Raygan menatap kepergian mobil Rafis yang membawa Vienna. Seluruh anggota Platoz juga sudah menaiki motor mereka untuk mengawal mobil tersebut ke rumah sakit terdekat. Kevin juga ikut bersama mereka. Raygan merasakan rasa sakit luar biasa di dadanya melihat Vienna terluka parah akibat tembakan dari Sean yang seharusnya mengenai Rafis. Raygan terduduk menatap darah Vienna di tanah, itu membuatnya semakin sakit dan sesak luar biasa. Ia tidak bisa menahan diri. Harusnya ia merasa senang karena itu yang dia inginkan.
Sean, Rico, dan tiga anggota Cakrawala lainnya yang masih bertahan menghampiri Sean yang tertunduk sendu di tanah.
"Jeff, tinggal selangkah lagi lo bisa balas dendam lo," tutur Sean.
"Bener. Kalau Vienna nggak selamat. Venzo akan hancur dan kehilangan, dendam lo akan terbalaskan," timpa Rico tersenyum ke arah Sean.
Raygan mendengar semua itu, seharusnya yang terjadi adalah ia menimpali ucapan Sean dan Rico. Namun ia malah bangkit lalu meninju Sean dengan brutal. Lantas Rico mundur menyaksikan perkelahian mereka berdua ketika Sean mulai melawan.
"Jeff! Lo gila, ya!" teriak Rico ingin menyudahi perkelahian dua temannya.
"JEFF! Gue udah bantuin lo! Kenapa lo mau bunuh gue!" Sean terlempar ke tanah dengan sangat kasar. Raygan menatapnya tajam sekarang dengan nafas memburu.
"Kenapa lo nembak Vienna, Huh?!!" teriak Jeff, emosinya meluap. Lalu, ia kembali memukuli Sean. Rico berusaha menghentikannya namun percuma.
"Mulai sekarang lo bukan leader Cakrawala lagi," sebut Jeff menunjuk pada Sean.
Sean yang juga tersulut emosi lantas membuka jaketnya dan melemparkan pada Raygan. Ia tidak terima diperlakukan seperti ini setelah semua yang ia korbankan untunk geng Cakrawala dan menyelesaikan misi Raygan untuk menghancurkan keluarga Venzo. Semudah itu Raygan mengucapkan kalimat itu tanpa memikirkan kesetiaan Sean memimpin Cakrawala selama bertahun-tahun ini.
"Baik. Gue akan keluar. Gue harap lo tidak menyesal melakukan ini, Tuan Smith."
"Jeff, sadar. Apa lo beneran udah jatuh hati sama Vienna? Kenapa lo seperti ini?!" Itu suara Tian yang baru saja bangkit.
Raygan terdiam membisu, ia kemudian memukul kepalanya sendiri lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Sean, Rico dan Tian saling menatap satu sama lain, heran dengan sikap Raygan yang sekarang. Sean pun bangkit dibantu oleh Rico dan Tian. Tubuhnya babak belur setelah dihajar brutal oleh Raygan. Mereka kemudian membantu yang lain untuk bangkit dan mengobati luka mereka satu persatu. Sean memilih pergi dan meninggalkan motornya di sana.
***
Raygan'S POV
Aku memasuki rumahku dengan emosi yang menguasai diri. Aku benar-benar merasa gila setelah menghajar Sean dengan tak ada ampun. Pikiranku terus memutar ulang bagaimana Sean menembak Vienna dan gadisku itu menyelamatkan dua orang nyawa yang dia sayang. Aku berusaha untuk memikirkan hal lain dan mengendalikan diriku yang tiba-tiba sangat empati ini kepadanya. Tapi tidak bisa, aku terus bertanya-tanya dalam hati.
Bagaimana keadaannya?
Apakah dia baik-baik saja?
Apakah dokter berhasil menangani luka tembaknya?
