LUAPAN EMOSI PUTRI

522 15 0
                                        

Jangan lupa follow, vote dan spam comment

Happy reading: v

70. Luapan Emosi Putri

        Putri mematung di tempat kala sosok yang baru saja ia kejar dan ia tarik kini berdiri di hadapannya, membalas tatapan yang terlihat sedikit kosong itu. Pukul 01.00 dini hari, orang-orang itu, yang diduga Silent Victor kembali menyerang mereka di tempat yang baru saja mereka singgahi tadi pagi.

        Keduanya masih betah untuk saling menatap, mengisyaratkan rasa rindu dan sesak yang mereka rasakan.

        Putri tidak mengerti kenapa dari sekian banyak orang yang membenci dirinya ataupun orang-orang terdekatnya, harus berakhir pada sosok di hadapannya ini. Ia tidak mengerti setelah sekian lama tidak bertemu, dan sekarang Tuhan menakdirkan pertemuan ini kembali.

        Putri tidak mengerti apa yang membuat dadanya terasa sesak sekarang, kedua matanya memanas dan mulutnya terasa kelu. Dia gelisah dan ingin berlari sejauh mungkin dari semuanya. Semua terlalu rumit untuk bisa ia jelaskan, disaat dirinya sendiri mati-matian melupakan masa-masa itu.

        Dari kenyataan bahwa kekerasan yang ia alami dalam keluarga? Atau dari kenyataan bahwa dirinya hanyalah bahan olokan di masa kecil? Bahkan untuk menjauh dari kekerasan, penghianatan dan keterpurukan saja, terasa begitu berat. Apa Putri tidak bisa berbahagia semasa dirinya hidup?

        Menghembuskan napas, mengatur emosinya yang hampir meluap. Menahan gejolak rindu, sesak yang teraduk menjadi satu.

        Satu detik, dua detik sampai akhirnya Putri memberatkan diri untuk melangkah mendekat pada sosok yang masih setia menatapnya, begitu dalam. Putri tahu kalau ini semua akan kembali terjadi.

       Berdiri tepat di hadapannya, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut keduanya. Hanya ada suara rintikan hujan yang mulai menyertai, seakan mengerti apa yang mereka rasakan. Tidak bisa mengeluarkan air mata karena terlalu sakit, sampai akhirnya hujan turun untuk mewakili perasaan keduanya.

        Posisi yang semakin dekat, membuat mereka seakan sama-sama tenggelam dengan tatapan satu sama lain. Membawa sebuah rasa yang sama-sama tidak mereka inginkan lagi untuk datang.

        "Gak seharusnya lo ngejar gue sampai sini, Put. Lo, seharusnya udah tahu siapa yang udah ngelakuin itu." Kevin memecahkan keheningan.

        "Sebenarnya apa yang lo mau dari gue, hem? Lo mau gue benci sama lo, atau lo mau menempatkan gue sebagai umpan?" Putri menekan perasaan yang masih teramat menyakitkan di dadanya itu dengan dalam.

        "Sebenarnya mau lo apa sih, Vin? Kenapa setelah sekian lama gue harus ketemu sama lo lagi? Gue benci saat ketemu lo diri gue selalu terlihat lemah, Vin. Setiap pertemuan kita setelah sekian lama, gue gak bisa dapati jati diri gue sendiri. Gue akan selalu jadi selemah itu. Dan gue benci ketika saat itu juga gue harus ngesampingkan harga diri gue, karena rasa sesak itu!" Putri berusaha menahan tangisnya.

        "Maaf," ucap Kevin dengan nada yang lebih pelan. Ia tidak tahu kapan tepatnya kedua matanya mulai memanas dan berkaca-kaca .

        "Kalau emang lo masih belum cukup, belum puas atas apa yang lo lakuin ke gue, maka lakukan sekarang. Cukup lakuin apa yang lo mau ke gue. Tanpa harus menyentuh dan nyakitin orang-orang yang ada di sekitar gue. Gue tahu, lo lakuin itu karena kerterpaksaan, maka dari itu lakukan ke gue. Dan setelah lo ngedapetin apa yang udah lo terima, lo boleh pergi dari sini." Air mata Putri semakin bercucuran.

BASKARAURA [ TERBIT ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang