AWAL DARI PERMAINAN

530 14 0
                                        

Jangan lupa Follow, Vote dan Comment

Happy reading:v

67. Awal Dari Permainan


      Pagi-pagi sekali Baskara meninggalkan Aura di kamarnya. Baskara dan juga Sangga menemui Marlo dan Xelues untuk membicarakan berapa hal. Terutama menyuruh mereka berdua membobol handphone Aura, untungnya ketika Baskara sudah mengetahui sandi-sandi gadis itu. Dan meskipun Aura menghapus histori chat, bukan hal susah untuk Marlo dan Xelues memulihkan kembali data-data tersebut.

        Dan akhirnya, Baskara mengetahui faktor apa yang menyebabkan Aura ketakutan kemaren. Sudah Baskara bilang bukan, jika dia secepatnya akan mengetahuinya meskipun Aura berusaha untuk menutupinya.

        Baskara kembali ke kamarnya yang berada di lantai atas hotel. Ia meninggalkan Aura ketika gadis itu masih tertidur lelap dan saat tiba di dalam kamar utama, Baskara tidak menemukan sosok Aura yang tertidur di atas ranjang.

        Kamar mandi menjadi tempat pertama yang Arcell tuju, dan tidak ada Aura di dalam sana.

        "Quenn..." Baskara pikir ada di walk in closet, karena bau sabun di kamar mandi tercium oleh Baskara, tandanya gadis itu baru saja mandi. Jantung Baskara berdetak tak karuan sekarang, di walk in closet nihil.

        Apa mungkin gadisnya pergi mencarinya? Atau gadis itu sedang main ke kamar Putri, Cantia dan Sherly? Atau jangan-jangan---ohh tidak. Baskara tidak mau berpikiran buruk. Tidak mungkin gadisnya keluar tanpa meminta izin kepadanya.

        Dengan langkah tergesa setengah berlari, Baskara menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam kamar VVIP ini. Namun, hasilnya tetap sama, Baskara tidak menemukan sosok Aura.

        "Apapun yang terjadi nanti, Om minta tolong ke kamu untuk selalu menjaga Aura. Jangan pernah tinggalkan dia sendiri. Dan saya sudah mempercayai kamu, Kara."

        Suara Harvey lewat telepon semalam menemani setiap langkah gusar Baskara. Dengan jantung yang berdebar, Baskara membawa langkahnya mendekat ke arah kolam renang yang pintunya terlihat sedikit terbuka.

        Baskara menemukan sosok yang ia cari dengan napasnya yang memburu tak karuan. Sementara Aura melangkah perlahan me dekat ke arah Baskara dengan matanya yang tak putus menatap Baskara. Sorot mata Baskara yang dingin membuat Aura merasakan hawa yang berbeda memenuhi kamar besar ini.

        Sekarang Aura sudah berdiri tepat di depan Baskara, dengan perasaan takut-takut Aura menyentuh lengan tangan Baskara yang terasa begitu dingin.

        "Fin, ka-kamu ke-kenapa?"

        "Darimana?" Suara dingin Baskara terdengar begitu menusuk.

        "Duduk di tepi kolam. Saat aku bangun, aku gak ngelihat kamu ada di kamar," ungkap Aura dengan suara lirih, jika Baskara sudah mode seperti ini, maka nyali Aura semakin menciut.

        Terlebih tatap Baskara yang seakan mengunci tatapan kedua matanya tak putus terus menatap ke arah dirinya.

        "Ka-kamu marah?" Mata Aura tak sengaja melirik tangan kanan Basara yang mengepal kuat. Seakan menahan gejolak emosi yang memuncak.

        "Kenapa aku harus marah?"

        "Karena aku gak bilang ke kamu sejak itu. Maaf, Fin," jawab Aura menunduk.

        "Tatap aku kalau lagi ngomong sama aku, Queen!!"

        Aura menatap Aura meski sekarang tubuhnya bergetar ketakutan setelah mendengar suara Baskara yang meninggi.

BASKARAURA [ TERBIT ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang