Sudah dua hari berlalu sejak Vienna dirawat di rumah sakit. Hari ini, dokter yang menanganinya sudah mengizinkannya untuk pulang. Peluru sudah berhasil dikeluarkan lewat operasi yang dijalani Vienna di malam hari saat kejadian hari itu. Peluru masuk tidak terlalu dalam namun Vienna masih kesakitan bergerak dengan bahu dan tangan kirinya.
Milena sibuk merapikan pakaian Vienna, melipat satu persatu lalu menyusunnya masuk ke dalam sebuah tas besar. Rafis dan Venzo duduk di sofa menanti Milena selesai membereskan barang sebelum pulang. Vienna sudah mengganti pakaiannya, hampir tiga hari dia hanya memakai baju rumah sakit, ia jadi rindu dengan kostum pemotretannya, tapi apa boleh buat.
"Ayah, Venzo dengar dari anggota Platoz. Sean sudah dibebaskan dari penjara?"
Rafis mengangguk. "Benar. Sean hanya dipenjara selama 3 hari, keluarganya membayar uang jaminannya. Sementara Raygan, dia hanya ditahan satu hari karena jaminan uang juga. Ayah tak bisa berbuat banyak karena kantor polisi memang gila uang."
"Miris," celetuk Venzo.
"Ayah," panggil Venzo lagi.
"Venzo merasa perlu bicara dengan Raygan, Yah. Kecelakaan itu murni kecelakaan. Mobil Almarhum orang tuanya memang melawan arus lalu lintas. Venzo juga salah karena tidak memperhatikan kiri kanan. Dan akhirnya kecelakaan itu terjadi."
"Kamu tunggu saja waktu yang tepat untuk menemui Raygan. Saat ini, emosinya tidak bisa kamu ajak kerja sama, kebenciannya terhadap keluarga kita sedang meluap di dalam dirinya itu," tutur Rafis bijak.
"Kak Venzo." Itu Vienna yang memanggil.
"Gue minta maaf Kak. Harusnya selama ini Vien dengar ucapan Kakak. Kalau Ray itu bukan cowok yang baik buat gue."
Venzo lantas berdiri lalu berjalan memeluk Vienna yang menangis. Rasanya ia baru saja mendapatkan pelukan hangat lagi.
"Vien, asal lo tahu. Raygan salah paham dengan kebenciannya akibat kecelakaan dua tahun lalu, tapi caranya benar-benar diluar batas. Bahkan dia merencanakan ini semua dari awal. Dia tidak tulus sama lo selama ini," tutur Venzo berbicara fakta. Itu membuat Vienna menangis kembali, ia menambah eratnya pelukan pada adik tersayangnya.
"Kakak harap, Lo tidak berharap apa-apa lagi sama Raygan," ucap Venzo lagi, melepaskan pelukannya lalu menatap Vienna serius. Vienna langsung memalingkan muka, ia tidak bisa menjawab kalimat Raygan. Melupakan orang yang sangat dia cintai selama ini tentu sangat tidak mudah baginya.
"Pelan-pelan aja. Lo pasti bisa. Kita semua ada di sini buat lo, Vien." Kalimat Venzo tersebut membuat Vienna tersenyum lalu mengangguk.
"Kamu yang kuat ya, Sayang," ucap Milena ikut memeluk Vienna dan Venzo.
"Putri Papa pasti kuat, dong!" Rafis bergabung dengan pelukan mereka.
"Tenang! Papa akan carikan jodoh baru!" seru Rafis mencairkan suasana.
"Papa!" Vienna langsung merengek. Venzo mengejek Vienna. Milena mencubit lengan Venzo karena jahil kepada adiknya.
Mereka berempat tertawa bersama, memanfaatkan momen kebersamaan keluarga yang berharga.
***
Sean melampiaskan kekesalannya di sebuah cafe dengan disko musik yang menggelegar. Dia hanya sendiri di meja itu karena orang yang ingin ia temui belum datang.
"Jeff Hantara."
"Vienna Hilena."
"Kalian harus menyesal telah melibatkan seorang Sean pada urusan percintaan palsu kalian."
