Dendam dan Cinta?
Keduanya merupakan hal yang berbeda. Dua kekuatan yang bertolak belakang namun sama-sama menghancurkan. Mereka seperti dua arus yang berlawanan, namun membawa perubahan yang tidak terduga. Ketika keduanya hadir diwaktu yang tidak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pandangan itu, tak teralihkan sedikitpun. Keheningan yang melanda menjadi saksi kedekatan mereka. Diam, masih diposisi yang sama. Sorot matanya berbeda, itu bukan pandangan biasa, tapi lebih dari itu. Ada setitik rasa di dalamnya yang tak bisa dijelaskan. Rumit, dan mungkin butuh banyak waktu untuk disampaikan.
Sadar akan posisinya sekarang, Nazea menegakkan tubuhnya. Berdiri kaku tidak jauh dari Shaka.
" Makasih.. "
" Sorry. " Keduanya terdiam kembali, saat tanpa sengaja mereka berucap bersamaan.
Nazea menolehkan kepalanya, menghindari kontak mata dengan Shaka yang menatapnya. Hembusan napasnya terdengar berat, walaupun tidak sejalas itu. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencerna dengan apa yang telah terjadi beberapa menit lalu.
Tau akan keadaan sekitar yang tidak mendukung, Nazea melirik Shaka sebentar. Tangannya terkepal erat dengan kedua bola matanya yang sedikit memerah. Gadis itu memilih pergi, meninggalkan Shaka yang masih melanjutkan hukumannya.
Ini, memberikan dampak pada tubuhnya. Dia tidak bisa menahan, ini sakit.
Sedang Shaka, dia membalikkan tubuhnya. Membiarkan Nazea pergi tanpa bertanya apapun. Mungkin Shaka terlalu peka, dia seperti merasakan sesuatu yang sedang terjadi. Bukan canggung atau bahkan salting, tapi ini berbeda. Rasanya kejadian tadi adalah sebuah kesalahan yang bahkan tidak disengaja.
Mungkin jika boleh bertanya Shaka akan melakukan itu. Entah mengapa hatinya seolah berkata bahwa ada suatu hal yang akan terjadi. Dia terus menatap Nazea, hingga semakin lama punggung gadis itu sudah tak terlihat lagi. Tatapannya tak teralih, diam dan hanya satu titik yang dia lihat. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyuman yang nyari tidak terlihat.
☆
" Lo itu niat nyapu nggak sih, Alfan? "
Menoleh pelan, Alfan menatap seseorang yang bertanya padanya barusan. Memutar bola matanya malas dan tersenyum paksa. " Kalau nggak niat gue udah diem sambil pegang sapu dan liatin lo doang. "
" Alahh, ngeles aja terus, " sewot Nazia, memandang Alfan dengan sinis.
" Heh, lampir! Gue bukan ngeles tapi, ngomong fakta. "
Nazia melototkan matanya tak percaya, lampir katanya?
" Buta ya mata lo? Gue cantik imut kayak gini, lo bilang lampir?! " tanya Nazia dengan satu tangannya yang ditaruh di pinggang.
" Imut, kalau diliat dari lubang sedotan, " jawab Alfan. Dia melanjutkan nyapunya dengan cepat hingga dedaunan itu semakin berantakan.
" Dihh, awas aja kalau sampai nanti lo malah mendadak suka sama gue! " ujar Nazia. Bukannya lanjut menyapu, gadis itu justru duduk di kursi taman.