Kevin mempercepat langkahnya setelah memarkirkan motor barunya di halaman rumah sakit. Ia sangat shock mendengar berita kecelakaan tentang keluarga Vienna. Ia sempat menitikkan air matanya, tidak kuat jika seandainya ia ada di posisi Vienna. Namun, ia harus terlihat kuat untuk menemani Vienna ketika sadar nanti.
Kevin hampir sampai di ruangan Vienna sedang ditangani, ia memandang polisi yang berpapasan dengannya, ia yakin itu pasti teman kerja Rafis, Ayah Vienna, di kantor polisi.
"Permisi, korban kecelakaan semalam yang meninggal, ada di ruangan sebelah mana, ya?" tanya Kevin pada salah satu perawat berhijab yang sedang mendorong seorang pasien anak remaja di kursi roda.
"Lurus saja kesana, paling ujung, Mas," jawabnya kemudian berlalu.
Kevin berniat ingin pergi ke ruang mayat dimana jenazah Venzo, Rafis, dan Milena ada di sana, sebelum melihat kondisi Vienna. Kevin sudah memegang gagang pintu, ia melihat seseorang di dalam yang sedang meracau dengan omongannya sendiri, juga menangis. Kevin bisa menebak siapa orang itu, suaranya jelas menunjukkan bahwa dia adalah Raygan. Kevin pun hanya membuka pintu untuk membuat sedikit cela agar dia bisa mendengar dengan jelas apa yang Raygan katakan di dalam sana.
Raygan berbicara kembali di sela-sela isaknya.
"Saya baru menyadari sekarang, Om, Tante."
"Bahwa saya benar-benar mencintai putri kalian."
"Dulu, saya memang ingin melenyapkannya, untuk membalaskan rasa sakit saya selama ini tanpa orang tua."
"Tapi, setelah melihat dia terluka, hati saya lebih sakit. Saya tidak bisa melihatnya terluka."
"Saya memang bodoh karena terlambat menyadari apa yang sebenarnya ada dalam hati saya."
"Saya akan berusaha kembali, Om Rafis. Saya tidak akan membuat Om kecewa lagi pada saya kali ini. Izinkan saya untuk menjaganya setelah kepergian kalian. Saya tidak berharap kalau Vienna tidak membenci saya. Saya hanya ingin berjanji untuk menjaganya."
"Bang Venzo, pergilah dengan damai. Gue sudah menyadari kesalahpahaman yang terjadi tentang kecelakaan itu di masa lalu. Gue ikhlas sekarang. Gue akan jaga adik lo yang selalu lo jaga selama ini. Bahkan dari gue sendiri."
"Gue akan bantuin lo." seru Kevin yang langsung masuk. Raygan menghapus air matanya dengan cepat namun tangannya dihentikan oleh Kevin.
"Lo boleh nangis kalau lagi sedih. Nggak ada yang melarang lo," tutur Kevin, matanya juga berkaca-kaca sekarang.
"Jeff, kecelakaan ini bukan karena suruhan lo, kan?"
"Sean penyebab semua ini. Terserah lo mau percaya atau tidak!"
"Sean? Kenapa dia?" tanya Kevin lagi, dia cukup bingung dengan semua ini.
"Dia membenci Vienna. Gue mengeluarkan dia dari geng karena membuat Vienna celaka tertembak." Raygan mengatakan itu sambil menunduk, ia tidak mau Kevin melihatnya menangis.
"Jeff, gue tau situasi ini sangat rumit. Akan susah untuk mendapatkan maaf dari Vienna. Gue akan bantu."
"Sejak kapan lo baik? Dan bagaimana dengan cinta lo itu?" Raygan menatap serius pada Kevin.
"Lo salah. Gue bukan nyerah untuk dapat cinta gue. Tapi ternyata takdir harus membawa gue jauh dari orang yang gue cintai. Gue akan pindah ke luar negeri minggu depan. Gue sedih karena harus merelakan lagi Vienna buat lo untuk kedua kalinya."
"Gue akan bantu lo untuk dapat maaf kalau lo bisa buktikan ketulusan lo sama Vienna. Buktikan. Kalau lo udah berubah dan tidak menyimpan dendam masa lalu lagi. Gue tau siapa lo Jeff, gue udah bareng lo selama ini, gue butuh bukti."
"Lo denger ucapan gue di kamar mayat ini. Sumpah gue merasa malu banget Lo harus liat gue nangis. Bukti yang bagaimana lagi?"
"Bubarkan cakrawala," jawab Kevin.
***
Raygan dan Kevin berada di ruang rawat Vienna sekarang. Kondisinya perlahan membaik namun dokter harus menyampaikan kabar buruk bahwa kedua kakinya dinyatakan mengalami kelumpuhan sementara. Kedua laki-laki itu menangis namun saling membelakangi satu sama lain. Mereka berdua sangat sedih dengan kenyataan pahit dan kehilangan luar biasa yang akan segera Vienna ketahui saat sadar. Apalagi bekas luka tembaknya saja masih sangat sakit.
Vienna perlahan menggerakkan jemarinya, keningnya mulai berkerut, ia mengangkat tangan satunya lalu memegang kepala. Kevin dan Raygan lantas mendekat menanti Vienna membuka mata.
"Vienna," sebut Kevin saat Vienna sudah sadar.
"Kevin. Gue sakit apa?"
"Lo kecelakaan, Vienna."
Kepala Vienna pusing setelah mengingat kecelakaan yang menimpanya semalam. Lalu, tiba-tiba dia membuka infusnya dan meneriakkan nama Ayah, Mama, dan Venzo sambil menangis dan menahan sakit pada bahu kirinya. Kevin segera menahan tubuh Vienna untuk mencegahnya bangun dari tempat tidur.
Vienna pun menatap Kevin karena tidak merasakan apa-apa pada kakinya.
"Kevin," panggil Vienna.
"Kaki gue?" Vienna membuka selimut dengan cepat. Memegang kedua kakinya yang aneh karena tidak merasakan apa-apa di sana.
"Ini kaki gue kok mati rasa?"
Kevin dan Raygan menangis kembali, tak sanggup mengatakan yang sebenarnya. Dokter pun datang karena dipanggil oleh suster sebab Vienna sudah siuman. Dengan berat hati, dokter cantik itu menarik nafas panjang lalu mulai menjelaskan kepada pasiennya kondisinya saat ini dan kondisi korban kecelakaan lainnya yang bersamanya, tak lain adalah keluarganya sendiri.
"Vienna, kamu mengalami kecelakaan hebat semalam. Sekarang, kamu berada di rumah sakit kami. Polisi menyampaikan, mobil yang kamu tempati bersama tiga orang korban lainnya meledak setelah terguling di aspal. Kamu harus bersyukur selamat dari kecelakaan maut itu. Namun, kamu yang sabar, ya, Sayang, karena kedua kaki kamu mengalami kelumpuhan untuk sementara waktu."
Dokter tersebut menelan ludahnya lalu berbicara kembali. Dengan berusaha bersikap tegar, dokter tersebut berucap, "Dan kami turut berduka cita atas meninggalnya Ayah, Mama, dan Kakak kamu."
"DOKTER! DOKTER INI BILANG APA?"
Vienna menutup wajahnya dengan kedua tangan, air matanya mengalir deras. Kehilangan tiga orang sekaligus, kehilangan tiga orang yang sangat disayanginya menjadi rasa sakit yang paling pedih di hidupnya. Dokter itu segera memeluk Vienna sangat erat. Suster yang berdiri di sana pun ikut menangis. Keduanya merasa sangat kasihan pada Vienna, kehilangan orang-orang tersayangnya di usia muda, dan tidak ada keluarga terdekat lagi untuk menghiburnya. Kevin ikut menangis lalu menenangkan Vienna dengan mengusap rambutnya.
Sementara dia, Raygan, memilih keluar dari ruangan itu. Setelah menutup pintu dengan rapat, ia terduduk di kursi, kepalanya menengadah ke atas sambil menyentuh di dinding di belakang. Air matanya mulai mengalir, tak sanggup melihat Vienna dengan rasa sakit kehilangan yang ia rasakan. Raygan jadi teringat bagaimana rasa pedih yang sama dulu dia rasakan saat kehilangan kedua orang tuanya. Air matanya semakin turun, rasa sedih Vienna lebih parah darinya karena kehilangan tiga orang tersayang sekaligus di waktu yang bersamaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vienna (Completed)
Teen FictionIni tentang kehidupan Vienna, memiliki saudara bernama Venzo, ketua geng motor Platoz. Semuanya menjadi tidak baik-baik saja saat Vienna selalu ikut campur pada kehidupan kakaknya. Terlebih, geng Cakrawala yang merupakan musuh geng Platoz mengincar...