"Jeff. Laki-laki penipu dan pendendam. Bisa-bisanya dia mengeluarkan gue dari geng sesuka hatinya. Dia pikir gue hanya anak buah yang dibuang ketika yang gue lakukan tidak sesuai maunya? Bitch!"
"Vienna, lo harus mati apapun yang terjadi. Gara-gara lo, Jeff jadi buta siapa orang yang selalu membantu dan setia padanya selama ini!"
Sean tidak bersuara apa pun lagi saat seseorang sudah duduk di sampingnya, langsung memeluk lengannya dan bersandar pada bahunya. Itu Fani yang tergila-gila dengan Sean, pacarnya. Sean memanggil pelayan cafe untuk memesankan pacarnya menu kesukaannya.
"Kak Sean, gue cantik nggak malam ini?"
"Cantik. Pake banget!" seru Sean sengaja menyenangkan Fani. Ia pun tidak bisa cerita kepada Fani tentang masalahnya karena Sean menganggap Fani hanya pacar untuk menghibur dirinya saja.
Fani hendak menyuapi Sean karena makanan yang mereka pesan telah dihidangkan. Sean pun membuka mulutnya namun tak jadi melahap suapan dari Fani karena teleponnya berdering.
Telepon terhubung
"Sean. Dengar. Ini kesempatan emas buat lo. Vienna akan keluar dari rumah sakit sebentar lagi. Keluarganya sudah bersiap membawa barang ke mobil, lakukan misimu sekarang."
Telepon berakhir
Sean menatap Fani setelah mengakhiri telepon tersebut.
"Kak Sean, apa maksudnya ucapan orang itu? Vienna kenapa?"
"Sayang, lo bawa mobil?" Sean mengabaikan pertanyaan Fani.
"Bawa. Kenapa?"
"Mana kuncinya?" Sean menunjukkan telapak tangannya. Fani pun meletakkan kunci mobilnya.
"Gue pinjam sebentar, ya, Fani. Thanks."
***
Pukul 03.00
Fani tidak tidur semalaman karena memikirkan Sean yang belum mengembalikan mobilnya. Sean pun tidak mengangkat teleponnya. Fani akhirnya memilih menonton drama Korea di laptopnya berjudul 'Queen Of Tears' untuk mengalihkan pikirannya yang cemas, salah satu drama korea yang sedang hits ditonton oleh penggemar drakor di Indonesia. Televisi di kamarnya pun ia biarnya menyala agar merasa tidak takut di jam seperti ini, memang kebiasaannya ketika begadang.
Fani menikmati tontonan drama tersebut sampai subuh datang, drama dengan konflik rumah tangga sang tokoh utama berpadu dengan konflik keluarga konglomerat. Fani kemudian hendak mengambil sebuah cemilan yang ada di dekat televisi yang menyala menampilkan berita, karena ia merasa perutnya mulai lapar.
Fani yang sedang memegang toples langsung melepaskan genggamannya kala mendengar berita yang sedang tampil di televisi. Toples itu pun pecah menimbulkan suara bising.
"Berita terkini. Dilaporkan langsung oleh reporter Safitri di tempat kejadian. Sebuah kecelakaan itu lalu lintas terjadi di jalan Sultan Agung Iskandar tepat pukul 02.00 dini hari. Sebuah mobil berwarna hitam dengan plat ***** diduga dengan sengaja menabrak mobil putih dengan plat *****. Kecelakaan tersebut mengakibatkan mobil putih mengalami ledakan akibat terguling di aspal jalan."
"Kondisi terkini korban, tiga orang berinisial RS, MA, dan VO dinyatakan tewas di tempat kejadian. Sementara itu, satu orang berinisial VA dinyatakan masih selamat dan sedang mengalami koma di Rumah Sakit Haji Iskandar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Vienna (Completed)
Teen FictionIni tentang kehidupan Vienna, memiliki saudara bernama Venzo, ketua geng motor Platoz. Semuanya menjadi tidak baik-baik saja saat Vienna selalu ikut campur pada kehidupan kakaknya. Terlebih, geng Cakrawala yang merupakan musuh geng Platoz mengincar...
