Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

3. SMA Baswara

181 11 2
                                        

Selamat membaca 🩷

***

Raygan baru saja mengganti pakaian putih abu-abunya dengan pakaian olahraga. Pagi ini kelas XII A ada kelas olahraga. Setelah menyimpan pakaiannya di dalam tas, ia melihat bangku di sebelah miliknya terdapat baju olahraga milik Vienna. Ia tak tau kenapa Vienna belum mengganti seragamnya, padahal kelas olahraga 20 menit lagi akan dimulai.

Raygan berusaha mencari sang kekasih di penjuru kelas, namun tak ada. Akhirnya ia mengecek ponselnya yang ternyata ada beberapa chat dari Vienna.

Raygan segera menyusul Vienna.

"Ray, ngapain lo di toilet cewek?" tanya Sisil, teman kelas Raygan. Sisil baru saja ingin masuk ke toilet bersama dua teman lainnya.

"Gue boleh minta tolong?"

"Minta tolong apa Ray?" tanya Bulan, teman dekat Sisil yang dari dulu menyukai Raygan. Namun ia sadar diri.

Raygan pun menceritakan maksudnya.

"Gini guys, gue mau mintol tolong aja kasih ini pembalut ke Vienna, dia ada di dalem. Sakit perut," tutur Raygan berharap salah satu dari mereka mau membantunya.

Baru saja Sisil ingin menjawab, Bulan lebih dulu bersuara.

"Ya ampun, Ray!" Bukannya segera membantu. Bulan malah memukul bahu Raygan. "Lo perhatian banget sih jadi pacar! Gue mau deh cowok yang kayak lo gini!"

Hubungan Raygan dan Vienna memang sudah diketahui hampir semua penghuni SMA Baswara. Bahkan banyak yang men-support mereka sebagai pasangan favorite di SMA ini. Namun karena Raygan sangat populer di sekolah, tak jarang Vienna mendapatkan perkataan iri dari siswi yang mengagumi Raygan.

"Dasar Bulan," celetuk Mira yang langsung menoyor kepala Bulan.

Raygan hanya terkekeh lalu berucap, "Si Juan kemarin bukannya nembak lo ya, Lan?"

"Ogah gue sama Juan, Ray!"

"Jangan terlalu nggak suka gitu, Lo. Nanti kemakan omongan sendiri," balas Raygan kembali tertawa. Sisil dan Mira pun ikut menertawai Bulan yang sekarang cemberut dinasehati Raygan.

"Sini Ray pembalutnya. Gue kasih ke Vienna." Sisil akhirnya membantunya.

"Thanks, ya," ucap Raygan, disusul anggukan oleh Sisil.

*

Vienna tersenyum lega setelah mendapatkan bantuan. Ia segera membersihkan diri lalu menemui Raygan yang menunggunya di luar.

Saat Vienna membuka pintu, Raygan tidak menyadarinya, laki-laki itu memandang sekeliling sambil berkacak pinggang. Vienna melihatnya dari arah samping. "Ganteng banget sih," kata Vienna mengecilkan suaranya.

Vienna melihat kondisi tidak terlalu ramai. Ia akhirnya berniat berbuat iseng pada pacarnya.

Vienna melangkah perlahan agar suara langkahnya tidak terdengar oleh Raygan.
Vienna menutup mata Raygan dari belakang. Raygan spontan terkejut lalu memegang tangan Vienna yang menutup matanya, ia tersenyum-senyum sendiri dengan tingkah Vienna yang seperti ini.

"Vien, gue tau itu Lo."

"Yahh, kirain nggak tau haha."

Raygan akhirnya berbalik, namun masih tetap memegang tangan Vienna.

"Perutnya gimana?" tanya Raygan sedikit cemas.

"Aman kok, udah biasa begini kan."

Raygan membalasnya dengan senyum, lalu menepuk-nepuk kepala Vienna seperti anak-anak.

Vienna (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang