HAPPY GRADUATION

579 17 0
                                        

Jangan lupa Follow, vote dan comment

Happy reading:v

81. Happy Graduation

        "Kara! Kamu kok gak bilang ke Daddy sama Mama kalau mau ngelamar, Aura?" tanya Aden yang baru saja sampai ke rumah. Bukan hanya Aden, ya memang mereka bertiga baru sama turun dari mobil dan bahkan belum sampai di ambang pintu kediamannya.

        "Buat apa?" Respon Baskara yang sangat diluar nalar membuat Bunga dan Marlo terkekeh.

        "Buat apa kamu bilang?! Kamu pikir minta restu buat ngikat anak orang itu kamu gak perlu minta persetujuan ke Daddy sama Mama gitu?" Aden yang semula memimpin jalan mereka berhenti, dan otomatis membuat mereka berhenti. Terlebih ketika Marlo yang hampir saja nyungsrup karena membawa dua koper sekaligus. Untung pria itu langsung menyeimbangkan tubuhnya.

        "Dad, aku itu cuma mau nikah sama Aura. Udah itu aja. Kenapa yang ribet harus semua orang?" tanya Baskara menatap Aden penuh tanya.

        "Kamu pikir restu Daddy dan Mama itu gak penting? Penting, Kara! Penting banget!!" Suara Aden terdengar begitu frustasi.

        Aden tidak habis fikir dengan anak keduanya ini. Tanpa membicarakan terlebih dahulu pada Dirinya dan Bunga, tiba-tiba Baskara melamar Aura di depan banyaknya orang tanpa rasa takut sedikipun. Ya, tapi Aden memahami dan mengakui jika keberanian Baskara dalam memperjuangkan cinta untuk Aura tidaklah main-main.

        "Bukan ribet itu namanya, Kara. Tapi restu itu sangat penting. Kamu mahhh, bikin Daddy kesel aja. Padahal Daddy udah punya rencana," gerutu Aden semakin menjadi.

        "Emang sekalipun Daddy sama Mama gak ngerestuin aku sama Aura, aku bakal diem aja gitu?"

        Aden terdiam. "Ya, iya, sih. Bakal jadi cacing kepanasan kamu, di tinggal satu minggu aja udah kayak orang gak waras. Apalagi di tinggal nikah."

        "Ya, aku bawa paksalah, Auranya. Enak aja ambil-ambil punya orang."

        Tidak terbayang jika ucapan Aden benar-benar terjadi. Mungkin sebagian orang yang sedang jatuh cinta, akan mereka rindu yang membelenggu jika ditinggal sang kekasih. Tapi, jika itu Basara, maka akan menjadi perkara besar yang akan membuat Aden, Bunga dan seisi rumah ini akan heboh. Ditinggal selama 1 minggu saja seperti ditinggal selama 1 bulan, dua bulan atau bahkan satu tahun lamanya.

        Alay memang. Ya emang alay.

        "Ihhh, kayak bisa aja," ejek Aden melanjutkan langkah kakinya. Yang otomatis membuat Baskara, Bunga dan Marlo juga ikut melangkahkan kakinya.

        "Ihhh ngeraguin anak sendiri," sahut Baskara tidak terima.

        "Pinter juga kamu pilih cincinnya." Aden melirik Baksara.

        "Ya, iyalah, jadi calon suami yang baik itu harus berproses dari sekarang." Baskara tersenyum bangga.

        Aden memutar bola matanya malas. Sedikit heran dengan sikap alaynya Baskara ini. "Prett! Anak kemaren sore aja udah berlagu."

        "Loh, Daddy ini sepertinya meragukan saya."

        "Mana ada Daddy ngeraguin kamu, hemm?" Ditariknya tangan Baskara, dan ketika Baskara belum sempat melawan, Aden terlebih dahulu mengapit kepala Baksara.

BASKARAURA [ TERBIT ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang