Fatan sedang sibuk dengan pekerjaannya di depan laptop. Ia beralih menuju loker untuk mencari beberapa berkas yang di perlukan.
"Mas Fatan.. Mas Fatan..!!"
Fatan mendongak, kembali memposisikan tubuhnya seperti semula. Dia melihat Risma dengan baju tidur panjang dan bando seperti biasanya sedang berlari kecil sambil membawa boneka besar. Boneka yang ia belikan di Mall beberapa bulan lalu yang membuat Fatan bergidik ketika melihatnya.
Risma meletakkan bonekanya di sofa, lalu menyenderkan tubuhnya pada boneka besar itu. "Aku temani kamu disini ya, Mas. Dari tadi berusaha tidur tetep nggak bisa soalnya." Risma merengut.
"Tapi jangan berisik ya." Fatan mengingatkan. Kalau bersama Risma seperti ini biasanya dia tidak akan bisa fokus karena Risma terus saja mengajaknya bercerita. Dan Fatan tidak bisa kalau harus mengabaikan istrinya.
Risma tersenyum senang dan mengangguk. Dia memposisikan tubuhnya untuk tidur. Namun selang beberapa detik menegakkan tubuhnya kembali. "Mas Fatan aku mau cerita."
Kan, apa Fatan bilang.
Ia sedikit menggeram, menghembuskan nafas malas, lalu terpaksa menatap Risma.
"Apa sayang?"
Sementara Risma sudah memposisikan duduknya mendekati Fatan. "Aku baru dapat tawaran ngajar olimp lagi di bimbel—"
"Nggak boleh. Aku menolak." Tolak Fatan serta merta.
Risma membelalak. "Mas!"
"Apa?"
"Ini bimbelnya terkenal. Kerjanya juga fleksibel nggak setiap hari. Aku akan dapat bonus banyak kalau bi—"
"Gaji nya berapa?" Fatan melipat tangannya di dada "Nggak usah kerja, aku yang akan gaji kamu." Ucapnya final.
Risma hendak memprotes, namun bibirnya kembali terkatup dan mengurungkan niatnya. Kalau sudah begini tidak ada cara lain selain memelas.
"Mas, please..." Risma memohon. "Aku bosen kalau nggak ada kerjaan. Aku janji waktu aku sama kamu nggak akan berkurang. Aku tetep jadi istri baik meskipun kerja."
Fatan menatap Risma kesal. Tadinya dia tidak begitu antusias dengan cerita Risma. Tapi kalau sudah merengek begini dia yang harus lebih tegas.
"Nggak ya enggak, Ris. Nggak ada perubahan. Aku tetap nggak akan ngizinin kamu."
Risma langsung berdiri dan menghentakkan kakinya kesal. Matanya berkaca-kaca.
"Kamu kenapa sih nggak pernah ngertiin aku?! Udah aku bilang kalau aku bosen! Bosen.Bosen.Bosen! Aku pengen kerja!" Teriaknya lalu berlari keluar.
Fatan menghela napas. Mengelus dadanya berulang kali. Dia seperti habis memarahi anak kecil sampai menangis karena dilarang membeli permen.
Untung sayang
Fatan segera berdiri dan menyusul Risma ke kamar. Dan benar saja, istrinya sudah meringkuk diatas kasur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Ris.."
"Jangan ngomong sama aku!" Teriak Risma masih didalam selimut
Fatan menghela napas berulang kali.
Sabar Fatan... Sabar ...
"Kamu tahu nggak? Kenapa aku selalu ngelarang kamu kerja?"
"Udah aku bilang jangan ngomong sama aku!" Risma masih enggan membuka selimutnya.
Fatan duduk dipinggir kasur, berusaha mendekati Risma.
"Jangan deket-deket!"
Fatan terkekeh. Tingkah Risma seperti bayi, menggemaskan namun selalu membuatnya geram.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Real Affair
RomansDisaat aku mengetahui segalanya, Haruskah aku tetap bertahan?
