tatapan keduanya berhenti, saling menatap hingga beberapa detik. Sampai akhirnya Alfan yang mengakhiri.

" Oke, " jawabnya yang setelah itu langsung pergi ke kamarnya.

Maaf, gue terlalu jahat.

Gadis itu berbatin, menghela napasnya dan tersenyum tipis. Ia tau, waktu itu ia terlalu jahat hingga menyalahkan semuanya terhadap Alfan. Padahal sudah jelas bahwa ini semua bukanlah keinginan lelaki itu juga.

Nazia, ia segera membereskan piring-piring sisa makan tadi. Sekarang ia harus segera mengambil beberapa bajunya untuk dibawa ke kamar Alfan. Jika tidak, Aina pasti akan bertanya tentang hal itu.

Setelah dipersilahkan, Nazia baru masuk kedalam. Rasa canggungnya tiba-tiba datang, saat dirinya yang melihat Alfan tanpa mengenakan bajunya. Mungkin lelaki itu kegerahan karena cuaca panas di luar sana. Memang sedikit aneh, padahal ruangan ini memiliki AC yang menyala. Tapi, entahlah lagipula mereka sudah sah.

SECRET | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang