16 | bathtub

665 79 11
                                        

Zayyan duduk termenung di tepi jendela kamarnya yang menghadap taman mansion. Malam itu terasa dingin namun angin sepoi-sepoi yang menyelusup lewat celah jendela memberikan ketenangan yang aneh. Cahaya bulan memantul lembut di permukaan danau kecil di taman, menciptakan bayangan-bayangan yang indah di antara pepohonan.

Zayyan menghela napas panjang. Sudah satu hari berlalu saat keluargany mengetahui penyakitnya. Meski begitu, bayang-bayang ketakutan dan ketidaknyamanan masih sering menghantuinya. Kini, setiap malam dia menemukan dirinya duduk di jendela menikmati kesunyian malam yang menenangkan dan merenungkan kehidupannya yang penuh liku.

Ia menatap keluar mengamati taman yang sepi namun terasa hidup dengan segala keindahan alamnya. Pikirannya melayang pada peristiwa-peristiwa yang telah dilaluinya. Dari saat pertama kali ia ditemukan dan dibawa kembali ke keluarga yang dulu hanya ada di dalam ingatannya yang samar hingga kenyataan pahit tentang kesehatannya yang rapuh.

Suara lembut daun-daun yang bergesekan tertiup angin mengingatkannya pada masa kecilnya yang terenggut. Ia mencoba mengingat lebih banyak tentang keluarganya sebelum semua berubah sebelum ia diculik dan mengalami berbagai penderitaan. Namun, ingatan itu masih kabur seperti bayangan yang selalu menjauh setiap kali ia mencoba mendekatinya.

Tiba-tiba, Zayyan merasakan kehangatan di pundaknya. Ia menoleh dan melihat Celia, mamanya berdiri di sampingnya. Celia tersenyum lembut, matanya penuh cinta dan kekhawatiran.

"Kau tidak bisa tidur lagi?" tanya Celia dengan suara lembut.

Zayyan hanya menggeleng pelan, menatap kembali ke luar jendela. Celia duduk di sampingnya, menatap ke arah yang sama.

"Taman ini selalu indah, terutama di bawah cahaya bulan," kata Celia pelan, seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri.

"Dulu, ketika kau masih kecil, kita sering duduk di sini bersama, menikmati malam seperti ini."

Zayyan menoleh, matanya bertemu dengan tatapan penuh kasih Celia. "Aku merasa... merasa begitu asing di sini, Ma," kata Zayyan akhirnya, suaranya bergetar.

"Aku tahu kalian mencintaiku, tapi aku masih berusaha untuk merasa seperti bagian dari keluarga ini."

Celia mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Kami semua tahu, sayang. Dan kami akan selalu ada di sini untukmu tak peduli berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk merasa nyaman. Kau adalah bagian dari keluarga ini, Zayyan. Kami mencintaimu tanpa syarat."

Hari sudah tengah malam ketika Celia menyuruh Zayyan untuk tidur dan beristirahat. "Kau harus tidur yang cukup, sayang. Kondisimu bisa bertambah buruk kalau kau terus begadang," katanya dengan lembut sambil menyelimuti Zayyan di tempat tidurnya. Zayyan mengangguk patuh, meskipun hatinya penuh dengan kebingungan dan ketidaknyamanan.

Zayyan berbaring di tempat tidurnya, tetapi matanya tetap terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang gelap. Suasana terlalu sunyi. Ia merindukan suara yang bisa menenangkan hatinya seperti ketika ia berada di taman atau ketika angin bertiup di malam hari. Ia merasa gelisah, tak bisa tidur dalam keheningan yang mencekam.

Setelah beberapa saat berguling-guling, Zayyan akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia meraih boneka kesayangannya dan selimut tebal yang selalu memberikan rasa nyaman. Langkah kakinya pelan saat ia menuju kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi terbuka, Zayyan merasa sedikit lega. Suara tetesan air dari keran yang sedikit terbuka memberikan rasa tenang.

Zayyan duduk di bathtub, menarik selimutnya erat-erat sambil memeluk boneka kesayangannya. Ia merasakan dinginnya udara malam yang masuk lewat jendela kecil kamar mandi, menyentuh kulitnya dengan lembut. Suara air yang terus menetes memberikan irama yang menenangkan, seolah-olah berbisik lembut di telinganya.

Harapan | Xodiac ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang