ISTIRAHAT BUKAN UNTUK MENYERAH

817 20 1
                                        

Jangan lupa vote, comment dan Follow !

Rpm (ramadhan produktif menulis)

Happy Reading:v

57. Istirahat Bukan Untuk menyerah

"Tidak ada cinta yang begitu tulus selain cinta dari Papa, Mama dan seseorang yang selalu ada untukmu"

~Ronioraf~

*
*
*

        Tubuh kecil dan terlihat sedikit kurus itu nampak begitu pucat dari beberapa waktu sebelumnya. Baskara berjalan mendekat dengan perasaan khawatir yang kian kembali memuncak.

        Baskara mengernyit, cowok itu berdiri tepat di samping ranjang rawat yang dipakai oleh Aura. Tangan kekarnya langsung meraba wajah pucat Aura. Terasa sangat panas dan Aura benar-benar demam.

        Tanpa menunggu waktu lama, Baskara langsung keluar dari kamar rawat Aura untuk memanggil Bunga yang entah ada dimana.

        Lima menit berlalu, Bunga. Rolan. Alden, Harvey, Sangga dan Baskara dengan tangan yang membawa baskom berisi air.

        "Mama,"

        Tiba-tiba suara Aura terdengar. Cukup samar dan seperti hanya bergumam, tapi mampu terdengar di telinga mereka semua. Semua pasang mata kini semakin menatap Aura yang mengigau dengan perasaan iba.

        "Mama, Papa..."

        Lagi, Aura semakin tidak tenang. Wajahnya semakin pucat, keringat dingin mulai mengucur dengan deras. Tubuhnya juga semakin menggigil di balik selimut yang dia remas di depan dada.

       "Kompres, Kara" Baskara menganggukkan kepala. Cowok gagah dan terlihat begitu khawatir itu duduk di samping ranjang Aura dan mulai membawahi handuk yang dia bawa.

        Rasa takut kembali menyelimuti diri Baskara. Hal-hal yang bersangkutan dengan Aura akhir-akhir ini selalu membuatnya tidak tenang. Semua rentetan kejadian yang begitu apik membuatnya begitu marah. Namun, melihat kondisi Aura yang masih begitu rapuh membuatnya sedikit menahan diri untuk melampiaskan semua yang ia rasakan.

        "Hikss...hiks.."

        Aura tiba-tiba terisak. Baskara yang baru saja meletakkan handuk di kening gadis itu semakin khawatir.

        "Ma?" Baskara menatap Bunga dengan sorot mata yang sulit di artikan. Bunga yang mengerti bagaimana khawatirnya Baskara, kini mengangguk kecil. Memberi Baskara keyakinan bahwa tidak akan terjadi hal yang serius pada Aura.

        "Dia demam, Sayang. Tubuh Aura belum begitu pulih dan kuat. Akibat hujan tadi, tubuhnya begitu merespon. Kamu tidak perlu khawatir. Mama sudah suntik obat  penurun demam," jelas Bunga.

        "Kenapa dia menangis? Apa dia kesakitan?" tanya Baskara bingung.  Aura demam, tapi kenapa dia bisa menangis seperti ini. Apa ini terlalu sakit? Bahkan air mata itu terus mengalir dari sudut mata yang terpejam itu.

        "Ma, aku takut..." lagi, Aura kembali mengigau. Tentu saja membuat Baskara tidak tenang.

        "Mama..." racau Aura kembali.

        "Dunianya terlalu jahat untuk bahu kecil yang dia miliki," jelas Roni.

        "Sebaiknya kita biarkan Aura istirahat. Boy, jaga dia!" ucap Aden dengan memukul pundak Baskara.

BASKARAURA [ TERBIT ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang