(Sasgara & Amora)
17+⚠️
Bagaimana mungkin kejadian satu malam mampu merubah kehidupan seorang?.
Sasgara Errian Zilardion. Menghabiskan satu malam yang indah bersama Adik temannya, tidak pernah terbayang dalam benaknya.
Setelah kejadian satu malam ya...
Kalo suka cerita ini, tolong vote and comment yaa. Hihi.
ありがとうね! ☺︎
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
74. SEBUAH KEBENARANNYA
Jari lentik itu mulai bergerak, bau obat mulai masuk ke indra penciumannya sampai ia sedikit mual. Kelopak matanya terbuka sedikit yang terlihat buram, ia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali sampai ia bisa melihat tembok yang bercat putih itu dengan jelas. Diliriknya seseorang yang tengah bersandar di kursi yang sedang melamun sampai tidak menyadari jika dirinya sudah sadar.
"Sas--Sasgara" Panggilnya, ia ingin menegakkan badannya tapi rasa pusing menyerang kepalanya sampai orang disampingnya merasa panik dan memegangi badannya.
"Pelan-pelan" Sasgara membantu Amora untuk duduk, kemudian ia duduk kembali di kursi dan menciumi tangan Amora yang sedang ia genggam.
"Kapan kau sadar? Kenapa aku tidak menyadarinya?" Sasgara memandang Amora yang sedang memandangnya balik.
"Beberapa menit yang lalu saat kau melamun" Jawabnya dengan suara parau dan lemas.
"Kau ingin minum?" Tawar Sasgara.
"Narendra dan Nayyara?" Tanya Amora saat otaknya kembali berfungsi dan ingatan sudah kembali normal. Kedua mata Amora sudah memanas karena mengingat kondisi kedua anaknya, yang membuat hatinya seketika sesak.
Sasgara rasanya tidak tega melihat kondisi Amora. Rasa bersalah kembali muncul dibenaknya, kemudian ia memeluk Amora dan mencangkup wajahnya diantara telapak tangannya. Mereka saling memandang satu sama lain, tanpa diduga air mata Amora mengalir begitu saja.
"Hei, jangan menangis" Sasgara mengusap lelehan air mata itu.
"Semuanya akan baik-baik saja, bukankah sudah aku bilang jika kita akan menghadapinya bersama-sama?"
Amora meremas tangan Sasgara dan tanpa diduga ia memeluk Sasgara, lalu menangis di dalam dekapannya.
"Sasgara, apa aku Ibu yang buruk? Sehingga tidak bisa menjaga kedua anakku, rasanya hatiku sangat sakit melihat mereka terluka. Aku Ibu yang buruk"
"Jangan katakan itu" Tangan Sasgara mengusap punggung Amora yang bergetar "Kau Ibu yang sangat baik, yang bisa membesarkan kedua anak dengan tanganmu sendiri. Kau mengandung, melahirkannya dan mengurus mereka tanpa diriku, kau bisa mengurus keduanya tanpa bantuanku, kau adalah seorang Ibu yang sangat luar biasa, sayang"
Sejujurnya Sasgara sangat marah, marah pada dirinya sendiri karena tidak ada disisi Amora saat Amora mengandung dan melahirkan kedua anaknya. Tapi Amora bisa melahirkan kedua anaknya dan membesarkan mereka tanpa kehadiran dirinya adalah sebuah hal yang luar biasa, dan ia bangga kepada Amora.