[REVISI]
Dendam dan Cinta?
Keduanya merupakan hal yang berbeda. Dua kekuatan yang bertolak belakang namun sama-sama menghancurkan. Mereka seperti dua arus yang berlawanan, namun membawa perubahan yang tidak terduga. Ketika keduanya hadir diwaktu ya...
“ Tidak semua yang terlihat baik akan selalu baik, dan jahat tidak akan selamanya jahat”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nazia berlari menyusuri setiap ruangan. Sepi dan sunyi, itulah yang menggambarkan keadaan di sana. Ia berteriak memanggil nama Nazea kembarannya. Sebelumnya ia juga sudah meminta para sahabatnya untuk mencari Nazea di tempat yang biasanya gadis itu kunjungi. Menghela nafas, Nazia terus melangkah walau emosinya juga tak kalah besar dengan Nazea. Namun untungnya, otaknya masih bisa berfikir lebih panjang di momen seperti ini.
" Pikiran sama perasaan lo, kenapa nggak pernah sejalan sih Ze?" gumam Nazia, ia berdecak sebal dengan semua kekacauan yang terjadi.
Dalam keadaan yang tak bisa di bilang baik-baik saja, Nazia hanya mampu memejamkan kedua matanya sebentar untuk menetralkan semua yang dirasakannya. Berjalan tanpa ragu Nazia sesekali melihat sekeliling berharap Nazea memang benar-benar ada di sana. Setidaknya pilihannya datang ke sini membuahkan hasil dengan adanya kembarannya itu.
Sejenak gadis dengan jaket kulit yang terpasang ditubuhnya itu menghentikan langkahnya. Memasang telinga untuk mendengar suara pecahan kaca yang terdengar samar-samar. Semakin melangkah dekat suaranya semakin jelas terdengar. Nazia tau.
Tepat di satu ruangan suara tembakan jelas terdengar. Nazia berlari menuju ruangan itu, yang sudah pasti ada Nazea di dalamnya. Ia masuk tanpa diketahui sang kembaran karena posisi Nazea yang membelakanginya. Memutar bola matanya malas, Nazia menggerakkan tangannya untuk mengambil satu benda yang masih tergeletak di meja kecil. Pistol.
Mengangkat benda berbahaya itu, Nazia memutarnya pelan dengan jari telunjuknya sambil memandangi target yang menjadi sasaran bagi Nazea barusan. Terkekeh sinis Nazia mengangkat sebelah tangannya yang menggenggam benda itu dan mengarahkannya pada target yang sama dengan Nazea. Belum ada hitungan detik pelatuk milik Nazia bergerak lebih dulu dibanding Nazea yang masih bersiap untuk melepaskan pelatuknya agar tepat sasaran.
Tepat. Tembakan yang dilakukan oleh Nazia mendarat dengan tepat sasaran karena benda yang menjadi targetnya langsung hancur berkeping-keping. Nazea? Ia membalikkan tubuhnya cepat, memandang seorang gadis yang tengah tersenyum manis dan wajah yang sama sepertinya.
" Udah, main-mainnya?" tanya Nazia mendudukkan bokongnya pada meja tadi.
Tak menjawab, Nazea kembali memusatkan pandangan ke depan tanpa peduli dengan kehadiran Nazia disana. Ia juga melemparkan benda berbahaya ditanganya itu ke sembarang arah dengan emosinya yang masih belum mereda.