(Sasgara & Amora)
17+⚠️
Bagaimana mungkin kejadian satu malam mampu merubah kehidupan seorang?.
Sasgara Errian Zilardion. Menghabiskan satu malam yang indah bersama Adik temannya, tidak pernah terbayang dalam benaknya.
Setelah kejadian satu malam ya...
Kalo suka cerita ini, tolong vote and comment yaa. Hihi.
ありがとうね! ☺︎
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sudah ku bilang payung hanya bisa dipakai untuk dua orang. Jika ada yang ketiga, maka salah satunya harus siap diguyur hujan beserta badainya."
-AMORA EDELWEISS-
48. SASGARA SADAR?
Suara katak yang saling bersautan dan juga suara rintik hujan diluar membuat suasa malam semakin dingin, terutama bagi perempuan yang sedang terduduk sambil menangis seolah-olah hujan itu menjadi temannya karena saat ia menangis pasti suara hujan yang menemaninya.
"Apa separah itu sampai lo gak rawat diri lo sendiri? Dan, juga gak makan dengan baik?" Ujar Amora pada tubuh kaku yang terbaring dengan kedua mata yang masih menutup.
Kedua mata Amora terus memandangi wajah pucat Sasgara, sesekali ia menangis dan menciumi tangan besar milik Sasgara. Amora tidak tau kenapa semakin ia ingin melepaskan Sasgara semakin hatinya sakit dan sesak, jika ditanya apakah ia mencintai Sasgara jawabannya, iya! Mungkin, ia adalah perempuan yang sangat bodoh mencintai pria yang tidak mencintainya dan hanya bisa menyakitinya saja.
"Apa lo juga sama-sama terpukul atas kematian Alesha?"
Tidak ada jawabannya hanya ada suara rintik hujan diluar sana.
"Apa lo sayang sama dia, Sasgara?"
Amora mencium tangan Sasgara dengan tetesan air mata yang terjatuh dari pelupuk matanya.
"Jika seandainya Alesha masih ada, apa lo akan mencintai dia dengan hati yang ikhlas? Atau justru kebalikannya? Dan, apakah setelah rahasia lo terbongkar, lo akan ninggalin gue sama Alesha?"
Amora menyeka air matanya lalu ia tersenyum pada Sasgara yang masih setia menutup kedua matanya "Gue tau gue istri yang gak baik dan gak becus sehingga lo milih selingkuh dari gue. Tapi kenapa lo milih selingkuh ketimbang ngasih tau gue dimana kesalahan gue, apa gue ini salah dalam hal berucap atau gue ini nyakitin perasaan lo sehingga lo gak terima, apa sesusah itu membimbing istri lo sendiri? Apa gue seburuk itu dimata lo?"
Kedua mata Amora tidak henti-hentinya menangis, air matanya tidak bisa lagi ia cegah. Memikirkan masalah beberapa hari ini, membuat Amora kembali dilanda amarah dan hatinya begitu sesak.