TERUNGKAPNYA SATU FAKTA

927 41 27
                                        

Hallowwww!!

100 pembaca aku update bab selanjutnya 💐

Jangan lupa vote sebelum gulir ke bawah🙂

Spam comment 🔥

Happy reading:v

55. Terungkapnya Satu Fakta

"Aku tidak peduli jika nyawaku yang harus menjadi taruhannya. Yang aku takutkan dan menjadi kelemahanku Istri dan anak-anak, Ku"

Aden Rajendra Millanio

        Baskara tidak melepaskan pelukannya. Cowok itu sekarang duduk di sofa dengan Aura yang berada di atas pangkuannya, terus memeluk lehernya. Tidak mau melepaskan. Gadis itu masih menyembunyikan wajah di ceruk leher Baskara.

        Saat Bunga akan mengobati punggung tangannya yang luka akibat pelepasan infus secara paksa tadi, Aura akan menipis dan semakin merapatkan diri pada Baskara. Tubuhnya seakan kembali menegang dan jika ada suara asing yang cukup terdengar gadis itu akan menutup kedua telinganya. Seharusnya sekarang Aura juga masih berbaring di ranjang, mengingat kondisi yang masih jauh dari kata stabil karena baru saja siuman dari koma yang cukup lama.

        Namun, setiap suster atau siapapun kecuali Baskara yang menyentuhnya maka Aura akan kembali menangis dan berkata 'jangan berbicara, sakit' dengan tubuhnya begetar layaknya orang yang sangat ketakutan. Seakan suara itu sebagai ancaman untuknya. Dan untuk sekarang yang Aura percaya hanya suara dan sentuhan dari Baskara. Alhasil Bunga dan asisten pribadinya membiarkan apa yang membuat Aura nyaman sekarang. Karena itu penting untuk kelangsungan mental gadis itu ke depannya.

        "Kenapa telinganya ditutup?" tanya Baskara merasakan tubuh Aura kembali bergetar.

        "Takut hikss--" Aura semakin mengubur wajahnya pada dada bidang Baskara dengan kedua telinga yang di tutup oleh kedua tangannya.

        "Aku di sini," bisik Baskara, mengusap punggung Aura naik turun. Memberikan ketenangan untuk gadisnya.

        Baskara menatap beberapa orang yang masih berdiri di depan ruang rawat Aura. Mereka bahkan masih mematung tanpa bergerak. Memberikan isyarat lewat matanya pada semua orang untuk meninggalkan kamar rawat ini.

        Karena Baskara bisa merasakan tubuh Aura yang begitu tegang karena suara orang-orang di luar ruangan itu. Bukan suara dari keluarga ataupun teman Aura. Melainkan suara beberapa orang yang berlalu lalang.

        Saat pintu tertutup dan hanya menyisakan mereka berdua di dalamnya. Benar saja, tubuh Aura sedikit rileks, tak lagi menutup wajahnya di dada bidang Baskara, melainkan bersandar di dada bidang itu.

        "Tidur, ya?" bujuk Baskara, ia sangat khawatir dengan kondisi tubuh Aura jika terlalu lama duduk seperti ini.

        Aura menggeleng tanpa suara.

        "Tangannya Alfin obatin, mau?" tanya Baskara dengan melirik punggung tangan gadis itu yang terus mengeluarkan darah tanpa henti. Mungkin karena hemofilianya.

        Lagi-lagi Aura menggeleng sebagai jawabannya.

        Baskara menghela napas pelan, mengeratkan pelukannya lantas mengecup pucuk kepala Aura. Pandangn Baskara turun ke bawah, menatap wajah pucat Aura. Sorot mata gadis itu masih terlihat sangat kosong. Membuat Baskara tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan gadisnya sekarang. Melihat Aura yang mengamuk tadi hatinya ikut hancur. Seakan merasakan apa yang gadis itu rasakan.

BASKARAURA [ TERBIT ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang