36. ANTARA HATI DAN DENDAM

474 8 0
                                        

Udara dingin yang menusuk kulit, rembulan malam yang terhalang oleh awan, dan sepi yang menenangkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Udara dingin yang menusuk kulit, rembulan malam yang terhalang oleh awan, dan sepi yang menenangkan. Tatapan tajamnya tak teralih dari depan, menatap lurus dengan pikiran yang berkelana. Seseorang di belakangnya hanya diam menatap. Tak membuka suara, dan justru ikut terduduk di sebelah.

Merasakan pergerakan di sebelahnya, gadis itu menoleh. Mendapati seseorang yang ia kenal dalam hidupnya. Seseorang yang memberikan luka dan tanpa sadar juga memberikan kebahagiaan. Aneh, namun itulah faktanya.

" Kenapa? " Shaka bertanya tanpa menoleh pada lawan bicaranya.

Sedangkan yang di tanya, hanya menggeleng menjawab tidak. Dirinya beranjak, tapi sebelum itu Shaka lebih dulu berbicara.

" Makan, gue udah beli tadi. "

Gadis itu sempat berhenti sejenak, lalu tetap meninggalkan Shaka yang masih diam. Memasuki rumah dan membawa tasnya sebelah tangan.

Lagi-lagi dirinya hanya diam, membiarkan makanan di depannya tanpa sentuhan. Memori di pikirannya terulang, setelah kejadian beberapa menit lalu yang membuat otaknya terus bekerja.

Flashback

Setelah pembicaraan barusan, gadis berseragam sekolah itu keluar. Terduduk di ruang tengah dengan lamunan dan raut wajah bingungnya. Hingga beberapa detik kemudian panggilan telepon mengalihkan lamunannya. Sebuah nama tertera di layar ponsel, membuat gadis itu segera memencet tombol hijau.

" Hal--"

" Nazea, dia sudah di temukan. " Seseorang di balik telpon itu berkata dengan nada yang sedikit antusias.

" Sebentar, sebentar lagi keinginan kalian akan selesai. " lanjut seseorang di sana.

" Bang? beneran? "

" Tentu, sekarang kamu hanya tinggal memastikan semuanya. "

" Ma-makasih. "

" Apapun, untuk kalian. "

Hanya tinggal menghitung, semuanya akan berakhir.
Batin Nazea dengan senyum yang tipis.

Berbalik pada Shaka, lelaki itu masih diam di teras. Memiringkan ponsel karena sedang bermain game. Asik dengan game-nya, tanpa sadar sebuah anak panah melayang kearahnya. Shaka menunduk, mengambil anak panah itu dan menelitinya. Terdapat sebuah kertas yang menggulung panah tersebut.

Lu pembunuh Arshaka! G.
_Secret_

Tanpa ekspresi sedikitpun, lelaki itu memasukkan kertasnya kedalam saku. Menatap sekelilingnya, berharap ada orang yang bisa ia curigai. Namun nihil, tak ada satupun orang di sana selain dirinya.

Gue ga bodoh, ini semua adalah teka-teki yang harus gue tau. Apa yang sebenarnya terjadi, sebelum gue hilang ingatan?

Shaka berbatin, benar dirinya tidak sebodoh itu untuk tidak mengatahui makna di balik surat. Pembunuh? surat itu pasti tertuju padanya. Logikanya untuk apa surat itu di kirimkan padanya jika ia memang tidak bersangkutan. Dalam surat itu juga tertera, bahwa Arshaka adalah pembunuh. Jelas, pastinya suatu hal akan terjadi setelah ini.

SECRET | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang