Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

8. Rumah Vienna

91 6 2
                                        

Vienna'S POV

Hari libur menjadi hari yang paling dinantikan semua orang. Begitu pula dengan diriku. Aku suka belajar dan bertemu dengan teman-teman di sekolah tapi hari minggu memang hari yang tepat untuk merehatkan seluruh raga yang sudah lelah selama 6 hari beraktivitas padat. Belum lagi, jadwal pemotretanku yang cukup melelahkan pekan ini.

Cahaya matahari sudah masuk menembus jendela di kamarku. Boneka beruang cokelatku segera kuambil untuk menutupi wajahku dari sinar matahari. Aku memejamkan mata kembali sebelum cahaya itu benar-benar berhasil menganggu tidur pagiku.

Seorang aktris muda baru saja tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta untuk menjalani acara Meet and Great di kota Jakarta lusa mendatang. Ia tampil bak seorang putri dari kerajaan. Sangat cantik dengan dress simple selutut yang digunakannya. Berwarna biru pastel dengan rambut style bergelombang sebahu.

Sambil berjalan menuju mobil yang sudah menunggu sang aktris, para penggemarnya berkerumun berusaha menghadang pagar tangan yang di hat oleh bodyguard yang menjaga. Ia juga menerima beberapa hadiah dari fans lalu mengucapkan terima kasih sambil terus berjalan dengan langkah cepat, sebelum fans semakin nekat untuk mendekati sang aktris.

Suara alarm berbunyi

Aku terbangun dari mimpi indahku. Rasanya menyenangkan bisa menjadi wanita yang ada dalam mimpiku. Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan jika itu benar-benar terjadi di kehidupan nyataku. Sebelum aku terlalu mengkhayal lebih jauh aku segera mematikan alarmu yang kurasa sudah berbunyi lebih dari sepuluh kali. Aku terus mematikannya dan dia akan berbunyi setiap sepuluh menit.

"Vienna."

"Vienna."

Kudengar seseorang diluar memanggil namaku. Aku pun turun dari kasur untuk mengecek dengan rambut yang masih acak-acakan.

Itu pasti kakakku yang hobi menganggu di pagi hari.

"Ada apa Kak?" tanyaku kesal, saat aku membuka pintu kamarku.

"Itu tamu lo di luar," jawabnya dan langsung pergi menuju kamarnya sendiri.

"Siapa?"

"KAK!" teriakku semakin kesal saat Venzo mengabaikanku dan sudah masuk ke dalam kamarnya.

Tanpa mempedulikan penampilanku, berbaju tidur abu-abu dengan motif kambing, rambut berantakan, dan wajah baru bangun tidur. Sungguh sempurna penampilanku untuk menemui 'tamuku'. Aku sungguh tidak peduli jika tamu itu adalah orang asing atau siapa pun, yang penting itu bukan pacarku.

Aku duduk di sofa dengan kondisi masih mengantuk, ku gosok-gosokkan tanganku pada mata, penglihatanku masih belum berfungsi dengan benar. Kudengar suara tawa di depanku. Kemudian aku baru memperhatikan wajah tamuku yang dari tadi ternyata menertawakan penampilanku.

"Ray!"

Aku segera menutup wajahku dengan bantal sofa, hanya mataku yang terlihat.

"Nggak apa-apa, Vien."

"Nggak apa-apa gimana?! Gue malu, sumpah."

Kakak menyebalkan, kenapa tidak bilang kalau Raygan yang datang. Hancur sudah harga diriku sebagai wanita tercantik di dunia ini.

"Tumben datang pagi-pagi begini, Ray?" tanyaku.

"Mau temenin gue ketemu nyokap bokap, nggak?" ucapnya tenang. Aku terkejut mendengarnya. Selama kami menjalin hubungan, dia tidak pernah menceritakanku tentang orang tuanya. Katanya dia akan menceritakan suatu saat kalau dia sudah yakin.

"Sekarang, ya?"

"Iya gue tungguin kok."

Baru saja aku berdiri untuk ke kamar bersiap-siap. Kakak menyebalkanku muncul lagi ke permukaan. Aku menatapnya sinis. Dia mengabaikanku lagi. Dasar.

Vienna (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang