18 | drop

723 82 10
                                        

Setelah kejadian tak sadarkan diri di taman yang terbengkalai, kondisi Zayyan semakin memburuk. Efek dari kanker darah yang selama ini ia sembunyikan mulai terlihat jelas. Tubuhnya semakin lemah, wajahnya semakin pucat dan pendarahan dari hidungnya semakin sering terjadi. Namun, keluarganya tidak tahu-menahu tentang kejadian di taman itu dan betapa parah kondisinya saat ini. Zayyan selalu berhasil menyembunyikan penderitaannya di balik senyumannya.

Malam demi malam, Zayyan semakin sulit untuk tidur. Pikiran dan tubuhnya terasa terus menerus gelisah. Ia sering merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk yang tiada henti. Setiap kali ia menutup matanya, bayangan hitam dan suara-suara aneh mengganggunya. Ia merasa seperti mengalami halusinasi, melihat bayangan-bayangan aneh yang tidak nyata di sekitarnya. Keadaan ini membuatnya merasa seperti kehilangan kewarasannya.

Setiap kali merasa seperti akan gila, Zayyan mencoba mengalihkan perhatiannya dengan cara yang lebih ekstrem. Ia mulai menyakiti dirinya sendiri, berharap rasa sakit fisik bisa menghilangkan rasa halusinasi dan penderitaan batinnya. Setiap goresan di kulitnya menjadi pelarian dari rasa sakit yang lebih dalam yang tidak bisa ia ungkapkan pada siapa pun.

Suatu malam, ketika rasa sakit dan halusinasi mencapai puncaknya, Zayyan memutuskan berjalan menuju kamar mandi. Ia menyalakan lampu dan melihat bayangannya sendiri di cermin. Wajah yang pucat, mata yang cekung, dan tubuh yang semakin lemah terpampang jelas di hadapannya. Ia merasakan dorongan kuat untuk melarikan diri dari semua ini, tetapi tidak tahu harus kemana.

Zayyan mengambil pisau cukur dari rak dan mulai menggoreskan ujung tajamnya ke kulit pergelangan tangannya. Rasa sakit fisik yang tajam memberinya sedikit pelarian dari rasa sakit emosional yang tak tertahankan. Namun, ia tahu bahwa ini bukan solusi, hanya pelarian sementara dari kenyataan yang menghantuinya setiap hari.

Semenjak rasa sakit itu bertambah, Zayyan sudah dua hari tidak keluar dari kamarnya. Keluarganya tidak curiga karena mereka mempercayakan pemantauan Zayyan kepada pelayan pribadi yang telah ditugaskan. Mereka percaya bahwa pelayan itu akan menjaga Zayyan dengan baik. Namun, kenyataannya berbeda. Sang pelayan tampak tidak peduli pada Zayyan, hanya memberikan makan dan obat-obatan tanpa perhatian lebih. Pelayan itu mungkin sedikit benci dan risih terhadap Zayyan, menganggap kehadirannya sebagai beban tambahan.

Malam itu, Zayyan berbaring di tempat tidurnya dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang gelap. Rasa sakit yang menjalar di tubuhnya terus menerus menghantui, seolah-olah puluhan, ratusan, bahkan jutaan rasa nyeri berkoloni dalam tubuhnya. Setiap tarikan napas terasa berat, seolah-olah darahnya ingin meledak dan tulang-tulangnya yang lemah tidak mampu lagi menahan beban tubuhnya.

Rasa sakit itu datang dalam gelombang, setiap denyutnya membuatnya menggeliat tanpa bisa menemukan posisi yang nyaman. Ketika Zayyan mencoba menenangkan dirinya, rasa nyeri itu semakin kuat, menjalar dari ujung jari kaki hingga ke kepala. Keringat dingin mengucur deras di dahinya, dan napasnya semakin memburu.

Ia mencoba beralih posisi berharap bisa menemukan kenyamanan meskipun sejenak. Namun, tidak ada yang bisa mengurangi rasa sakit yang ia rasakan. Setiap kali ia bergerak, rasa sakit itu seolah-olah menggigit lebih dalam, membuatnya menggertakkan gigi dan menggenggam selimut dengan erat.

Matanya yang sayu memandang sekeliling kamar, berusaha mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya dari penderitaan ini. Namun, hanya kesunyian yang menemani, membuat rasa sakitnya semakin terasa nyata dan tak tertahankan. Zayyan teringat kembali kata-kata nenek dalam mimpinya.

