[REVISI]
Dendam dan Cinta?
Keduanya merupakan hal yang berbeda. Dua kekuatan yang bertolak belakang namun sama-sama menghancurkan. Mereka seperti dua arus yang berlawanan, namun membawa perubahan yang tidak terduga. Ketika keduanya hadir diwaktu ya...
" Tanpa sadar hanya sebuah ucapan semata, mampu membuat hati yang bertahan memilih untuk pergi. "
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dua hari berlalu cepat berganti. Sejak kejadian malam itu, semua kacau. Pertemanan yang terjalin mendadak putus, dan hati yang menetap perlahan memudar. Tepat dirumah sakit, seorang gadis terusik dari tidurnya. Netra matanya memandang sekitar. Ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang menyeruak.
Kepalanya menoleh ke samping, mendapati seorang lelaki yang tertidur dengan tangan yang menggenggamnya. Gadis itu menatap tanpa ekspresi, merasakan sesak dihatinya dan bahagia yang sangat amat dalam. Ingatannya berputar kembali, dimana malam itu adalah malam penuh kehancuran.
Telapak tangan mungil itu ingin menggapai rambutnya. Namun belum sempat itu semua terjadi, Alfan sudah bangun lebih dulu. Dia melirik Nazia sinis dan setelah sadar menghempaskan tangan gadisnya kasar.
Alfan berdiri tegak memusatkan matanya kepada Nazia yang terbaring. " Nyusahin! "
Satu kata yang keluar mampu membuat gadis itu bungkam. Ia mengedipkan matanya berusaha mencerna kata tersebut tanpa membuat hatinya sakit.
" Enggak bisa ya, hidup lo tanpa nyusahin orang lain?" tanya lelaki itu sarkas.
" Gue nggak minta lo untuk ada disini. " Nazia memalingkan wajahnya kearah lain.
" Tapi kondisi lo yang mengharuskan gue untuk selalu ada disini, Nazia! "
" Gue nggak mau lo ada di sini karena sebuah keterpaksaan, " lirih Nazia, menahan butiran air mata yang ingin mengalir.
Alfan mengepalkan tangan erat. Merasakan emosi pada dirinya dan rasa tidak tega yang bersamaan.
" Lo seharusnya bersyukur Nazia. Di saat lo yang main belakang dan hancurin gue, gue masih untuk lo. "
"BERHENTI SALAHIN GUE TERUS MENERUS!" Bersama rasa sakit yang tertahan, Nazia mengeluarkan semua perihnya. Berteriak didepan Alfan tanpa perduli bahwa ia berada dirumah sakit.
Tertawa hambar, Alfan tidak sedikitpun kasian. Lelaki itu justru mencengkram dagu Nazia erat. " Yang gue ucapkan semuanya fakta, Nazia! "
" Kalau aja waktu bisa diputar, lebih baik gue melawan orang tua gue untuk nggak terima perjodohan dengan orang jahat kayak lo, " sarkas Alfan menatap tajam Nazia dengan matanya yang berkaca-kaca.
Bagaikan tersambar petir, Nazia meneteskan air matanya. Ia tak mampu lagi membendung air mata yang sejak tadi ditahan. Sebuah kalimat yang terucap mampu membuat hati yang sedang tersusun hancur kembali.