Happy reading 🩷
***
Hujan mengguyur deras di sabtu sore. Hal itu membuat sebagian besar siswa di SMA Baswara harus menunggu beberapa saat sampai hujan sedikit reda sebelum menuju ke rumah masing-masing. Alita langsung membereskan buku di mejanya setelah guru menutup pembelajaran hari ini. Ia berencana mengajak Raygan menemaninya ke suatu tempat setelah pulang sekolah.
"Hai Alita," sapa seseorang, teman kelasnya. Itu Wajir, cowok berkacamata.
"Iya?" tanya Alita, sedikit memberikan senyumnya. Ia sebenarnya malas diajak bicara saat ini karena ingin buru-buru menghampiri Raygan, tapi juga merasa tidak enak mengabaikan teman kelas barunya itu.
"Lo sama siapa pulangnya?"
Setelah mendengar itu, Alita langsung tahu maksud dari Wajir. Cowok itu pasti ingin mengantarnya pulang. Atau Alita kepedean?
"Gue baru mau ngasih tau Raygan sih, buat anterin gue," jawabnya jujur.
"Loh, bukannya Raygan selalu bareng Vienna, ya?"
Alita seketika semakin malas untuk berbicara dengan Wajir setelah Wajir mengatakan kalimat itu kepadanya. Ia pun memikirkan alasan yang bagus, bagaimana bisa menghindari cowok ini.
"Gue juga ada urusan ke ruang wali kelas dulu sih, sebelum pulang. Gue duluan, ya, Jir."
"Oh oke, kalau gitu mau gue temenin?" Wajir masih mencoba berusaha.
"Nggak perlu kok, gak papa nanti gue cari sendiri aja. Lo duluan aja. Thanks, ya."
Alita menghela napas lega setelah Wajir meninggalkannya. Ia pun tersenyum pasrah saat melihat Raygan sudah tidak ada di bangkunya. Tapi masih ada Vienna yang menulis di sana. Ia segera menghampiri Vienna.
"Lo nulis apa Vienna?" tanya Alita.
"Gue ngerjain pr yang tadi dikasih."
Vienna memang selalu mengerjakan pr-nya disekolah, tepat setelah guru memberikannya. Mengerjakan di awal menurutnya lebih mudah karena masih mengingat dengan cermat materi yang diajarkan.
"Kalau Raygan dimana, ya? Apa dia udah pulang?"
"Belum. Dia barusan keluar ambilin hp gue yang ketinggalan di kantin tadi."
Lo emang beruntung punya cowok kayak Raygan. Ucap Alita dalam hati.
"Oh gitu. Dia biasanya pulang bareng lo, ya?"
"Iya. Lo pulang naik apa? Di luar hujan deras banget. Mending lo pesan taksi deh. Jangan sampai kehujanan, nanti lo bisa sakit."
Alita mengurungkan niatnya untuk pulang bersama Raygan. Ia merasa ada tembok antara dirinya dengan Raygan. Tidak seperti dulu, dimana Raygan selalu ada di sisinya. Tak pernah merasa ragu untuk meminta bantuannya. Tapi sekarang, keadaan berbeda. Dan dia masih tau diri. Catat.
"Gue ada urusan di ruang guru dulu baru pulang."
"Mau gue temenin?" tawar Vienna, lalu menutup bukunya.
"Nggak usah, Vien. Lo lanjut aja nulisnya. Gue bisa cari sendiri kok ruangannya."
"Oh iya tulisan papan ruang guru itu udah kabur. Lo udah tau kantor kepala sekolah kan kemarin nah setelah itu ada perpustakaan terus ruang guru tuh sebelah kirinya perpus, Ta," tutur Vienna berusaha membantu Alita karena menolak untuk ditemani.
"Oke Vien, thank you, ya."
Vienna membuka buku kimianya kembali setelah Alita berlalu keluar kelas. Ia memandang sekelilingnya, ternyata hanya dirinya yang tersisa di dalam kelas. Ini sudah biasa baginya.
"Rumus kimianya glukosa apa tadi, ya?" Vienna ingin mengambil buku bacaan pelajaran kimianya dalam laci untuk menemukan jawaban yang ia cari. Namun tidak jadi, karena Raygan datang.
"C 6 H 12 O 6," jawab Raygan lalu menyerahkan hp milik Vienna.
"Kalau rumusnya Raygan ganteng apa, ya?" Raygan bertanya, Vienna langsung tertawa lalu mencubit lengan Raygan. Keduanya tertawa saat Raygan mengeluh berpura-pura kesakitan. Raygan menunggu Vienna sampai selesai mengerjakan pr kimianya sambil terus mengeluarkan kata-kata manisnya.
*
Alita mengecek kembali dokumen yang diminta oleh wali kelasnya kemarin sebelum melangkah mencari dimana ruang guru berada.
"Ini kantor kepsek, terus ini perpus, sebelah kiri perpus, terus, ... berarti yang ini nih ruang gurunya!"
Dengan bersemangat, Alita merapikan rambutnya sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan. Baru saja ia mendekat untuk memegang gagang pintu, seseorang lebih dulu mengalahkan kecepatan tangannya. Karena cowok itu juga ingin masuk ke dalam ruangan, Alita mencoba mengajaknya bicara.
"Lo mau masuk?" tanya Alita sedikit takut. Melihat dari penampilan cowok di depannya itu, ia merasa terintimidasi. Cowok tersebut menggunakan jaket geng Cakrawala. Alita belum tau bahwa SMA Baswara kebanyakan siswanya adalah anggota geng motor.
"Lo siapa?" tanya Sean.
Alita semakin gugup saja saat mendengar suara berat Sean. Auranya semakin menekannya.
"Gue Alita, siswa pindahan. Gue mau nanya, ini benar kan ruang guru?"
Dari sekian banyaknya siswa disini, mengapa harus Sean yang harus Alita jadikan tempat bertanya. Ia tidak aman sekarang.
Sean memandang penampilan Alita dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu ia tersenyum puas lalu menjawab, "Iya bener."
Sesungguhnya, Vienna salah saat menjelaskan lokasi ruang guru pada Alita. Harusnya ia menyebutkan sebelah kanan, namun Vienna menyebutkan sebelah kiri. Sekarang, Sean mengambil kesempatan untuk berbohong kepada siswa baru yang tidak tau apa-apa itu.
Saat Vienna masuk bersama Sean, alangkah terkejutnya dia mendapati orang-orang yang merokok di dalam ruangan itu. Dokumen yang ia pegang tadi pun jatuh ke lantai, lalu segera memungutnya satu persatu. Tangannya gemetar, dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana caranya untuk kabur dari kandang harimau itu. Memang ruangan itu adalah bekas ruangan olahraga yang sudah tidak terpakai. Anak-anak geng Cakrawala sering menjadikannya tempat bersembunyi untuk merokok.
"Wah, wah, ada anggota baru nih, Sean?" ucap Rico mendekat pada Alita, lalu memberikan dokumen Alita yang jatuh di dekat kakinya. Alita menerimanya dari tangan Rico sambil tetap menundukkan pandangan ke bawah. Ia takut.
"Tolong biarin gue pergi."
"Lo nggak mau gabung dulu? Masa langsung pergi aja," kata salah satu anggota Cakrawala lainnya bernama Rio.
Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba pintu ruangan itu ditendang dari arah luar oleh seseorang. Dia adalah Venzo, dengan selembar kertas dokumen milik Alita di tangannya.
"Sialan!" teriak Sean.
"Ikut gue sekarang." Venzo langsung saja menarik tangan Alita keluar sebelum anggota Cakrawala memulai keributan. Venzo tidak mau membuat masalah di sekolah.
Alita dan Venzo berada di depan ruang kelas Venzo sekarang. Venzo tanpa basa basi langsung menyerahkan kertas milik Alita yang ia lihat jatuh tadi saat Alita mengecek kelengkapan dokumennya diluar kelas.
"Kenapa bisa ada di Lo?"
"Gue lihat jatuh tadi, makanya jangan ceroboh. Gue pergi."
Venzo langsung pergi begitu saja. Ia memang jarang berurusan dengan kaum hawa, kecuali dengan adiknya yang cerewet.
"Gue lupa bilang makasih lagi." Alita memukul dahinya dengan kertas yang ada ditangannya.
"Kok bisa sih gue salah ruangan? Ini semua gara-gara Vienna." Alita menghentakkan kakinya kesal.
***
Jangan lupa tambahkan cerita ini ke perpustakaan kalian supaya bisa dapat notifikasi kalau sudah update part baru !! 🥰
Sampai jumpa besok di next part!
Tinggalkan jejak dengan vote dan komen yaa🩷
7 Juli 2024
Marentiya
KAMU SEDANG MEMBACA
Vienna (Completed)
Ficção AdolescenteIni tentang kehidupan Vienna, memiliki saudara bernama Venzo, ketua geng motor Platoz. Semuanya menjadi tidak baik-baik saja saat Vienna selalu ikut campur pada kehidupan kakaknya. Terlebih, geng Cakrawala yang merupakan musuh geng Platoz mengincar...