"Jagalah kesehatanmu."

Dalam keputusasaannya, Zayyan berharap ada seseorang yang bisa meredakan penderitaannya. Namun, pelayan yang seharusnya menjaga dan membantunya justru bersikap acuh tak acuh. Zayyan merasa terjebak dalam lingkaran rasa sakit yang tidak berujung, sendirian menghadapi malam yang panjang.

Jam terus berdetak, tetapi waktu terasa begitu lambat bagi Zayyan. Setiap detik berlalu dengan penuh penderitaan. Dia menutup matanya, berharap bisa terlelap meskipun sejenak, tetapi rasa sakit itu tidak memberinya kesempatan untuk istirahat. Di tengah penderitaannya, air mata mengalir di pipinya.

Ketika fajar mulai menyingsing, Zayyan masih terbaring di tempat tidurnya dengan mata yang lelah dan tubuh yang sakit. Dia tahu bahwa hari baru telah tiba, tetapi rasa sakit yang mendera tubuhnya belum berkurang. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Zayyan mencoba bangkit dari tempat tidur, bersiap menghadapi hari yang penuh dengan penderitaan yang sama.

Zayyan ingin bangun dari tempat tidurnya untuk meminta bantuan kepada orang tua dan saudara-saudaranya. Dengan perlahan, ia mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa berat dan nyeri. Ketika akhirnya ia berhasil bangkit dari kasurnya, kakinya tiba-tiba menjadi lemah dan lemas. Tanpa bisa menahan diri, ia terjatuh tengkurap ke lantai, merasakan rasa sakit yang tajam seolah-olah diinjak oleh puluhan orang.

Zayyan meringis, berusaha menekan kakinya untuk mencoba berdiri lagi. Namun, setiap kali ia memberikan tekanan, rasa sakit itu semakin menyengat, dan kulitnya yang sekarang sangat sensitif terhadap sentuhan mulai lebam. Setiap gerakan terasa seperti siksaan, membuatnya semakin terpuruk dalam penderitaan.

Terbaring di lantai, Zayyan memandang ke arah pintu kamar, berharap ada seseorang yang datang untuk membantunya. Tapi ruangan itu sunyi, hanya ada dirinya dan rasa sakit yang tak tertahankan.

Dalam keputusasaan, pikirannya mulai berkelana ke tempat yang gelap. Untuk apa ia hidup jika setiap saat yang dirasakannya hanya penderitaan? Setiap kali ia menemukan secercah kebahagiaan, musibah selalu datang mengikutinya, menghancurkan harapannya.

Zayyan muak dengan kondisinya sekarang. Kenapa dia harus menanggung beban ini sendirian? Mengapa kebahagiaan selalu tampak begitu jauh dari jangkauannya? Air mata mulai mengalir dari matanya, mencerminkan rasa putus asa yang memenuhi hatinya. Dia merasa tak berdaya, terjebak dalam tubuh yang terus memberontak melawan setiap usaha untuk hidup normal.

Zayyan menangis sendu, air mata mengalir di wajahnya yang pucat dan lelah. Kondisinya begitu ironis di tengah keluarga yang penuh kasih, dia merasa begitu kesepian dalam penderitaannya.

Tubuhnya yang dulu sehat kini ditutupi bintik-bintik merah yang disebut petechiae, kulitnya mudah lebam dan berdarah hanya dengan sentuhan ringan. Rasa nyeri yang menusuk di tulangnya, kelelahan yang tak kunjung reda, dan keringat dingin yang membasahi tubuhnya membuat Zayyan hampir putus asa.

Dengan suara kecil yang lemah, Zayyan berusaha memanggil.

"Mama... Papa... Kakak... "

Kata-kata itu keluar dengan susah payah, namun cukup keras untuk memecah keheningan kamar. Tidak ada jawaban segera, dan rasa takut mulai menyelimuti hatinya. Dia merasa semakin lemah, seolah-olah kekuatannya mengalir keluar dari tubuhnya.

"Mama... Tolong Zayyan,"

suara Zayyan terdengar parau, hampir seperti bisikan yang tertelan oleh rasa sakit yang semakin menggila.

suara Zayyan terdengar parau, hampir seperti bisikan yang tertelan oleh rasa sakit yang semakin menggila

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

______________

Jika anda menyukainya silahkan dukung saya melalui vote,

terima kasih.

25-07-24
1014 kata

Harapan | Xodiac ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang