Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

4. Siswa Pindahan

152 10 2
                                        

Flash Back ON

2 tahun yang lalu,

Jumat pagi, para orang tua siswa hadir di acara perpisahan murid kelas IX SMP Ki Hajar Dewantara. Semuanya kompak dengan dress code merah yang telah diberitahukan sebelumnya oleh pihak sekolah.

Setiap siswa tengah bersama dengan orang tuanya sembari menunggu acara perpisahan dimulai. Ada yang menyempatkan berfoto sebelum acara berlangsung, ada yang tidak sabar menanti pengumuman juara umum, ada juga yang masih sibuk memoleskan bedak pada wajah agar tetap tampak sempurna sampai acara berakhir.

Di tengah semua kesibukan hadirin di acara itu, tampak seorang anak laki-laki yang masih menunggu salah satu orang tuanya datang. Sama sekali tak berharap orang tuanya datang lengkap, sebab adiknya, Vienna, sedang dirawat dengan intensif di salah satu rumah sakit yang jauh dari SMP ini. Ayah atau Mamanya saja yang datang, ia sudah sangat bersyukur. Namun tak lama lagi, MC akan memulai acara dengan resmi.
Sementara orang tuanya tak kunjung mengangkat telepon, ia hanya ingin tau apakah sudah dalam perjalanan ke sekolah atau tidak.

"Plis, Yah. Angkat telepon Venzo."

"Nak, orang tua kamu sudah ditelpon?" tanya salah seorang gurunya yang meminjamkan ponsel kepada Venzo.

"Belum nih, Bu. Nggak tau juga kenapa nggak diangkat Bu."

"Telepon terus aja, Nak," ucap gurunya dengan senyuman agar Venzo tak putus asa.

Telepon terhubung

Halo, dengan siapa, ya?

Ayah! Udah di jalan, Yah?

Venzo, Nak. Mama kamu udah jalan kesitu kok dari tadi.

Kok belum nyampe sih, Yah.

Sabar ya, sepertinya bentar lagi sampai, Sayang. Tunggu Mama ya. Ayah tutup dulu, adikmu butuh sesuatu.

Telepon berakhir.

Ibu guru yang dari tadi memperhatikan Venzo bicara di telepon segera menghampiri Venzo. "Bagaimana Venzo? Ortu kamu bilang apa, Nak?"

"Katanya sih, Mama saya udah di jalan, Bu."

"Oh baguslah Alhamdulillah. Tunggu di dalam ruangan aja, yuk. Sebentar lagi juga dateng kok. Ini juga udah mau hujan, kalau nunggu di luar nanti kamu kehujanan."

"Saya tunggu di sini aja, Bu. Nanti saya nyusul masuk sama Mama saya," kekeh Venzo.

"Sebelum hujan, kamu harus masuk, ya."

'I-iya Bu."

Saya hanya akan masuk kalau Mama saya datang.

Tiga puluh menit berlalu sejak acara di aula dimulai, Venzo masih tetap berdiri dengan baju sekolah yang sudah basah kuyup karena derasnya air hujan.

Flash back OFF

***

Vienna'S POV

Aku di perpustakaan sejak tiga puluh menit yang lalu. Hari ini aku berangkat lebih awal karena Venzo mengajakku berangkat bersama ke sekolah. Aku tidak tahu dia tersambar apa tiba-tiba ingin berangkat pagi-pagi buta. Dia malah pergi ke tempat lain setelah menurunkanku di depan gerbang. Pasti dia ke markas gengnya. Aku sudah berusaha menolak untuk tidak berangkat bersamanya, jika aku keras kepala maka dia lebih keras kepala seperti Ayahku, jadi kali ini aku mengalah dari pada berdebat dengannya dengan mood-ku yang tidak baik gara-gara sedang dapat bulanan.

Aku segera menghubungi Raygan untuk tidak menjemputku pagi ini. Tentang Raygan, aku mempercayainya lebih dari aku mempercayai diriku sendiri. Dia menjagaku, melindungiku, dan selalu ada di pihakku selama ini. Aku tidak punya alasan untuk tidak bersyukur memilikinya di hidupku.

Vienna (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang