Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

26. Hari Pertunangan

119 7 0
                                        

Vienna'S POV

Aku menatap pantulan diriku pada cermin panjang di depanku. Dress dengan ekor panjang membuat penampilanku tampak glamor. Namun kurasa ini terlalu terbuka untukku, bagian atas tidak menutupi leherku yang jenjang. Aku pun tidak bisa merancang dress sesuai kesukaanku karena pertunangan ini sangatlah tiba-tiba. Aku jadi merindukan Tante Ana yang selalu tau selera fashionku. Ah, aku jadi teringat masa-masa dimana aku masih menikmati poseku di depan camera.

Tante Mulan datang memecah lamunanku yang sedang berkelana jauh ke momen indah. Tante Mulan meraih tanganku untuk membantuku berjalan, aku sangat bersyukur sudah terlepas dari kursi roda meskipun aku akan terus merepotkan orang-orang di sekitarku sampai kakiku benar-benar dapat membuatku berdiri kokoh.

Semua orang memusatkan pandangan padaku saat aku sudah duduk di kursi yang sangat indah. Aku menanti Tante Mulan untuk duduk di dekatku karena aku merasa sangat malu menjadi pusat perhatian seperti ini. Tapi Tante Mulan tidak melakukannya. Di malah mengatakan kalimat yang membuatku tambah gugup.

"Calon jodohmu akan duduk di sini bersamamu, Sayang. Astaga! Kamu sangat cantik!"

Beberapa saat waktu berlalu, keluarga Kevin pun datang. Aku mengeratkan peganganku pada kursi karena detak jantungku semakin tak terkendali. Lebih tepatnya, aku tidak menyangka hari seperti ini akan secepat itu tiba dalam hidupku. Baru saja aku mengucapkan selamat tinggal pada Kevin, sekarang aku dipertemukan kembali dengannya sebagai calon jodoh. Apakah memang dunia sesempit ini?

Aku harus mengakui dengan jujur kalau Kevin sangat tampan dengan setelan jasnya saat ini. Dia melangkah dengan senyumnya yang terus merekah hingga duduk di sampingku. Aku mendengarnya mengatakan bahwa aku terlihat cantik, tapi aku hanya diam dan tidak menjawabnya, bahkan tidak menoleh ke samping, sungguh canggung yang kurasakan.

"Vienna, bagaimana penampilanku?"

Aku terkejut mendengar perubahan panggilannya padaku. Aku pun membalasnya juga.

Tanpa menatapnya lagi, aku berkata, "Kamu cocok dengan jas itu, tampan."

"Kamu bahkan tidak menatapku saat mengatakannya, Vien," ucap Kevin terdengar sedikit kecewa.

Panggilan Aku-Kamu memberikan sensasi aneh tersendiri bagiku. Suasana di antara kami berdua menjadi hening sampai dimana Kevin tiba-tiba meraih tanganku, membawanya pada genggamannya. Aku tidak mencegahnya karena merasa harus terbiasa dengan Kevin sekarang, meskipun aku tidak menyimpan perasaan apa pun padanya. Di dalam hatiku, sepenuhnya masih Raygan. Aku sangat merindukannya. Aku harap dia baik-baik saja.

Kevin masih belum melepaskan tanganku pada genggamannya.

"Vienna, biarkan ini berlangsung sebentar," tuturnya semakin mengeratkan genggamannya.

"Kamu tau, hari ini adalah hari yang paling kunantikan terjadi dalam hidupku. Meskipun aku tak pernah menduganya."

Aku hanya terus diam menyimak apa selanjutnya yang akan dia katakan.

"Aku tahu, Vien. Matamu jelas menunjukkan bahwa bukan aku orangnya yang kamu inginkan berada di sini."

Ketika Kevin selesai mengatakan itu, lantas aku menatapnya dengan tatapan senduku. Aku harus bagaimana lagi, memang aku tidak bisa memaksakan diri untuk mengubah perasaanku dalam satu malam. Ini membuatku jadi emosional sehingga air mataku lolos. Aku langsung mengusapnya, takut menjadi perbincangan semua orang.

Kevin jelas melihatku menangis. Dia pun melepaskan tanganku, menuntunnya ke pangkuanku, kembali pada posisinya sedia kala.

"Vienna, kesedihanmu adalah kesedihanku juga. Aku bisa saja melanjutkan ini untuk kebahagiaanku sendiri, tapi seseorang lebih berhak bahagia bersamamu. Kamu juga berhak bahagia bersama dengan orang yang kamu inginkan."

Vienna (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang