Raygan mendorong kursi roda, menuntun arah untuk sampai ke mobilnya. Hari ini adalah keberangkatan Kevin ke Canada, Vienna ingin menemui Kevin untuk terakhir kali sebelum cowok itu pergi. Kevin sudah banyak membantunya selama di rumah sakit, begitu juga Raygan meskipun hubungannya dengan Vienna belum kembali seperti biasa.
Setelah sampai di samping mobil. Raygan menggendong Vienna, mengangkatnya dari kursi roda lalu mendudukkan di kursi mobil dengan nyaman, Raygan pun meletakkan kaki Vienna di posisinya dengan sangat hati-hati. Vienna merasakan jantungnya mulai berdetak dengan ritme cepat, sebuah senyum ia ukir sebentar di bibirnya. Ia masih merasakan perasaan yang sama untuk Raygan, namun kondisi sekarang sudah berbeda.
"Aman?" tanya Raygan, ikut masuk juga ke dalam mobil.
Vienna mengangguk.
Jantung gue tidak aman, Ray. Kata Vienna dalam hati.
Raygan membantu Vienna untuk memakai sabuk pengamannya lalu mulai melajukan mobil ke bandara. Selama di perjalanan menuju bandara tak banyak percakapan antara keduanya. Raygan merasa canggung, begitu pun juga Vienna yang tak tau harus membahas topik apa.
Tiga puluh menit perjalanan berlalu, mereka sudah sampai di bandara dan Raygan sudah menghubungi Kevin untuk mencari posisinya. Vienna kembali berada dalam gendongan Raygan lalu mulai mendorong kursi roda Vienna setelah Vienna duduk di sana.
"Maaf merepotkan banget," celetuk Vienna di sela-sela keheningan mereka.
"Ini terakhir kali lo bilang begitu, ya," peringat Raygan. Ia tidak ingin Vienna berpikir seperti itu bahwa merepotkannya.
Vienna lagi-lagi merasakan kupu-kupu sedang terbang di perutnya dengan damai. Ia sungguh merindukan Raygan yang seperti ini.
Kevin melambaikan tangannya lalu berteriak, "Di sini!". Raygan pun memutar balik arah mereka setelah mendengar suara Kevin ada di belakang.
"Vienna, lo baik-baik aja, kan?" kata Kevin setelah Vienna sampai di depannya dengan kursi roda.
"Baik. Raygan selalu jagain gue." Raygan menjadi salah tingkah mendengar kalimat Vienna.
"Jangan-jangan kalian udah?" Kevin hanya berbicara sepotong. Sengaja menggoda mereka berdua, apakah mereka sudah balikan.
"Gue sama Raygan tidak pernah bilang 'putus' kok!" Tiba-tiba saja Vienna berkata demikian. Itu seakan memberi sinyal terang pada Raygan untuk mulai memperbaiki semuanya.
"Jeff, itu Vienna udah kasih kode," tutur Kevin lalu tertawa sendiri. Dari dulu, Kevin sudah terbiasa memanggil nama Raygan dengan itu. Vienna menunduk malu, ia menepuk jidatnya, kenapa kalimat itu yang harus keluar dari mulutnya. Itu akan membuatnya seperti orang yang berharap.
"Oh iya Kevin, lo kok tiba-tiba banget mau pergi?" Vienna akhirnya mengubah topik pembicaraan sebelum Raygan menanggapi ucapan Kevin, ia akan tambah merasa memalukan dirinya sendiri.
"Iya Vienna, gue sekeluarga mau pindah. Jadi gue harus ikut juga."
"Gue mau bilang terima kasih dan maaf ngerepotin."
"Sama-sama, dan nggak perlu minta maaf. Lo hanya perlu jaga diri baik-baik. Lo harus bahagia." Hanya itu yang bisa Kevin katakan pada orang yang dicintainya itu bertahun-tahun.
"Gue juga mau bilang makasih," ucap Raygan juga. Kevin mengangkat jempolnya untuk Raygan.
"Vien, kalau nggak keberatan ... gue boleh peluk lo sebelum gue pergi?" Vienna pun mengangguk.
"Kevin, terima kasih sudah mencintai gue. Gue harap lo bisa menemukan orang yang juga mencintai lo dengan tulus," bisik Vienna pada telinga Kevin saat mereka berpelukan. Kevin mengeratkan pelukannya setelah mendengar itu, Vienna pun membalasnya sebagai balas budinya pada Kevin.
***
Sebelum mengantar Vienna ke rumahnya, Raygan menemani Vienna untuk berziarah ke makam Ayah, Mama, dan Kakaknya. Raygan pun dengan senang hati membantu Vienna dengan kursi rodanya. Mereka sudah dekat pada pintu masuk area pemakaman namun seorang penjaga di sana meneriaki mereka untuk segera berhenti.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Raygan kepada Bapak yang berlari ke arah mereka.
"Jangan masuk dengan kursi roda. Karena hujan sering turun jadi jalan masuk berlumpur. Bapak sarankan kamu menggendongnya Nak, setelah sampai di makam kamu bisa menggunakan kursi roda kembali. Sebab hanya jalan masuk ini yang rusak, kursi roda kamu bisa penuh dengan lumpur yang kotor," jelas Bapak itu.
"Baiklah Pak, terima kasih informasinya."
Tanpa sepatah kata pun, Raygan langsung jongkok di depan kursi roda lalu pelan-pelan menuntun Vienna untuk naik ke atas tubuhnya, satu tangan Raygan menahan tubuh Vienna dalam gendongannya di belakang, satu tangannya lagi melipat kursi roda lalu membawanya dari depan. Seperti itu cara yang Raygan lakukan hingga mereka sampai di depan makam.
"Itu siapa?" tanya Vienna ketika mereka hampir tiba di dekat makam Almarhum Venzo. Vienna melihat seorang cewek sedang berziarah ke makam Venzo dengan Isak tangis yang semakin jelas di pendengaran Raygan dan Vienna. Saat keduanya sampai, cewek itu pun berbalik dan bangkit dari duduknya. Alangkah terkejutnya Raygan dan Vienna melihat cewek itu adalah Alita.
"Alita?" panggil Raygan.
"Iya, gue di sini. Vienna." Alita melangkah lalu memeluk Vienna yang sudah duduk kembali di kursi rodanya. Vienna menyambut pelukan Alita lalu keduanya sama-sama menangis.
"Vienna, gue minta maaf atas sikap gue selama ini. Gue terlalu mengambil hati atas kesalahan kecil yang terjadi. Lo yang kuat ya, gue turut berduka cita."
Vienna tidak pernah menyimpan dendam pada siapa pun, ia kembali memeluk Alita sebagai jawabannya.
"Alita, kenapa lo bisa ada di sini? Lo kenal Bang Venzo?" tanya Raygan.
Alita mengangguk lalu menceritakan pada keduanya bagaimana dia kenal dekat dengan Venzo saat di rumah sakit tempat Venzo dirawat dulu. Venzo sering berkunjung ke ruang rawat adiknya. Bahkan bercerita banyak pada Alita tentang kehidupan pribadi serta gengnya.
***
Sayang sekali takdir tidak menyatukan second couple di cerita ini, Venzo Alita 🩷🩷
Author dikejar Deadline guyss, wkwk
Sebentar lagi cerita ini akan end yaaa hehe
Mungkin sekitar 2 or 3 bab lagi.
Mohon doanya semoga cerita ini selesai tepat waktu, terima kasih sudah mampir ke cerita inii
Vote and Komennya selalu ditunggu🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
Vienna (Completed)
Teen FictionIni tentang kehidupan Vienna, memiliki saudara bernama Venzo, ketua geng motor Platoz. Semuanya menjadi tidak baik-baik saja saat Vienna selalu ikut campur pada kehidupan kakaknya. Terlebih, geng Cakrawala yang merupakan musuh geng Platoz mengincar...
