Baskara Alfin Millanio, ketua Ghefaros dari keturunan darah Millanio yang saat ini masih aktif menjadi pemimpin Mafia di Amerika.
Anak kedua, dari dua bersaudara itu lebih cenderung memiliki kepribadian tertutup dan telah mencintai seorang gadis be...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kadang semesta menitipkan yang terbaik bukan untuk selamanya. Tetapi, belajar untuk menghargai apa itu cinta"
~Aura Anggun Quennzha~
* * * * * *
Kantin sekolah tampak begitu sesak. Aura, Putri dan Cantika tampak duduk di kursi kantin dengan makanan mereka masing-masing, tidak memperdulikan riuh suara teman-temannya yang masih beradu mulut hanya untuk memesan makanan.
Pelajaran setengah hari ini tampak melelahkan dan juga membosankan. Ketiga cewek yang kini memakan makanannya itu tidak ada yang membuka suara. Masih fokus dengan kunyahan dan juga pikirannya sendiri-sendiri.
"Anjirr tuh, Pak Dodit gak habis pikir gue." Putri menggebrak meja pelan dengan deruan napas yang masih menggebu-gebu.
"Sabar, Put. Pak Dodit emang gitu orangnya." Aura mendorong mangkoknya yang sudah kosong, lalu menatap Putri yang terlihat begitu kacau dengan meneguk es teh yang ada di tangannya.
"Males banget gue, Arcell..." rengeknya dengan suara kencang.
"Ehhh anjirr, malu, Put, kalau sampai Amel dan dayang-dayangnya tau gimana?" ucap Cantika yang di balas dengusan oleh Putri.
"Akhhhhhh, gila gue lama-lama ini," ucap Putri dengan penuh frustasi.
"Nanti kita bantu ngerayu Pak Dodit deh. Ya nggak, Can?" Cantika menganggukkan kepala karena Aura melotot ke arahnya. Akan begitu rumit jika moodnya Putri rusak. Semua akan di sembur dan di marahi tanpa ada rasa peduli.
"Ke kelas aja yuk!" ajak Putri dengan berdiri dan di susul oleh Aura dan Cantika yang berjalan di sampingnya.
Ketiga cewek itu berusaha keluar dari kantin yang sudah begitu sesak. Untung saja tubuh mereka yang kecil membuat mereka dengan mudah untuk keluar. Hanya mendusel-dusel sampai akhirnya bisa bernapas lega karena bisa keluar dari sana.
Berjalan dengan beriringan dengan sorot mata yang begitu dingin. Angin sepoy-sepoy yang membuat rambut mereka menari dengan indah serta sinar matahari yang bertemu langsung dengan wajah cantik ketiganya.
Beberapa orang yang Aura, Putri dan Cantika lewati kini sedang membicarakannya. Namun, sudah menjadi hal biasa jika memiliki paras cantik yang begitu nyaman untuk dipandang.
Beberapa langkah lagi mereka akan sampai di dalam kelas. Namun, langkahnya terhenti ketika di depan mereka ada Amel serta dayang-dayangnya yang berdiri di belakang cewek itu. Hanya berjarak beberapa langkah saja mereka sudah bisa menjambak satu sama lain dan pasti akan terjadi keributan di antara dua kubu tersebut.