Suasana di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit terasa berat dan penuh kecemasan. Zayyan duduk di kursi belakang, dengan wajah yang pucat dan mata yang lelah, menatap keluar jendela mobil. Papanya, Louis, yang selalu tenang dan bijaksana, mengemudi dengan hati-hati. Di sebelah Zayyan, mamanya duduk dengan raut wajah yang penuh keprihatinan, mencoba memahami perubahan sikap anak bungsunya belakangan ini.
Louis telah memilih rumah sakit terbaik di kota untuk pemeriksaan kesehatan Zayyan. Mereka ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada putra mereka. Tubuh Zayyan yang penuh luka lebam dan wajahnya yang selalu pucat membuat mereka sangat khawatir. Mereka harus mengetahui kondisi Zayyan dengan pasti agar bisa memberikan perawatan yang tepat.
"Mama dan Papa ada di sini untukmu, Zayyan. Jangan khawatir," kata mamanya dengan suara lembut, mencoba menenangkan perasaan Zayyan yang terlihat gelisah.
Zayyan hanya bisa mengangguk pelan, mencoba menenangkan hatinya. Ia tahu bahwa mamanya dan papanya sangat peduli padanya, namun ia merasa takut untuk membicarakan kondisinya yang sebenarnya. Matanya terus memandangi pemandangan luar jendela, melihat deretan bangunan dan pepohonan yang berlalu.
Louis, sambil tetap fokus pada jalan, berkata dengan suara tegas namun penuh kasih, "Kita akan segera sampai di rumah sakit. Dokter-dokter di sana akan melakukan pemeriksaan lengkap. Kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi dan memastikan kamu mendapatkan perawatan terbaik."
Mamanya, yang duduk di samping Zayyan, meraih tangannya dan menggenggamnya erat. "Kami mencintaimu, Zayyan. Apapun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama," ucapnya dengan penuh kelembutan.
Zayyan merasakan ketenangan dari genggaman tangan mamanya, meskipun hatinya masih dipenuhi dengan kegelisahan. Ia berusaha untuk tetap tenang dan fokus pada cinta serta dukungan yang diberikan oleh orang tuanya.
Perjalanan terasa lebih lama dari biasanya, meskipun sebenarnya hanya memakan waktu beberapa menit. Setiap detik terasa berat bagi Zayyan yang terus mencoba menenangkan pikirannya. Mamanya terus menatapnya dengan penuh keprihatinan, berusaha mencari tahu apa yang terjadi dalam pikiran putranya.
Akhirnya, mereka tiba di rumah sakit. Louis memarkir mobil dengan hati-hati dan membantu Zayyan keluar. Mamanya juga keluar dari mobil, tetap menggenggam tangan Zayyan dengan erat. Mereka bertiga berjalan menuju pintu masuk rumah sakit, siap untuk menghadapi apapun yang akan mereka temui di dalam.
Zayyan menarik napas dalam-dalam, berusaha mempersiapkan diri untuk pemeriksaan yang akan dilakukan.
Di dalam ruangan pemeriksaan, Zayyan duduk di atas ranjang dengan perasaan cemas. Dokter memeriksanya dengan teliti, memeriksa setiap luka dan kondisi kesehatannya. Setelah beberapa saat, dokter menghentikan pemeriksaannya dan menatap Zayyan dengan serius.
"Zayyan, apakah kamu sudah tahu kondisi kesehatanmu sendiri?" tanya dokter dengan nada lembut namun penuh perhatian.
Zayyan mengangguk pelan, menundukkan kepala. Ia tahu bahwa dokter mengacu pada riwayat kanker yang dideritanya.
"Kenapa kamu tidak memberitahu orang tuamu tentang kondisi ini?" lanjut dokter, mencoba memahami alasan di balik keputusannya.
Zayyan tetap diam, matanya berkaca-kaca. Ia tidak ingin melihat keluarganya sedih dan khawatir, terlebih lagi setelah baru saja bertemu kembali dengan mereka. Beban emosional yang ia rasakan membuatnya sulit untuk berbicara tentang penyakitnya.
Setelah pemeriksaan selesai, Zayyan keluar dari ruangan dokter dan berjalan menuju ruang tunggu. Papa dan mamanya berdiri ketika melihatnya mendekat. Mereka menatapnya dengan penuh kekhawatiran dan harapan.
"Bagaimana, Nak?" tanya mamanya dengan suara bergetar.
Zayyan duduk di kursi di antara mereka, mencoba memberikan senyuman kecil untuk menenangkan mereka. "Pemeriksaannya sudah selesai," jawabnya singkat, mencoba menghindari pertanyaan lebih lanjut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harapan | Xodiac ✔
Hayran KurguHai perkenalkan aku jiwa yang bertahan Zayyan namanya seorang laki-laki yang selalu diterpa oleh segala rintangan. Bohong rasanya jika ia selalu berkata kuat, nyatanya ia sangat membutuhkan sandaran untuk bertahan melawan segala rintangan. "Tugasku...
