Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

17. Kebenaran Pahit

103 7 0
                                        

Rafis dan Vienna baru saja tiba di rumah setelah mengunjungi kantor polisi. Namun tidak dilakukan pencarian oleh pihak berwajib jika waktu kehilangan belum mencapai dua puluh empat jam. Rafis sempat membentak pada atasannya karena terkulum emosi yang menguasai pikirannya. Namun ia segera minta maaf, sebagai polisi juga harusnya ia paham aturan yang berlaku di kepolisian.

Vienna duduk di sofa menenangkan Ayahnya yang memegang kepalanya pusing.

"Vienna kamu tau nak dimana markas geng Platoz?"

Vienna mengangguk.

"Antar Ayah ke sana nanti sore. Ayah harus menemui anggota Platoz. Ayah ke kamar dulu. Kepala Ayah sangat berat."

"Mama kamu dimana, ya?" ucap Rafis lagi.

"Tadi Mama bilang mau ke rumah sakit Venzo."

"Telepon Mamamu suruh pulang."

"Iya, Yah."

Vienna pun langsung merogoh hp di saku seragam sekolahnya. Ia masih memakai seragam karena ia bersama Rafis langsung ke kantor polisi setelah Ayahnya menjemputnya di sekolah. Setelah menelpon Milena, Vienna menekan sebuah foto profil seseorang di aplikasi WhatsApp-nya, ia benar-benar merindukan orang itu.

Vienna merasa terpuruk sekarang. Ia menangis sambil menatap layar ponsel. Bagaimana dia bisa baik-baik saja saat Venzo hilang di rumah sakit serta Raygan juga sudah dua hari tidak menghubunginya, bahkan nomornya pun sudah tidak bisa dihubungi walaupun lewat panggilan seluler.

"Lo apa kabar Ray, kenapa menghilang juga. Gue butuh Lo disini, Ray," tuturnya pelan, mengusap air matanya.

"Alita juga nggak mau jawab gue. Apa gue cek aja ke rumahnya, ya?"

Vienna menghapus air matanya dengan lengan bajunya lalu berlari ke kamarnya untuk  berganti pakaian. Setelah siap, ia pun memesan taksi online dan memasang titik rumah Raygan disana.

*

Vienna menatap rumah elit yang berlantai tiga itu. Jam menunjukkan pukul sepuluh, masih jam sekolah. Vienna tak kembali ke sekolah karena merasa tidak akan fokus menerima materi jika kondisinya seperti ini, ia pun sudah mendapatkan izin dari guru mata pelajaran yang mengajar di kelasnya.

Ini untuk kedua kalinya Vienna pergi ke rumah Raygan, terakhir adakah tahun lalu. Berbeda dengan Raygan yang selalu berkunjung ke rumahnya.

"Raygan ada di dalam atau nggak, ya?" tanya Vienna bingung.

Ia pun tak menunda, melanjutkan langkahnya sampai depan pintu lalu memencet bel berkali-kali. Tak ada suara. Tak ada yang keluar. Vienna pun dengan hati-hati memegang gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Entah dari mana keberanian yang ia dapat, kakinya melangkah masuk lalu menutup pintu kembali. Suasana rumah terang, semua lampu menyala.

Perhatian Vienna teralihkan pada dua meja besar di sana, dikelilingi kursi yang sangat banyak. Vienna berpikir, untuk apa Raygan menyediakan kursi sebanyak itu di rumahnya. Padahal Vienna tau kalau Raygan tinggal sendiri. Vienna mendekat ke arah situ, dan mulai mencium bau khas minuman yang langsung membuatnya terbatuk.

"Tidak mungkin. Tidak mungkin Raygan seperti ini."

"Atau apa dia ada masalah?"

Vienna pun menyebut nama Raygan di dalam rumah itu. Ia selalu mengingat perkataan Raygan untuk saling terbuka mulai sekarang, itu membuat Vienna tidak sungkan untuk mencari Raygan di rumahnya.

Vienna kembali melangkah menyusuri isi rumah hingga ia berada di lantai 2. Vienna kembali berteriak memanggil nama Raygan. Namun ia rasa Raygan tidak ada di rumahnya. Vienna berniat untuk pulang saja dan tidak melanjutkan ke lantai tiga. Saat Vienna hendak menuruni anak tangga, ia memandang pintu yang terbuka sehingga mengurungkan niatnya untuk turun. Ia ingin mengecek ke sana. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Raygan. Pikirnya.

"Raygan!" seru Vienna saat tiba di depan kamar milik Raygan itu. Ia pikir Raygan ada di dalam sana. Namun tak ada orang.

Vienna berpikir apakah ia harus masuk ke dalam atau tidak, pikirannya mengatakan pulang namun hatinya mendorongnya untuk masuk melihat kondisi kamar Raygan. Ia tahu ini sudah melewati batasannya masuk ke dalam kamar orang. Namun, Raygan bukan orang asing, Raygan adalah orang terdekatnya. Yang paling ia percaya setelah keluarganya. Ia pun mantap ingin masuk.

Vienna mulai mengamati seisi kamar Raygan. Terdapat beberapa koleksi buku bertema history pada rak buku yang mungil. Vienna tau, Raygan memang suka membaca novel historical. Ia tersenyum melihat seisi kamar itu yang rapi. Sampai Vienna mengangkat sebuah bingkai foto berisikan foto Raygan bersama Alita pada saat penamatan SMP. Vienna bohong jika tidak cemburu melihat foto itu. Ia juga merasa Alita lebih banyak tau tentang Raygan dibandingkan dirinya.

"Mungkin mereka memang sedekat itu."

Ia meletakkan kembali foto tersebut di atas rak buku. Perhatian Vienna pun teralihkan pada fotonya yang berada di sebuah papan gabus yang tertempel di dinding kamar. Ia langsung mendekat ke sana setelah melihat foto Venzo juga berada di samping fotonya.

"Pembunuh?" Vienna membaca sebuah tulisan di samping foto Venzo. Lalu menutup mulutnya tak percaya pada apa yang ia baca. Itu tulisan tangan Raygan, dia sangat menghafalnya. Apa artinya semua ini? Vienna mulai sangat bingung.

"Target pertama?" Ia membaca lagi tulisan tangan yang berada di atas fotonya sendiri.

"Kenapa foto gue sama Venzo dipajang seperti itu? Apa maksudnya?!" Ia pun mulai menangis deras saat mengingat apa yang Kevin katakan padanya.

"Apa Kevin benar?!" teriaknya, tangisnya semakin menjadi. Vienna tiba-tiba pusing memikirkan semua ini hingga kehilangan kesadarannya dan jatuh di lantai.

"Vienna!" seru seseorang yang baru masuk ke dalam sana.

***

Ayo tebak! Siapa orang yg masuk itu?"

*

Tinggalkan vote dan komen teman2 🫶🙏🏻🥰



20 Juli 2024,
Marentiya

Vienna (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang