MENGINGAT LUKA

5K 240 106
                                        

📌 jangan lupa vote dan comment nya ya gusyyy!

Gusyy! Follow akun ig ntshnrsftri & author.baskaraura
Ada sesuatu

2. Mengingat Luka


"Malam itu dibuat untuk tidur, Ra. Bukan buat nangis"

~Baskara Alfin Millanio~

*
*
*
*
*

         Malam ini kota sedang diguyur hujan tanpa henti. Sudah hampir 3 jam air turun menembus kegelapan malam tidak kunjung mereda. Jalanan kota tampak begitu sepi dan sunyi. Hanya ada beberapa pengendara yang masih berlalu lalang. Entah apa yang mereka lakukan ketika hujan seperti ini.

        Tidak ada hentinya suara petir dan hembusan angin yang masih terdengar begitu jelas. Jalanan sudah mulai digenangi oleh air yang semakin meninggi.

        Hujan pertama di ibu kota yang menemani dua anak manusia yang duduk berdampingan di sebuah balkon kecil yang terus memandangi air hujan yang tidak kunjung berhenti.

        Hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Tidak ada yang berminat untuk membuka suara. Mereka hanya asik dengan dunianya sendiri. Entah apa yang sedang mereka pikirkan.

        Entah sudah berapa lama Aura membiarkan traumanya kembali kambuh. Satu tahun terakhir ini Aura terlalu memaksa tubuhnya. Dan dugaan orang-orang akan kehidupan dan kepribadian Aura setelah kepergian Papanya dan Alden yang hanya berjarak 2 bulan, benar-benar berubah drastis.

        Hujan. Satu hal yang sangat Aura benci.

        "Udah malem, Ra, masuk!" Akhirnya cowok dengan jaket hitam dengan gambar burung elang kebanggaan itu membuka suara.

        "Lo masuk aja, gue masih mau di sini," jawabnya dengan selimut yang masih menutupi tubuh mungilnya itu.

        Baskara menatap ke arah Aura yang masih duduk dengan memeluk kedua kakinya sendiri. Menatap ke depan dengan tatapan kosong.

        "Malam, Ra, seharusnya lo tidur. Bukan nangis sampai sesenggukan kayak gini." Baskara merangkul tubuh Aura yang terguncang hebat akibat isak tangisnya. Cowok itu membawa Aura ke dalam pelukannya. Mengelus dengan begitu halus rambut panjangnya.

        "Hiks... hikssss.." Aura menyandarkan kepalanya pada dada bidang Baskara yang lebar itu. Terasa begitu hangat dan sangat nyaman. Kedua tangannya memeluk cowok itu dengan begitu erat.

        "Entah apa yang kakak gue lakuin ke lo sampai sesedih ini, Ra."

        "Kakak lo pergi terlalu jauh, Fin, kakak lo curang," jawabnya dengan lirih. Namun, masih bisa terdengar oleh Baskara.

        "Udah satu tahun kepergian Kak Alden, gue harap lo bisa nerima semua ini." Aura menggeleng dengan kepala yang masih bersembunyi di pelukan cowok itu.

        "Setelah semua kesempurnaan, kebahagiaan yang diberikan Kakak lo..... " Aura menjeda ucapannya. Dia mendongak, menatap Baskara yang kini juga menatapnya. "Gue nggak bisa lupain itu semua, Alfin. Semakin hari ingatan tentang kebahagiaan, kenangan bersama Alden semakin nampar gue." Aura bersandar di tubuh Baskara yang sangat membuat dirinya merasa begitu nyaman. Dia tersenyum dan memejamkan kedua matanya. Rasanya sangat sama. Dia selalu merasa nyaman ketika begitu dekat dengan Baskara. Entah itu karena Alden dan Baskara Adik Kakak atau entah mengapa.

        "Semakin hari gue semakin dibuat sakit oleh takdir yang harus gue terima. Gue kira semakin jauh gue melangkah, semakin gue melupakan semuanya, tapi nyatanya enggak. Gue setiap hari ditampar berkali-kali oleh masa lalu gue," jelasnya.

BASKARAURA [ TERBIT ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang