Hai perkenalkan aku jiwa yang bertahan
Zayyan namanya seorang laki-laki yang selalu diterpa oleh segala rintangan. Bohong rasanya jika ia selalu berkata kuat, nyatanya ia sangat membutuhkan sandaran untuk bertahan melawan segala rintangan.
"Tugasku...
Pagi hari menyapa dengan sinar matahari yang perlahan menyusup melalui tirai kamar Zayyan, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Rasa sakit dari luka-lukanya masih terasa, namun ia berusaha bangun dari tempat tidur. Di tengah kesunyian pagi, terdengar suara ketukan lembut di pintu kosannya. Dengan hati-hati, Zayyan menuju pintu dan membukanya, menemukan Bibi Nur berdiri di sana dengan senyum penuh kasih.
"Selamat pagi, Nak. Bibi bawakan sedikit makanan untukmu," ujar Bibi Nur sambil menunjukkan nampan berisi bubur hangat dan segelas susu. Zayyan, dengan rasa terima kasih yang mendalam, menerima makanan tersebut dan mengundang Bibi Nur masuk. Setelah meletakkan nampan di meja, Bibi Nur segera memeriksa kondisi Zayyan. "Mari, Bibi bantu mengganti perbanmu," katanya lembut.
Bibi Nur dengan telaten membersihkan luka-luka Zayyan dan mengganti perban dengan hati-hati, memastikan tidak ada infeksi. Sambil melakukan itu, ia berbicara lembut, memberikan semangat dan memastikan Zayyan merasa didukung. "Kamu harus kuat, Zayyan. Bibi ada di sini untukmu," ucapnya.
"Jangan lupakan hari ini untuk pemeriksaan rutinmu ya, mumpung hari ini kamu izin."
"Baik Bi.. terima kasih untuk makanannya dan telah membantu Zayyan"
"Sama-sama, Bibi sudah menganggap Zayyan sebagai anak sendiri kok jadi tak perlu sungkan"
"Apakah hari ini kau mau ditemani oleh Bibi ke rumah sakit?" lanjut nya dengan lembut.
"Tak apa bi, Zayyan bisa kok sendiri. Tak perlu khawatir"
"Ya sudah, jangan lupa ya makan makanannya"
Zayyan pun hanya mengangguk pelan dam tersenyum lembut. Setelah selesai, Bibi Nur memberinya senyum hangat sebelum meninggalkan kamar, meninggalkan Zayyan dengan perasaan yang lebih tenang.
Setelah Bibi Nur meninggalkan kamarnya, Zayyan duduk di tepi tempat tidurnya, melihat makanan hangat yang dibawakan oleh Bibi Nur. Dengan rasa syukur yang mendalam, ia mulai menyantap bubur dan susu, merasakan kehangatan dan energi yang dibutuhkan tubuhnya yang lemah. Setiap suapan memberinya kekuatan untuk menghadapi hari itu.
Setelah selesai makan, Zayyan beranjak dari tempat tidur dengan hati-hati, menghindari rasa sakit dari luka-lukanya. Ia tahu hari ini adalah hari penting, hari di mana ia harus pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan terapi terkait penyakit yang dideritanya. Dengan langkah pelan, Zayyan menuju kamar mandi. Air hangat dari pancuran memberikan sedikit kenyamanan pada tubuhnya yang lelah dan sakit.
Usai mandi, Zayyan mengenakan pakaian bersih dan merapikan dirinya di depan cermin. Wajahnya terlihat pucat, namun matanya memancarkan tekad yang kuat. Ia mengemasi tasnya dengan dokumen medis dan segala keperluan lain untuk di rumah sakit.
Sebelum meninggalkan kamar, Zayyan berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan berusaha menenangkan pikirannya. Ia tahu bahwa perjalanannya melawan penyakit ini tidak akan mudah, namun dukungan dari Bibi Nur dan harapan yang terus ia genggam memberikan kekuatan baginya untuk terus berjuang. Dengan langkah mantap, Zayyan meninggalkan kosannya, siap menghadapi pemeriksaan dan terapi yang menantinya di rumah sakit.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.