[REVISI]
Dendam dan Cinta?
Keduanya merupakan hal yang berbeda. Dua kekuatan yang bertolak belakang namun sama-sama menghancurkan. Mereka seperti dua arus yang berlawanan, namun membawa perubahan yang tidak terduga. Ketika keduanya hadir diwaktu ya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Bos, bukannya penerus Aderfia mati karena kasus pembunuhan? " tanya salah satu anggotanya.
" Pembunuhan? "
" Aderfia pernah bubar karena penerusnya yang mati dibunuh. "sahut Zidan.
Shaka memijat pangkal hidungnya prustasi. Terlalu banyak hal yang terjadi setelah ingatannya yang hilang. Mungkin kesialan sedang berhadapan dengannya sekarang. Membuatnya prustasi dan bodoh secara bersamaan.
" Lu ga perlu maksa untuk inget semuanya sekarang," ujar Zidan, ia tau pastinya Shaka tengah memaksakan diri untuk mengingat ingatannya kembali.
Lelaki itu hanya diam sebagai respon. Matanya justru menelusuri ke berbagai sisi, mencari seseorang yang ia cari.
" Zea lagi di toilet. Dia minta gue untuk pergi duluan," ucap Nazia.
Setelahnya, mereka semua menikmati acara. Mengobrol hingga tertawa seperti biasa. Hingga tanpa sadar Nazea tak kunjung kembali setelah sekian lama. Bahkan ketiga temannya juga tidak kembali sebab mempunyai urusan lain. Sedangkan Nazia, ia tidak ikut karena sudah jelas ke-limanya sedang tidak baik-baik saja.
" Puaslah tertawa, karena sebentar lagi penderitaan akan kembali. " Batin seseorang diujung ruangan sana.
Sejak tadi seseorang itu selalu mengintai mereka. Mengawasi setiap gerak-gerik yang dilakukan hingga menguping pembicaraan disana. Jelas, mereka semua tidak ada yang menyadari bahwa alat perekam suara sudah tertempel dibalik meja.
☆
Suara ketukan heels menggema disetiap lorong. Memenuhi kegelapan dan kesunyian dengan rembulan malam yang menemani. Wajahnya tak berekspresi, namun menyiratkan makna dibalik itu semua. Keadaannya tak terkendali, sudut bibir yang robek hingga darah yang telah lama mengering. Surai rambut yang berantakan serta pelipis yang mengeluarkan darah segar.
Gadis itu, ia tetap berjalan anggun. Menikmati segala kesakitan di sekujur tubuhnya. Sudut bibirnya terangkat dengan tatapan tajam yang siap memangsa. Hari ini adalah hari yang di tunggu dari sekian banyak hari yang berlalu. Segala dendam dan sakit kini menyatu menunggu tiba. Pembalasan yang akan segera dimulai.
Nazea, dirinya terduduk disebuah kursi tua disudut ruangan. Dua orang asing disampingnyanya mulai maju perlahan. Menatap dirinya menunduk yang hanya dibalas tatapan tanpa arti.
Suasananya mencekam, karena hari yang semakin malam. Kini kedua orang itu mengikatnya dengan sebuah tali tambang. Sedangkan Nazea, ia tidak memberikan sedikitpun perlawanan. Sampai akhirnya kedua orang asing itu memfotonya dari berbagai sisi. Bagikan seorang model yang sedang melakukan photoshoot, dan bak photograper yang melakukan tugasnya.