Sial, semua pertanyaan itu menganggu pikiranku. Sebut saja aku monster yang gila. Akulah yang membuatnya seperti itu, tapi aku pula yang mencemaskannya. Aku harap dia baik-baik saja. Sial, aku mengatakannya lagi? Dari luar, aku bisa mendengar bagaimana anggota gengku sendiri membicarakanku. Juga, Sean dengan kemarahannya padaku. Setelah itu, kudengar dia pergi. Aku juga malas melihat wajahnya lagi, dia melukai gadisku.
***
Raygan mencari tau dimana Vienna dirawat. Karena rumahnya berada di pusat kota, maka cukup banyak rumah sakit yang terjangkau jaraknya dari rumahnya. Setelah ia mengunjungi tiga rumah sakit, ia pun berhasil mendapatkan nama Vienna di rumah sakit keempat yang ia kunjungi. Namun ia hanya bisa melihat dari kejauhan. Anak-anak geng Platoz juga berkeliaran di rumah sakit sehingga semakin sulit untuk mendekat.
Raygan memilih untuk pulang saja sebelum anggota geng Platoz melihat keberadaannya di rumah sakit. Baru saja Raygan berbalik badan, ia tersentak dan menabrak tubuh Kevin di depannya. Ia tidak bisa menghindar lagi.
"Sedang apa lo disini, Jeff?" tanya Kevin lalu melipat kedua tangannya.
"Ini tempat umum. Terserah gue mau dimana," elaknya. Ia tak mungkin mengakui kalau tujuannya adalah melihat kondisi Vienna.
"Yakin? Jangan bilang lo mau celakain orang lagi." tanya Kevin lagi untuk memancing emosi Jeff.
"Sorry, gue nggak mau berurusan lagi sama pengkhianat seperti lo ini," tekan Raygan hendak meninggalkan Kevin. Kevin langsung menarik jaket Raygan sehingga Raygan mundur dan kembali di hadapan Raygan.
"Singkirkan tangan lo sekarang."
"Jeff, kalau ini bukan tempat umum, gue udah beri lo pelajaran! gara-gara Sean, tangan kanan lo itu! Vienna jadi celaka!"
"Gue jadi penasaran, Kevin. Sejak kapan lo peduli sama Vienna? Sejak kapan lo bisa dekat dengan dia? Lo benar-benar berhasil mengelabui pandangan gue selama ini. Diam-diam lo suka, Lo musuh dalam selimut!!" cercah Raygan meletakkan telunjuknya pada dada Kevin lalu menekannya kuat. Kevin memegang tangan Ray lalu menghempasnya kasar. Lalu menyuarakan faktanya.
"Asal lo tau. Gue menyukainya lebih dulu!"
"Selanjutnya gue nggak akan diam kalau Lo buat dia celaka lagi! Lo memang berhati iblis, Jeff! Lo nggak berhak dapat cinta dari Vienna!"
"Lo laki-laki yang nggak pantas dicintai!"
"Selama 2 tahun lebih Jeff! Selama itu gue mencintai Vienna dari kejauhan. Karena gue lihat, dia menemukan kebahagiaannya sama lo."
"Gue masuk Cakrawala untuk mengetahui siapa lo sebenarnya. Gue tetap bertahan agar gue bisa tau semua rencana busuk lo! Gue nggak akan biarkan Vienna semakin jatuh hati pada orang yang salah. Bahkan orang yang menginginkan dia tiada!!"
"DIAM PENGKHIANAT!" teriak Raygan hingga beberapa orang di sana langsung memandang mereka yang sedang perang mulut.
"Dengar ini. Gue Kevin, gue berjanji pada diri gue sendiri dan di hadapan lo. Gue akan melindungi Vienna, apa pun yang terjadi!"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Vienna (Completed)
Novela JuvenilIni tentang kehidupan Vienna, memiliki saudara bernama Venzo, ketua geng motor Platoz. Semuanya menjadi tidak baik-baik saja saat Vienna selalu ikut campur pada kehidupan kakaknya. Terlebih, geng Cakrawala yang merupakan musuh geng Platoz mengincar...
