24 - KEBOHONGAN YANG TERSIMPAN

134 5 2
                                        

Kamu belum punya keberanian untuk bilang ke Risma, kan, Fatan? Pernikahan… kamu tahu aku juga menginginkan hal yang sama. Tapi ini bukan hal kecil. Akan banyak orang yang terluka. Istrimu, setidaknya, dia orang yang tahu dan bisa menerima kita.

Fatan menarik napas pelan. Ia berusaha tetap santai, meski kepalanya penuh oleh kekacauan pikiran. Perkataan Melani membuatnya mulai mempertimbangkan segalanya.

Pandangan Fatan beralih pada Risma yang tengah sibuk dengan ponselnya. Perempuan itu tampak asyik menjelajahi platform belanja online, bibirnya bersenandung kecil mengikuti alunan musik dari headphone di kepalanya. Wajahnya terlihat begitu bahagia, tanpa beban apa pun.

Dengan ragu, setelah mengumpulkan keberanian yang tersisa, Fatan akhirnya berdiri dan menggeser tubuhnya mendekati Risma. Mereka sedang duduk di sofa ruang keluarga.

“Ris?”

Merasa dipanggil, Risma melepas headphone dan menoleh ke arah Fatan. Senyum lebarnya langsung terukir.
“Ada apa, Mas?”

Senyum itu, Fatan merasa ia tak akan pernah sanggup mengucapkan apa pun. Ia tak sanggup merusak kebahagiaan yang sedang ada di hadapannya. Bahagia Risma adalah bahagianya juga.
Namun Fatan tahu, ia harus melakukannya. Jika tidak, ia hanya akan terus menyakiti Risma, berulang kali.

Ia mendekat, menyentuh pipi istrinya dengan lembut. “Ris?”

Lagi-lagi, hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.

“Apa, Mas Fatan?” Satu alis Risma terangkat, heran.

“Kalau aku… kalau misalnya aku—” Tenggorokannya terasa tercekat.

“Mas, tenang. Ada apa?” Risma tersenyum lembut, tangannya meraih tangan Fatan dan menggenggamnya.

Fatan menghembuskan napas pelan.
“Sayang, kalau misalkan suatu hari kita punya masalah… atau aku udah nyakitin kamu, apa kamu bakal pergi ninggalin aku?”

Risma mengerucutkan bibir, melirik Fatan sinis. “Kamu ngomong apa sih, Mas. Tiba-tiba banget.”

“Cuma nanya aja,” ujar Fatan sambil menyandarkan kepalanya ke sofa. Ia mengubah ekspresinya seperti biasa, senyum yang dipaksakan, tapi dibuat tampak alami. Seolah ini hanya obrolan ringan, bukan sesuatu yang serius.

Hanya itu yang mampu ia lakukan saat ini.

Risma memicingkan mata. Pembahasan Fatan memang sering kali tak terduga. Ia lalu mengambil bandana kelinci di sampingnya dan memakainya dengan ekspresi serius-terlalu serius untuk bandana selucu itu. Kemudia ia memutar tubuhnya menghadap Fatan sepenuhnya.

Kini giliran Risma yang menyentuh pipi Fatan dengan lembut.
“Apapun masalahnya nanti,” ucapnya pelan, “aku yakin kita pasti bisa melewatinya bersama.”

Risma tersenyum kecil, menatap Fatan dengan hangat. “Dan aku nggak akan ke mana-mana, Mas Fatan. Karena aku tahu, kamu nggak akan pernah dengan sengaja nyakitin aku.”

Kalimat itu indah. Hangat. Namun justru menusuk Fatan begitu dalam.
Ia laki-laki, tapi kali ini rasanya ia ingin menangis. Risma begitu mempercayainya. Padahal setiap hari ia telah menyakiti perempuan itu, dan setiap hari pula ia telah berbohong.

“A-aku mau ke atas dulu, Ris.”

“Cuma gitu?” tanya Risma sebelum Fatan beranjak.

Fatan terkekeh kecil.
“Kerjaanku masih banyak, Ris. Kamu tidur dulu, nanti aku nyusul.”

“Tidur? Ini masih jam delapan, tahu.” Risma mengerucutkan bibir kesal. “Aku mau ke ruang baca aja, pengen baca novel.”

“Awas, jangan sampai ketiduran.”

The Real AffairCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang