3.4--A Decision

1K 113 79
                                        

"Mas Wisnu!" tegur Sacha galak. Dia menggamit pergelangan tangan Wisnu cukup kencang untuk mendapat perhatiannya, dan aksinya itu sukses membuat Wisnu menoleh padanya seketika. "That's enough," desisnya kesal.

Wisnu menghembuskan nafasnya kencang. "Saya butuh privasi sebentar."

"Mas, aku nggak tau ya niat Mas Wisnu dateng ke sini tuh sebenernya apa, but please, don't provoke Diego because you don't know anything!" omel Sacha begitu Diego pergi meninggalkannya berdua bersama Wisnu di ruang tamu.

"Mas cuma khawatir sama kamu," sahut Wisnu dengan nada yang mulai meninggi. "Kamu tuh adek satu-satunya yang mas punya. Waktu mas denger kabar kalo kamu hilang dari rumah dan tiba-tiba spotted here, in Europe, so far away from home, mas khawatir banget."

Sacha berdecih. "Cih, khawatir? After you abandoned me all these years? Mas nggak usah pura-pura begitu deh. Ngontak aku lagi buat sekedar say hello aja nggak pernah," sindirnya dengan sinis, sukses membuat ekspresi wajah Wisnu berubah pias. "Just tell me what's your intention. Also, gimana mas bisa tau keberadaanku di sini?"

Wisnu memijat-mijat batang hidungnya begitu Sacha menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Masalahnya adalah, semua ini terlalu kompleks dan dia tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya. Dia menghela nafas berat. 

"First thing first, I never have any intention to abandon you at all. Pengaruh ayah terlalu kuat buat ayah lawan dan mas nggak punya pilihan lain waktu itu. Just so you know kalo waktu itu ayah ngancam mas buat pindah ke Aussie dengan bawa-bawa nama kamuour dad is crazy and we both know it better than anyone," tuturnya. Sacha yang mendengar fakta baru itu mulai luluh. Dia mulai menatap wajah kakak laki-lakinya itu dengan benar dan menyimak perkataan selanjutnya.

"Mas selalu mantau kabar kamu lewat Joshua karena ayah nggak pernah biarin mas kontakan sama kamu lagi."

Sacha tidak menanggapi apapun. Dirinya sibuk bergulat dengan konflik internal di dalam dirinya sendiri.

"About your next question... waktu pertama kali ayah sadar kalo kamu hilang, dia langsung minta mas pulang ke Indonesia. Dia minta mas cari keberadaan kamu secepatnya. I had literally no clue selain kemungkinan kalo kamu diculik atau justru kabur dari rumah sama bodyguard baru kamu ituDiego?" 

Sacha mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum simpul. Kedua tebakan kakak laki-lakinya itu entah bagaimana benar semua. Dia memang awalnya 'kabur dari rumah' bersama Diego tanpa menyadari bahwa dia sedang 'diculik'. 

"Butuh waktu lama buat mas nyari jejak-jejak kamu. Pencarian kita berhenti di Bali, setelah anak buah mas berani mastiin kalo kalian mungkin udah nggak ada lagi di Indonesia dan terbang entah sampai ke belahan dunia yang mana."

Ah, dia jadi teringat momen itu lagi. Ketika Diego tiba-tiba membangunkan dirinya dari tidur lelap. Mereka harus mengendap-endap untuk mengelabui pria-pria yang ternyata suruhan kakaknya itu malam-malam.

"Mas hampir nyerah karena ternyata kalian nyembunyiin keberadaan kalian dengan sangat rapi. Sampai ketika mas dapet laporan kalo ada rekam jejak penggunaan kartu kreditmu yang aktif dari daerah Austria."

Oh, untuk yang satu itu Sacha mengaku kalah. Dia terlalu termakan emosinya saat itu hingga tidak bisa berpikir rasional. Sekarang, pertanyaannya terjawab sudah.

"Mas segera minta kenalan mas di Aussie buat ngumpulin info dan ngikutin jejakmu sampai ke sini. And that's it, I guess," Wisnu menutup penjelasannya dengan tenang. Kontras dengan ekspresi wajah Sacha yang kini menegang lagi.

"Mas... you stalked me?" tanya Sacha pelan. Di balik nada suaranya tersirat kengerian yang terdengar samar-samar.

"I'm sorry, mas nggak punya pilihan lagi," balasnya buru-buru. Dia mencoba untuk meraih pergelangan tangan adiknya itu, tetapi Sacha menepisnya dengan keras.

The Nightingale's Operation [Doshin] || CompletedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang