12. SATU NASIB

1K 37 7
                                        

Bersama matahari yang bersinar terang, sosok gadis cantik dengan seragam sekolah yang melekat pada tubuhnya itu tersenyum lebar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bersama matahari yang bersinar terang, sosok gadis cantik dengan seragam sekolah yang melekat pada tubuhnya itu tersenyum lebar. Pagi ini senyuman itu terbit tak kalah terang dengan sang mentari. Nazia, gadis itu sengaja bangun lebih pagi dan berdandan yang cantik, tak seperti hari biasanya yang justru selalu telat datang ke sekolah. Bagai hari yang telah lama ditunggunya, Nazia bersenandung kecil sembari tangannya yang sibuk dengan alat-alat masak. Ya, kali ini ia bukan hanya bangun lebih awal, tapi juga sengaja pergi ke dapur untuk memasak sarapan yang akan dibawanya nanti.

Semalam, Nazia mendapatkan satu pesan dari seseorang yang mengajaknya untuk berangkat sekolah bersama dan karena itulah ia rela melakukan hal ini dengan senang hati. Sementara dibelakangnya sosok wanita sudah memperhatikannya sejak tadi. Siapa lagi jika bukan Aina, ibu dari Alfan.

" Rajin banget anak gadis pagi-pagi udah masak," ujar Aina membuat Nazia menoleh ke belakang dengan kaget.

Tersenyum kecil, Nazia menghampiri Aina dan menariknya pelan untuk mendekat. " Zia baru selesai masak, umi mau coba dulu nggak?" tanyanya dengan wajah gembira yang dibalas anggukan oleh wanita itu.

" Mau dong, umi penasaran masakan anak cantik ini," timbal Aina. Ia memasukkan sesendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya, mengangguk pelan seolah ia tengah mempertimbangkan masakan itu.

Dengan wajah yang sedikit gugup Nazia menatap wanita itu penuh harap. " Enggak enak ya, umi?" ucap Nazia bersama senyumannya yang perlahan luntur.

" Enak, enak banget malah. Gimana kalau nanti kita masak bareng, umi suka banget sama masakan kamu," kata Aina seraya mengusap rambut panjang Nazia lembut.

Terdiam kaku, Nazia hanya menatap Aina tak percaya. Senyumannya yang tadi luntur kini kembali terbit dengan tatapan bahagia yang terpancar. Awalnya, ia mengira Aina pasti tak akan menyukai masakannya itu seperti keluarganya. Bukan apa, hanya saja dulu ia pernah memasakkan seluruh anggota keluarganya untuk makan malam. Dengan banyak waktu dan bahan yang ia habiskan, masakan itu akhirnya jadi. Tapi bukannya dipuji enak, masakan itu justru harus terbuang sia-sia karena katanya terlalu asin, dan pada saat itu Nazea tak ada disana untuk membelanya. 

Ditengah percakapan Nazia dan Aina, Alfan datang menghampiri dan segera duduk didepan meja makan. Aina maupun Nazia segera menyiapkan hidangan itu dimeja sembari menunggu Gibran dan Gerdan yang datang menyusul. Setelah semuanya lengkap, mereka memakan semua masakan Nazia dengan habis. Gerdan, bahkan bocah itu sampai nambah dua kali karena katanya masakan Nazia terlalu sayang untuk tidak dihabiskan. 

" Kak, nanti masakin Gerdan makanan lagi ya?" katanya dengan mulut yang penuh dengan makanannya.

Tersenyum senang Nazia tentu saja mengangguk mengiyakan. " Iya, nanti kamu bilang aja kalau lapar, kakak pasti masakin buat kamu."

SECRET | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang