[REVISI]
Dendam dan Cinta?
Keduanya merupakan hal yang berbeda. Dua kekuatan yang bertolak belakang namun sama-sama menghancurkan. Mereka seperti dua arus yang berlawanan, namun membawa perubahan yang tidak terduga. Ketika keduanya hadir diwaktu ya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di atas bukit ini, seseorang terduduk seorang diri. Retina matanya memandang langit yang berubah. Sinar senja yang akan datang menandakan matahari yang segera terbenam. Dia tersenyum, indah.
Semakin lama napasnya tercekat. Bayangan itu, berputar dalam pikirannya. Dia melirik sekeliling, sudah lama tak kemari. Tempat terindah yang menjadi sumber kebahagiaannya.
" Aku, datang kembali. "
Ucapannya lirih, nyaris tak terdengar. Menghela napas panjang, dirinya melihat kesamping.
" Kalau kamu ada disini, pasti bakalan bilang, langitnya indah Ze. "
Tanpa sadar, isak tangisnya mulai terdengar. Bahunya bergetar, menandakan tangis yang penuh sakit. Sedikit mendongak Nazea mencoba menghalangi air matanya. Sakit, namun itulah takdir. Kenangan tercipta hanya untuk diingat bukan? Tapi bukan untuk diulang.
Mengusap kasar air matanya, ia kembali tersenyum. Menegakkan tubuhnya dengan tatapan kosong tanpa makna. Tak ada ekspresi diwajahnya, yang ada hanya wajah datar penuh kebencian.
Cukup lama dalam posisi itu, Nazea menyudahinya. Memilih untuk pulang sebelum malam yang akan datang.
☆
Diantara banyaknya rak yang tersusun rapi. Nazia, gadis itu diam tepat di depan rak yang dipenuhi banyak snack. Jari telunjuknya ia taruh di dagu, mengetuk-ngetuk pelan seolah berpikir. Matanya menyipit, juga bibirnya yang sengaja dimajukan.
" Dari banyak snack disini, kenapa gue nggak bisa makan? "
" Ini tuh, udah kayak gue yang naksir berat sama Nathan tapi nggak bisa dimilikin, " lanjutnya dengan lebih dramatis.
Menghembuskan napas pasrah, ia pergi mengelilingi Supermarket. Entah apa yang dicarinya yang jelas Nazia hanya merasakan bosan. Kini dirinya berhenti diantara rak-rak yang telah tersusun rapi oleh banyaknya jenis susu.
Matanya berbinar cerah, ia mengambil salah satu kotak susu itu. " Duhh, rasanya gue pengen beli semuanya atau--"
" Ambil, gue yang bayar. "
Nada suara itu, Nazia kenal. Itu suara seseorang yang mengisi hatinya sejak satu tahun yang lalu. Dengan gerakan cepat Nazia menoleh kebelakang. Menampakan seorang lelaki tampan yang tengah tersenyum kearahnya.
" Nathan? Kok disini? " tanyanya, tentu dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
" Kenapa? nggak boleh?" Nazia menggelengkan cepat kepalanya.