KE-HANGATAN

2.2K 174 48
                                        

📌 jangan lupa votenya ya!!!

Bantu ramein dengan spam comment dari kalian dong:>

5. Ke-Hangatan


"Sejatinya cinta Bukan hanya dua insan, tetapi ada Tuhan yang terlibat"

~Bunga Ayunda Saskia~

*
*
*
*
*

Bunga menghela napas ketika menatap wajah putranya yang tampak pucat dengan beberapa luka lebam. Tangannya menyunggar rambut hitam milik Baskara dan mencium kening putranya itu. Saat Sangga datang ke sini dengan pakaian yang sudah di penuhi oleh darah Baskara tadi, untungnya Bunga masih ada di dalam bangunan itu. Sebenarnya dia akan pulang karena Aden sudah menunggunya di parkiran. Namun, niat pulangnya jadi wurung ketika melihat kondisi Baskara yang seperti ini.

Baskara masih memejamkan kedua matanya karena pengaruh obat bius yang ia berikan. Di bagian keningnya ada perban yang melilit. Belum juga sembuh lukanya yang tadi, namun, kini bertambah dengan luka-luka yang membuat Bunga ingin menangis.

Pintu ruangan itu terbuka. Bunga menatap Aden, Sangga, Orion, Marvel, Raja dan juga Aura yang sudah berada di pelukan sang suami secara bergantian. Bunga berjalan menghampiri Aura yang di peluk erat oleh Aden. Entah siapa yang memberi tau cewek itu hingga malam-malam seperti ini dia sudah berada di sini.

"Sayang.... " Aden menggerai pelukan hangat pada tubuh Aura. Cewek itu sudah berhenti menangis.

Aura menatap kedua mata Bunga. Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Meyakinkan gadis itu bahwa Baskara tidak akan kenapa-napa. "Nggak ada yang perlu dikhawatirin sayang, Baskara masih terbawa obat bius yang Mama berikan. Biar dia bisa istirahat dulu," jelasnya.

Aura menghela nafas. "Takut, Tante," ucapnya membuat Aden menggenggam tangan gadis itu. Menyalurkan kehangatan kepadanya.

"Tante tau perasaan kamu, Sayang. Tapi, kamu harus yakin kalau tidak akan terjadi hal yang serius. Sekarang kamu pulang sama Tante sama Om, ya? Kamu harus istirahat," tawarnya dengan nada yang begitu halus.

"Aura di sini aja, Tante. Aura juga bawa baju ganti kok," tolaknya.

"Di sini dingin, Sayang. Tante nggak mau ya kalau sampai kamu nanti sakit." Bunga menatap Aura, cewek itu menggelengkan kepala sebagai jawabannya.

Aden berjalan untuk melihat kondisi putranya itu dari kaca transparan. Dia menghela napas lalu memutar tubuhnya dan kini kedua matanya menatap sosok Sangga yang menyandarkan kepalanya pada dinding rumah sakit. Luka-luka cowok itu masih belum di obati bahkan tangannya masih berlumuran darah Baskara yang sudah mengering.

"Obatin dulu luka kamu. Setelah itu saya akan anterin kamu pulang." Sangga membuka kedua matanya. Dia membernarkan posisi duduknya.

"Saya akan pulang sekarang. Akan lebih baik Om anterin Tante Bunga untuk pulang ke rumah," tolaknya dengan nada halus, ia tidak ingin menyakiti hati Aden.

Aden menganggukkan kepala. "Kalau gitu biar Marvel yang mengantarkan kamu pulang," ucapnya dengan menatap Marvel yang sudah menganggukkan kepala. "Terima kasih karena sudah menolongnya" Sangga menganggukkan kepala lantas pergi begitu saja, dan di belakangnya sudah ada Marvel yang mengikuti langkah kaki cowok itu.

-oOo-

Setelah perdebatan dan rayuan yang dilontarkan begitu manis oleh Aura, akhirnya dia sekarang bisa duduk di samping bankar milik cowok itu. Aura meyakinkan Aden dan juga Bunga bahwa dirinya akan tetap di sini. Setelah perdebatan yang cukup lama akhirnya mereka sudah pulang ke rumah. Begitu pula dengan Sangga yang sudah pulang terlebih dahulu di antar oleh Marvel.

BASKARAURA [ TERBIT ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang