Part 4

196 49 3
                                    

Mataku terpejam ketika aku merasakan Rosa dengan hati-hati mengangkat sebagian tubuhku, mengalungkan lenganku ke leher Emir. Memposisikanku dalam gendongan di belakang punggungnya. Setengah sadar aku ingin nangis saat wajahku di sandarkan terlalu dekat di leher Emir, tapi aku juga terlalu lemah untuk bicara apalagi lompat turun. 

Tak berapa lama, aku membuka mata. Sekilas aku melihat Rosa berlari menjauh keluar dari kelas sebelum aku pelan-pelan menjauhkan wajahku dari lengkukan leher Emir. Tapi salahnya Emir adalah ia mengajakku bicara, "Kamu nggak apa-apa kan Rona?"

Aku menoleh, suara berat Emir bergema dalam kepalaku. Mengirim kejutan listrik yang membangkitkan instingku. Tanpa sadar perlahan jemariku menyusuri baju Emir. Satu dua jengkal, hingga aku bisa memeluk lehernya dengan lebih erat. Saat nafasku mendekati leher Emir, aku bisa merasakan denyut nadi jantungnya. Aliran darah di lehernya memanggilku. Godaan terbesarku. Daging Wagyu kualitas premium yang selama ini hanya bisa kupandangi dari jauh.

Aku membuka bibir, mulai membenamkan gigiku di leher Emir. Menghisapnya. Seketika kembang api meledak dalam tubuhku. Aku merasa ada semburan cahaya berwarna-warni. Ledakan cahaya. Semburat pelangi. Seperti adegan slow motion dalam film. Hidupku terasa jauh lebih mudah, lebih indah, lebih berwarna di setiap tegukan darah Emir yang kuminum.

Enak, super enak. Darah terenak yang pernah kuminum seumur hidupku. Manis. Hangat, lembut, kental. Beda langit dan bumi dengan darah donor kadaluwarsa yang di freezer ibu dalam kulkas. Benar kata Elgar, darah donor ternyata memang seperti kompos kalau di bandingkan dengan darah Emir.

Aku terlena. Tidak tau seberapa lama dan seberapa banyak aku menghisap darah Emir. Namun akhirnya aku kembali dalam kesadaranku ketika aku menyadari Emir  hampir menjatuhkanku ke meja.

Aku memberontak, melompat turun dari gendongan Emir. Disaat yang sama Emir dengan cepat menoleh kebelakang. Wajahnya tegang melihat wajahku.

"RONA!"  Teriak Emir.

Aku terhenyak. Waktu berhenti. Kembang api dalam diriku pudar dan aku mematung. Aku harus gimana?

"Emir maaf." Seruku panik, "kamu nggak apa-apa kan?"

Emir masih menatapku tanpa kedip, satu telapak tangannya ia letakan di lehernya. Ia tampak shock.

"Lihat aku. Lihat aku." Tanpa sadar aku mendongak berjinjit didepannya. Menarik perhatian Emir sekaligus berusaha mengimbangi tinggi badan Emir yang berbeda tiga puluh Senti dengan tinggi badanku.

Kata ayahku, menghapus ingatan jangka pendek itu mudah. Semudah menghisap darah. Semudah menguyah, bernafas dan jalan-jalan. Semudah itu. Semudah kemampuan dasar yang otomatis bisa di lakukan oleh vampir bego sekalipun, Nggak ada teori dan seharusnya tidak usah latihan, cukup tatap mata target dan voila.

"Tatap mataku." Aku menggerakkan dua jariku ke mataku dan mata Emir bergantian seperti mengajak bertarung, padahal kalau bertarung akulah yang mati duluan,"Kamu lupa. Tadi itu nggak pernah ada apa-apa!"

Sunyi senyap selama lima detik. Wajah Emir masih waspada.

"Kamu sudah kehipnotis belum Emir?" Tanyaku putus asa, terus menarik bagian depan kemeja bajunya.

Saking paniknya aku lalu sampai lompat-lompat sambil meggangin kepala. Aku makin tidak tau harus bagaimana sampai kulihat rahang tegang Emir melunak.

"Aku itu vampir." Kataku gugup, dan langsung kaget sendiri dengan apa yang kuucapkan," Eh nggak aku bukan vampir. Ya ampun.... Kamu bisa lupa nggak sih? Apa harus ku getok kepalamu pakai meja? Tapi nanti kamu bales getok aku nggak?"

Emir mengedipkan mata lagi, ia menundukkan wajahnya ke arah wajahku dengan wajah serius. "Sebenarnya ada apa..."

Gantian aku yang kali ini mengedipkan mata, lebih tepatnya gantian aku yang bingung sekarang. Karena raut shock Emir menghilang begitu saja. Diganti raut wajah tenang seperti tidak ada apa-apa.

"Nggak ada apa-apa. Aku bilang tadi ada serangga. Eh, gigit kamu."

"Oh." Telapak tangan Emir jatuh dari lehernya dengan santai ke samping tubuhnya, "Oke."

"Iya." Aku mengangguk-angguk pasrah "Ugh, oke?"

"Kamu nggak ke laboratorium Rona? Ayo."

PeronaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang