19 | cemas

673 77 0
                                        

Celia menatap cemas pada jam dinding yang mengkilat di ruang mewah itu. Angka-angka di jam seakan bergerak lebih lambat, semakin menambah kegelisahannya. Kini, dia berada di luar kota, duduk di samping ibunya di ruang tamu yang elegan. Mereka sedang berbincang tentang keadaan Zayyan, anak bungsu Celia yang sedang sakit parah di rumah.

"Bagaimana kabar Zayyan, sayang?" tanya ibunya, suaranya lembut namun penuh kekhawatiran.

Celia menghela napas panjang sebelum menjawab. "Dia masih sama, Bu. Aku ingin sekali membawanya bersamaku, tapi kondisi Zayyan tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh. Aku terpaksa meninggalkannya dan mempercayakan perawatannya pada salah satu pelayan lama kami."

Ibunya mengangguk dengan pengertian, tapi ibunya bisa melihat kekhawatiran yang sama terpancar di mata Celia.

"Kau sudah melakukan yang terbaik, Celia. Tapi, perasaan seorang ibu memang sulit untuk diabaikan."

Celia mengangguk, matanya kembali tertuju pada jam dinding. "Aku tahu, Bu. Tapi semakin lama aku di sini, semakin kuat perasaan tidak enak ini. Aku merasa Zayyan butuh aku sekarang."

Ibunya memegang tangan Celia dengan lembut. "Jika kau merasa begitu, mungkin sebaiknya kau kembali. Zayyan pasti akan merasa lebih baik dengan kau di sisinya."

Celia tersenyum tipis, merasa sedikit lebih tenang dengan dukungan ibunya. "Ya, kau benar, Bu. Aku akan segera kembali."

Setelah berpamitan dengan ibunya, Celia segera membereskan barang-barangnya dan memesan tiket untuk penerbangan paling cepat kembali ke rumah. Dalam perjalanan menuju bandara, pikirannya penuh dengan kekhawatiran tentang Zayyan. Dia berharap pelayan yang ditugaskannya untuk merawat Zayyan melakukan pekerjaannya dengan baik, tetapi hati kecilnya tetap merasa cemas.

Sesampainya di mansion, Celia disambut hangat oleh para pelayan, namun ia tak peduli. Pikirannya hanya tertuju pada Zayyan. Ia segera menuju kamar anak bungsunya. Saat membuka pintu, pemandangan di depannya membuat darahnya berdesir. Zayyan terbaring lemah di lantai, kondisinya sangat parah.

"Zayyan!" teriak Celia, suaranya penuh kepanikan dan kekhawatiran.

Ia segera berlari menghampiri putranya dan memeluk tubuh kecil itu dengan erat. Tubuh Zayyan sangat dingin, namun penuh keringat. Celia bisa merasakan betapa rapuhnya Zayyan di pelukannya, membuat hatinya terasa hancur berkeping-keping.

"Ya ampun, sayangku. Maafkan Mama, nak... Mama salah memilih pelayan untuk merawatmu. Zayyan, sayang, yang kuat ya, nak. Ayo, kita ke rumah sakit segera," kata Celia dengan suara bergetar, air matanya mengalir deras di pipi.

Zayyan hanya bisa menatap Celia dengan lemah, bibirnya bergetar mencoba berbicara namun tak ada suara yang keluar. Celia mencium kening anaknya, merasakan dinginnya kulit Zayyan di bibirnya. Dia menangis histeris, merasa sangat bersalah dan tak berdaya.

Celia segera memanggil pelayan yang lain untuk membantunya mengangkat Zayyan. "Cepat, kita harus bawa Zayyan ke rumah sakit sekarang!" teriaknya dengan panik.

Pelayan-pelayan itu segera bergerak cepat, memanggil mobil dan menyiapkan segala sesuatunya. Celia terus memeluk Zayyan erat-erat, berusaha memberikan kehangatan dan kenyamanan pada putranya yang sedang menderita.

"Maafkan Mama, sayang. Maafkan Mama..." bisiknya sambil terus menangis.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, Celia berdoa agar Zayyan bisa mendapatkan perawatan yang dibutuhkan segera. Dia tidak akan membiarkan siapa pun atau apa pun menghalangi usaha untuk menyelamatkan putranya. Keberadaan Zayyan adalah segalanya bagi Celia dan dia siap melakukan apa saja demi kesembuhan anaknya.

Di dalam mobil menuju rumah sakit, Celia segera mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon suaminya, Louis. Suaranya penuh dengan kepanikan dan kekhawatiran saat berbicara.

Harapan | Xodiac ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang