Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

25. Perjodohan Tak Terduga

113 6 0
                                        

Vienna'S POV

Lagi-lagi aku terus bersamanya, dia selalu menemaniku kemana pun aku pergi. Raygan, sekarang aku kembali berada di mobilnya. Kami berdua baru saja menemui Fani, sahabatku, dia menjelaskan tentang mobilnya yang terlibat dalam kecelakaan di malam itu. Seperti biasa, aku bukan orang yang membuat orang lain terus merasa bersalah, aku memaafkannya dengan lapang hati. Dia tetap selalu menjadi sahabatku sampai kapan pun. Kesalahan sangat wajar dilakukan oleh setiap orang.

Raygan kubiarkan beristirahat di rumahku. Dia pun kuajak masuk. Saat ingin membuka pintu rumahku, aku terkejut dengan sepatu heels wanita yang terletak di depan pintu. Otakku mulai mengingat siapa pemilik sepatu itu. Dan benar saja, aku mengingatnya, itu sepatu yang kubelikan untuk Tante Mulan, Adik Mamaku, saat hari ulang tahunnya, ternyata dia sudah tiba di rumah. Aku pasti mengabaikan hpku sejak tadi.

"Tante?" panggilku ketika kursi rodaku yang didorong Raygan, sudah memasuki ruang tamu rumahku.

Aku mendengar suara tangisan dari dalam kamar orang tuaku, di sana pasti Tante Mulan berada saat ini. Aku pun berhenti memanggil namanya, memilih menunggunya keluar dari kamar itu.

"Vienna, kamu sudah di rumah?" serunya ceria, aku tau dia pasti menyembunyikan kesedihannya untuk menghiburku.

Tante Mulan tinggal di Canada selama ini. Suaminya bekerja di negara itu sehingga ia harus ikut tinggal di negara orang bersama suaminya. Setelah tiga tahun, akhirnya dia datang lagi ke indonesia saat mendengar kabar kematian Mamaku, Milena.

"Ini siapa? Jangan bilang pacar kamu. Tante sudah menyiapkan jodoh untukmu di Canada!" seru Tante Mulan. Dari dulu, dia memang ingin aku menjadi sepertinya, menemukan jodoh di usia muda lalu menjadi seorang ibu muda. Namun, Mamaku selalu membelaku ketika Tante Mulan membahas itu di telepon. Sekarang, hanya Tante Mulan yang aku punya di hidupku ini sebagai keluarga terdekatku.

"Tante," selaku. Aku sungguh tak enak membahas topik itu di depan Raygan.

"Vienna, kamu harus ikut Tante ke Canada. Perjodohanmu sudah Tante atur. Kamu mulai sekarang adalah tanggung jawab Tante. Maka dengarkan perkataan Tante, Tante ingin yang terbaik untuk kamu."

"Kita akan berangkat malam ini."

Raygan hanya menjadi patung sejak Tante Mulan muncul. Ia hendak memperkenalkan diri, namun Tanteku itu seolah enggan menyapa Raygan. Setiap kali Raygan ingin bicara, Tanteku terus melanjutkan kalimatnya yang membuatku malas mendengarnya. Tante Mulan pun kembali masuk ke dalam kamar orang tuaku untuk melampiaskan kesedihannya seorang diri.

"Vien, gue pamit ya," ucap Raygan sambil menunduk. Aku dapat merasakan kesedihan dari nada bicaranya.

"Ray, terima kasih untuk segalanya," ucapku memegang tangan Raygan yang ingin beranjak. Aku sudah banyak merepotkannya sejak aku mengalami kelumpuhan ini.

"Vien, sebelum lo ke Canada, gue ingin bilang lo berhak bahagia dengan apa pun yang menjadi takdir lo. Jangan lupain gue, ya." Aku melihat mata Raygan berkaca-kaca meskipun ia berusaha menutupinya. Dia pun keluar dari rumahku sebelum aku bicara lagi.

Raygan, seharusnya lo jangan biarkan gue pergi. Perasaan gue masih buat lo. Ucapku menatap kepergiannya.

***

Author'S POV

Author'S POV

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vienna (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang