EPILOG

491 11 5
                                        

" Dijadikan tujuan oleh seseorang, itu indah. Karena sebesar apapun kesalahan akan ada maaf yang menerima. "

Orang-orang berlalu lalang kesana kemari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Orang-orang berlalu lalang kesana kemari. Menggeret koper-koper besarnya sendiri mengikuti setiap arahan yang ada. Sama seperti yang lain, seseorang berjalan anggun dengan mendorong sebuah stroller bayi didepannya. Sementara di belakang, seorang supir mendorong koper-koper miliknya.

Beberapa menit lalu, dirinya baru saja tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Setelah lama tidak kembali, kini ia tiba dikota kelahirannya. Kota yang menjadi perjalanan hidup untuknya. Juga, kota yang menjadi tempat dirinya untuk pulang dari kesedihan panjang.

Menarik napas panjang, ia memandang seorang balita berusia dua tahun itu. " Welcome to Indonesia, Nalaka Dewangga. "

Seolah mengerti maksud ibunya, balita itu tertawa kecil. Menambah pesona teduhnya yang membuat sang ibu tersenyum gemas. Sembari menunggu supir yang mengambil mobil, perempuan itu bercanda gurau bersama anaknya. Kadang pula balita bernama Nalaka itu tertawa lepas menanggapi.

" Laka laper ya, mau makan? " Nalaka mengangguk menjawab pertanyaan dari ibunya.

Nazea mengetuk-ngetuk dagunya pelan seolah sedang berpikir. " Buna bawa Laka makan ke restoran, mau? "

Kali ini bukan anggukan yang Nalaka berikan. Namun sebuah tepukan tangan kecil yang balita itu jadikan respon.

" Permisi nona, mobil sudah siap. Apakah kita akan langsung pulang ke kediaman Devan? " Nazea menoleh ke belakang.

" Bapa pulang saja duluan. Katakan pada mama dan papa, saya pergi jalan-jalan dulu bersama Nalaka. " Mengangguk patuh, supir tersebut berlalu dari sana. Meninggalkan Nazea yang berdua dengan Nalaka.

Lain sisi, seorang pria tengah merapikan dasinya sendiri. Setelahnya, ia kembali menatap layar laptop yang terus menyala. Duduk diantara keramaian banyak orang tidaklah membuat ia lepas dari benda yang terus menampilkan layar itu. Sesuai meeting barusan, Shaka tidak berniat untuk cepat pergi. Ia masih duduk nyaman di tempatnya sekarang.

Lagi pula Shaka berada diruang VIP, dan tidak akan ada yang mengganggu keheningannya. Dua tahun belakangan ini Shaka sangat jauh dari dirinya yang dulu. Ia tidak pernah lagi mau berkumpul dengan teman-temannya seperti dulu atau bahkan hanya untuk berkunjung ke markas All Stars saja Shaka sangat jarang. Lagi pula dirinya sudah bukan lagi ketua dari komplotan geng motor itu.

Ya, Shaka memilih untuk mundur karena rasa bersalahnya setelah semua yang terjadi. Dan, inilah Shaka yang sekarang. Ia hanya melanjutkan hidupnya bersama kekosongan dan berharap takdir mempertemukan ia dengan seseorang itu. Seseorang yang masih tercatat dihatinya sampai sekarang, mungkin juga selamanya.

SECRET | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang