Seorang anak SMP berdiri di tengah lebatnya hujan yang mengguyur tubuhnya. Jas biru langit yang selalu ia nantikan untuk memakainya di hari perpisahan sekolahnya sudah kotor terkena percikan air hujan bercampur tanah. Ia mengusap dada berusaha untuk menahan kesedihan yang tak terbendung lagi. Baginya, anak laki-laki seharusnya tidak mudah menangis seperti anak perempuan.
Di lain tempat, tepatnya di Aula Sekolah, acara perpisahan kelas IX sudah berlangsung sejak tiga puluh menit yang lalu. Dimulai dari pembukaan oleh pembawa acara yang dibawakan oleh anggota OSIS sekolah, dan sekarang sedang berlangsung sambutan dari kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bagian akademik.
Para guru mata pelajaran sedang menikmati acara yang sedang berlangsung. Lain halnya dengan wali kelas Venzo, yang terus mencari keberadaan salah satu anak walinya itu. Dia mulai mencari di dalam aula lalu ke belakang panggung, kemudian sampai akhirnya dia mendapati motor milik Venzo sudah tidak ada di parkiran.
Venzo membelah jalan raya dengan kecepatan tinggi, dengan hujan yang terus turun seolah sangat rindu membasahi bumi. Pikirannya kacau dan begitu merasa kecewa dengan orang tuanya yang tidak hadir pada acara penting baginya. Ia tidak cemburu bahwa adiknya, Vienna, mendapatkan kasih sayang lebih dari orang tuanya saat ini karena sedang sakit, namun hari ini, rasanya begitu menyakitkan baginya melihat teman-temannya didampingi oleh orang tuanya.
Venzo terus menambah kecepatan motornya hingga maksimal. Menuju perempatan jalan, dari arah barat terdapat mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, begitupun dari arah timur terdapat mobil besar dengan angkutan barang berlabelkan perusahan ternama di kota ini juga melaju dengan kecepatan tinggi.
Posisi motor Venzo berada diantara kedua mobil tersebut, dia dari arah selatan. Karena lebatnya hujan yang membasahi helmnya, menghalangi penglihatannya pada jalanan. Juga, ditambah pikirannya yang kacau membuat Venzo tidak fokus mengamati pengendara lainnya, sehingga bencana menimpanya, terjadi kecelakaan besar saat itu. Sejak saat itu, Venzo mengalami trauma untuk mengendarai sepeda motor kembali. Ia berusaha melawan traumanya selama ini, salah satunya dengan membentuk Platoz.
Napas Venzo memburu saat terbangun dari tidurnya. Mimpi itu terus datang menyiksanya selama hampir 3 tahun lamanya. Bambang langsung memberinya segelas air saat melihat wajah Venzo yang sekarang tiba-tiba pucat. Benar, Venzo sedang berada di markas Platoz.
"Lo kenapa, Zo?" Jio langsung menghampiri tempat dimana Venzo dan Bambang berada.
"Gue mimpi buruk."
"Mimpi buruk di siang bolong begini?" Itu suara Bambang.
Venzo mengangguk.
"Mimpi apa lo? Jangan bilang ketemu si Sean, calon penghuni neraka itu!"
"Ya bukanlah. Itu sih lebih seram dari pada mimpi gue," guraunya.
"Kalau lo ada masalah, Zo. Cerita cerita aja sama kita. Dari pada kebawa sampai ke mimpi," ucap anggota Platoz yang lain.
"Gue banyak masalah hidup. Kalian juga punya, kan? Mau nambah lagi denger masalah gue?" tanya Venzo setelah menyiram wajahnya dengan botol air.
"Gue cuma ada masalah diperut sih, Zo. Kadang tengah malam kelaperan. Subuh kelaparan lagi. Bahkan setelah gue sarapan nih, ye, gue laper lagi! Seriusan, coy!" Bambang mulai menceritakan masalah perutnya.
"Yaelah Bam!" Rabbu melempar topinya ke wajah Bambang.
"Lo juga punya masalah kali, Bang! Skripsi lo udah mau seumuran sama ponakan gue!" Bambang membalas Rabbu.
"Diem nggak lo!" Rabbu sudah berusaha untuk mengalihkan pikirannya sejenak dari tugas negaranya yang sudah lama ia abaikan itu. Namun Bambang malah mengingatkannya lagi.
"Bang. Mending lo lanjut kerja lagi skripsinya. Nggak ngumpul sementara bareng kita, bukan masalah kok. Intinya gue harap lo bisa cepet lulus Bang, biar bisa cari kerjaan juga," tutur Venzo menyuarakan sarannya kepada seniornya, Rabbu.
"Iya Zo, gue udah janji sama Nenek gue, gue bakalan lulus. Cuman belum waktunya aja," ucap Rabbu sambil tersenyum singkat. Venzo memang selalu peduli pada anggota gengnya.
"Belum waktunya aja," ulang Bambang mengejek.
Venzo dan Jio terkekeh sebentar melihat kelakuan teman-temannya. Jio adalah yang paling dekat dengan Venzo disini. Di Platoz, tidak ada struktur kepengurusan geng secara khusus. Namun semuanya senang dan sepakat jika Venzo yang menjadi ketua mereka.
"Zo, gue kemarin lihat geng Cakrawala sama seseorang yang nutup diri gitu," tutur Jio.
"Maksud lo nutup diri?" Venzo menjadi bingung.
"Maksud gue orang itu bareng geng Cakrawala tapi dia pakai masker, pakai kaca mata, seolah nggak mau nunjukin siapa dia." Jio kembali menjelaskan.
Venzo mengerutkan kening, lalu berpikir sejenak.
"Pakai jaket cakrawala? Motor khas Cakrawala?" tanya Venzo memburu.
Jio terdiam sebentar, berusaha mengingatnya.
"Pas pertama gue lihat sih pakai jaket, tapi pas dia keluar lagi udah nggak pake. Aneh kan. Apa dia mata-mata yang dipersiapkan sama Sean buat ngawasin kita?"
"Menurut gue bukan, sih. Cakrawala selama ini selalu main terang-terangan."
"Kalau motornya gimana?" tanya Venzo lagi.
"Orang itu naik mobil mewah. Gila sih, itu mobil terlihat mahal banget!"
"Sebenarnya gue malas buat cari tau, Jio. Tapi ini bikin gue penasaran banget siapa orang itu. Gue bakalan selidiki."
"Gue juga, Zo."
***
Jeff menatap tajam pada papan gabus berisi foto yang tertempel di dinding kamarnya. Terpancar aura kemarahan dari pucuk matanya. Di tangan kirinya terdapat foto sosok wanita cantik, serta foto sosok laki-laki yang lebih tua darinya yang sudah tertempel fotonya di papan foto. Sementara foto wanita itu yang baru saja dicetaknya baru saja akan ia tempel ke papan.
Sudut bibirnya ia tarik saat foto wanita itu sudah bersanding dengan foto laki-laki tepat di sebelahnya, pada papan.
Dia pun mengambil satu foto lagi di meja, yang baru ia cetak juga, berisi foto selfie-nya dengan wanita yang sama tersebut. Jeff menatapnya begitu lama, sampai dimana tangan kanannya mengambil gunting lalu memotong foto berukuran 4R tersebut, dengan membagi dua antara dirinya dengan wanita tersebut.
Setelah membuang kedua potongan foto tersebut ke tempat sampah yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri, Jeff memejamkan matanya. Air matanya perlahan menetes di pipi, tapi hanya di mata kanannya, kemudian segera ia usap dengan kasar dan cepat, air mata itu hanya membuatnya menjadi lemah. Dalam otaknya, berputar mengingat momen-momen bersama kedua orang yang dicintainya, yang sudah lama meninggalkannya sendiri di dunia ini.
Kehidupannya selalu sempurna, semua berjalan sesuai apa yang dia inginkan. Semuanya baik-baik saja sebelum hari kehilangan itu tiba.
Perlahan ia membuka mata, kembali menatap foto dua orang tersebut dengan tatapan marahnya.
"Kalian berdua tak berhak bahagia," ucapnya dengan nada lambat.
***
Ada yang ingin kamu sampaikan? Komen yaa
*
Terima kasih sudah membaca, semoga suka yaa.🫶
Jangan lupa vote hehe
Sampai jumpa besok di next part. Semakin mendekati konflik
8 Juli 2024,
Marentiya
KAMU SEDANG MEMBACA
Vienna (Completed)
Novela JuvenilIni tentang kehidupan Vienna, memiliki saudara bernama Venzo, ketua geng motor Platoz. Semuanya menjadi tidak baik-baik saja saat Vienna selalu ikut campur pada kehidupan kakaknya. Terlebih, geng Cakrawala yang merupakan musuh geng Platoz mengincar...
