Helaan napas pelan keluar dari bibir perempuan itu sebelum tangannya terangkat untuk mengetuk pintu di hadapannya. Ketukan terdengar dua kali-cukup tegas, tapi ragu.
Saat pintu terbuka, tubuhnya sempat membeku. Namun hanya sesaat. Ia segera memasang ekspresi biasa, menyembunyikan keterkejutan yang nyaris lolos dari wajahnya.
Senyum kecil terukir saat matanya bertemu dengan laki-laki di depannya.
"Sorry, Risma ada di dalem?" ucapnya santai. "Gue mau ngambil dompet yang tadi ketinggalan."
Fatan tak banyak bicara. Ia langsung menyodorkan dompet yang sedari tadi berada di tangannya.
Melani menerimanya, jemarinya sedikit bergetar. "Thanks."
Ia berbalik, berniat segera pergi. Namun langkahnya terhenti ketika suara Fatan memanggil namanya dari belakang.
"Mel. Berhenti."
"Jangan gila kamu," seru Melani tanpa menoleh, langkahnya justru dipercepat.
"Sayang, please..." suara Fatan terdengar lebih rendah, nyaris memohon.
Tangan laki-laki itu meraih pergelangan Melani, membuatnya terpaksa berbalik.
Melani segera melepaskan cekalan itu, memalingkan wajahnya.
"Risma ada di dalem," katanya cepat. "Dia bisa-"
"Risma lagi mandi di atas, Mel," potong Fatan. "Dia nggak bakal tahu."
Melani terdiam. Tatapannya kosong, seolah sedang menimbang sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.
Fatan menghela napas panjang.
"Kenapa semua pesan dan telepon aku nggak kamu balas?" tanyanya lirih. "Dari semalem... sampai hari ini."
"Aku seharian sama mereka, Fatan," jawab Melani pelan. "Termasuk sama Risma." Ia akhirnya menatap Fatan. "Aku nggak mungkin balas pesan kamu waktu lagi kumpul sama temen aku."
Keheningan menggantung di antara mereka.
Melani berdecak pelan."Udah," katanya sambil menghela napas. "Jennie sama Jia udah nungguin di mobil."
"Soal yang kamu lihat semalam-"
"Aku nggak apa-apa," potong Melani cepat. Matanya beralih ke arah lain, menghindari tatapan Fatan.
"Itu Risma. Dia istri kamu. Jadi... nggak ada yang salah."
Suara itu terdengar tenang, tapi dadanya sesak. Bayangan semalam kembali terlintas-posisi Fatan dan Risma yang seharusnya tak ia dan teman-temannya lihat. Luka itu masih ada, perihnya belum benar-benar reda.
Namun ia tahu betul posisinya.
Fatan meraih tubuh Melani dan menariknya ke dalam pelukan. Erat.
"Maaf," bisiknya. "Aku minta maaf, Melani."
***
Dengan langkah gontai, perempuan itu menyusuri lorong apartemen yang sepi. Pintu di ujung koridor sudah terlihat jelas, seakan waktu melambat sesaat untuk menyambut kedatangannya. Ia merogoh tas yang menggantung longgar di bahu, mengeluarkan kartu identitas, lalu menempelkannya pada sensor.
Klik.
Pintu terbuka otomatis, menegaskan betapa ketatnya sistem keamanan apartemen itu.
Risma membeku di tempat.
Mata cokelatnya melebar saat mendapati seorang laki-laki yang sudah sangat ia kenal duduk santai di sofa. Laptop bertengger di pangkuannya, jarinya sesekali menekan keyboard seolah benda itu adalah mainan yang tak pernah membosankan.
"Lo ngapain di sini?" tanya Risma, nadanya langsung meninggi.
Christian mengerjap sebentar sebelum menoleh. Begitu menyadari siapa yang datang, senyum lebarnya langsung mengembang.
"Oii, Ris. Lo di sini juga?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Real Affair
RomanceDisaat aku mengetahui segalanya, Haruskah aku tetap bertahan?
