Di sebuah mansion megah yang dikelilingi oleh taman-taman indah, hiduplah sebuah keluarga yang luar biasa. Di pusat keluarga ini adalah sepasang kekasih yang begitu serasi, bagaikan malaikat yang turun ke bumi untuk memberikan cinta dan kehangatan kepada delapan anak mereka.
Sang ibu, bernama Celia, adalah sosok yang begitu cantik jelita. Wajahnya lembut, dengan senyuman yang bisa memabukkan siapa saja yang melihatnya. Matanya yang teduh selalu memancarkan kedamaian dan ketulusan, membuat siapa pun yang berinteraksi dengannya merasa nyaman dan dicintai. Celia dikenal tidak hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena sifatnya yang anggun dan penuh kasih sayang. Setiap gerakannya memancarkan kelembutan, dan setiap kata yang keluar dari bibirnya selalu membawa ketenangan.
Sang ayah, bernama Louis, adalah pria tampan dengan aura yang tegas namun lembut. Wajahnya memancarkan kepercayaan diri dan kebijaksanaan, sementara matanya yang tajam memancarkan perhatian dan cinta yang mendalam bagi keluarganya. Louis adalah pemimpin yang tegas, tetapi di rumah, dia adalah suami dan ayah yang penuh perhatian. Dia selalu memastikan bahwa setiap anggota keluarganya merasa dihargai dan dicintai.
Malam itu, keluarga besar ini berkumpul di ruang makan yang luas dengan meja panjang yang elegan. Makanan lezat tersaji di atas meja, dan suasana dipenuhi dengan aroma harum yang menggugah selera. Celia dan Louis duduk di ujung meja, mengawasi delapan anak mereka yang duduk rapi di sepanjang meja.
Ketika mereka mulai makan, suasana di ruangan itu begitu tenang dan damai. Hanya terdengar suara dentingan halus alat makan yang beradu dengan piring. Anak-anak menikmati hidangan dengan penuh kesopanan, sementara sesekali tersenyum atau mengangguk kepada satu sama lain. Setiap anak memiliki cerita dan kepribadian yang unik, namun kebersamaan mereka di meja makan itu mencerminkan harmoni dan cinta yang mendalam.
Celia dan Louis saling memandang dengan penuh cinta dan kebanggaan. Bagi mereka, momen makan bersama seperti ini adalah waktu berharga untuk merayakan kebersamaan dan kasih sayang yang mereka tanamkan dalam keluarga. Celia sesekali menyapa anak-anaknya dengan senyuman lembut, sementara Louis memberikan kata-kata dorongan dan pujian kepada mereka.
Di tengah suasana hangat dan penuh kebahagiaan itu, ada satu momen yang selalu membuat hati Celia terasa pilu. Sesekali, pandangannya tertuju pada kursi kosong di sampingnya, tempat yang seharusnya diduduki oleh si bungsu yang hilang sejak berusia enam tahun. Wajahnya yang lembut dan anggun sedikit berubah, matanya yang biasanya teduh kini menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Celia mengingat hari-hari ketika si bungsu masih ada bersama mereka. Tawa riangnya, suara kecilnya yang memanggil "Mama," dan pelukannya yang hangat selalu terbayang di benaknya. Rasa rindu yang tak tertahankan membuatnya sering kali menatap kursi kosong itu, berharap suatu hari nanti si bungsu akan kembali dan mengisi kekosongan di meja makan mereka.
Louis, yang duduk di ujung meja, memperhatikan perubahan pada wajah istrinya. Dia tahu betul betapa besar kerinduan Celia terhadap si bungsu. Dengan penuh perhatian dan cinta, dia meraih tangan Celia dan menggenggamnya erat.
"Kita akan menemukannya, Celia. Aku janji," bisiknya lembut, mencoba menenangkan hati istrinya yang gelisah.
Celia tersenyum tipis, meskipun air mata hampir menggenang di sudut matanya. "Aku tahu, Louis. Aku percaya padamu," jawabnya pelan. Sentuhan tangan suaminya memberikan kekuatan dan harapan baru. Dia tahu bahwa Louis selalu berada di sisinya, mendukung dan mencintainya tanpa syarat.
Setelah momen penuh emosi itu, Louis memberikan isyarat kepada anak-anak untuk melanjutkan makan malam. Suasana kembali dipenuhi dengan tawa dan cerita-cerita yang menghangatkan hati. Celia berusaha mengalihkan pikirannya dari kesedihan, menikmati kehadiran anak-anaknya yang lain dan kebersamaan yang mereka miliki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harapan | Xodiac ✔
FanficHai perkenalkan aku jiwa yang bertahan Zayyan namanya seorang laki-laki yang selalu diterpa oleh segala rintangan. Bohong rasanya jika ia selalu berkata kuat, nyatanya ia sangat membutuhkan sandaran untuk bertahan melawan segala rintangan. "Tugasku...
