Perjalan ke kota kelahiran ku butuh waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan tol. Sebenernya nggak lama. Tapi super duper lama kalau jalanan padat. Apalagi aku tau malam ini bertepatan dengan waktu truk muatan besar bongkar muat kembali ke pelabuhan yang letaknya memang di kota asalku.
Satu-satunya hiburanku selama menyetir sepanjang jalan hanya suara Linggar. Linggar memang sengaja kuajak pulang kampung dan dia seneng-seneng aja. Soalnya Linggar satu-satunya vampir yang kukenal. Sejak awal kami memang langsung lumayan dekat. Sebagai satu bagian komunitas kecil, kami kan memang harus rukun.
Tapi obrolan kami nggak jauh dari makanan. Seperti teman sesama manusia yang suka membicarakan enaknya hari ini makan apa. Maka mengobrol dengan Linggar kurang lebih sama. Hanya bedanya yang di maksud Linggar itu darah.
Kalau bagi ibuku, manusia adalah varian rasa maka sama untuk Linggar. Manusia tidak lebih dari daftar menu. Tinggal pilih hari ini mau makan yang mana.
"Aroma darah favoritku di fakultas itu pak Hadi Rudyatmo."
Aku bergidik, dosen,-guru sama aja. Menu paling horror.
"Atau kamu udah pernah coba Oemar nggak, Na? Kating semester enam."
"Nggak. Aku nggak kenal Kak Oemar."
"Rona...kamu itu nggak perluh harus kenal untuk bisa hisap darahnya." Linggar seketika tertawa ngakak. Menertawakanku seperti baru saja aku nggak bisa menjawab satu di tambah satu, "Kalau memang darahnya enak dan wajahnya ganteng kenapa nggak di coba?"
"Wajah itu mempengaruhi rasa ya?"
"Menurutmu?"
"Iya kali." Jawabku kikuk. Bingung menjawab apa. Karena pengalamanku hanya bersama Emir. Wajah Emir bagiku ganteng dan rasanya memang enak. Tapi kadang aku juga menemukan orang yang wajahnya ganteng tapi bau darahnya, amit-amit. Untuk rasanya... Aku nggak tau.
"Ah nggak juga." Jawab Linggar, "Aroma rasa itu tergantung selera. Apa yang menurutku enak juga belum tentu enak untukmu. Mungkin lebih ke preferensi ya?"
"Terus apa sifat manusia yang mempengaruhi rasa?"
"Nggak tau dan aku nggak peduli juga. Mau itu sifat, bawaan mereka atau makanan yang mereka makan. Lagian aku nggak pernah nyoba untuk dekat dengan manusia yang aku minum darahnya. Kan ada di poin kedua, jangan terlalu attach dengan manusia." Ujar Linggar dengan santainya padahal disaat yang sama perutku mulai menegang, "Oh ya aku pernah loh minum darahnya Edo, anak kelasmu. Darahnya lumayan. Wajahnya jelek sih. Makanya waktu kugigit kepalanya ku tutupi kresek."
Tawaku pecah. Aku tertawa. Melunturkan sedikit ketegangan yang ku simpan rapat-rapat dalam hati. Walaupun tetap saja, jemariku gemetaran.
"Satria juga lumayan. Anak kelas E. Anak kelas masuk ujian mandiri. Tapi kamu harus hati-hati soalnya badannya dia agak besar. Takutnya kalau dia keburu kabur sebelum sempat kita hilangin ingatannya."
"Terus kalau yang anak perempuan? Linggar pernah?"
"Nggak." Linggar yang dari suaranya saja kedengaran kalau ia jijik berkata, "Aku anti gigit anak perempuan. Daridulu aku nggak pernah gigit perempuan. Aneh."
"Kalau gitu kamu pernah gigit orang yang sama dua kali?" Tanyaku hati-hati. Sebenarnya sejauh ini aku hanya berputar-putar, karena pertanyaan yang sesungguhnya ingin kutanyakan dari semua, adalah ini.
"Nggak. Kenapa harus gigit manusia yang sama? Rugi dong. Banyak manusia lain. Lagian ya Rona, kalau kamu terlalu sering minum darah orang yang sama, bau kalian bakalan mirip. Kamu pasti tau. Seharusnya kamu sadar lah sama bau mu sendiri."
Aku tau.
Aku tau bauku semakin lama semakin mirip Emir.
"Nggak apa-apa kan mirip?" Aku berusaha tertawa kecil, walaupun hasilnya ketawaku kedengaran nggak ikhlas dan sumbang.
"Emang kamu nggak masalah bau mu mirip manusia? Kalaupun kamu nggak masalah, masa' kamu nggak merasa aneh sih tubuhmu bergantung dengan cuma satu darah? Jantungmu di aliri darah yang sama terus? Terlalu lama. Terlalu banyak lagi. Jangan terlalu attach dengan satu manusia yang sama, Rona!"
Aku menahan nafasku. Perasaanku campur aduk berantakan. Jangan terlalu bergantung dengan manusia. Jangan terlalu attach dengan mangsamu. Poin terpenting kedua setelah poin pertama, menjaga kerahasiaan komunitas.
"Kalau kamu terlalu attach dengan satu manusia, gimana kalau darahnya mempengaruhi kamu? Gimana kalau dia mati sementara tubuhmu terbiasa dengan darah yang sama? Nggak matipun, bisa aja dia,-manusia pergi meninggalkan kamu.
Padahal darahnya terlanjur melekat di tubuhmu. Jantungmu, hatimu, perasaanmu. Bahaya Rona. Jangan pernah punya hati untuk mangsamu."

KAMU SEDANG MEMBACA
Perona
FantasyIf i tell you that I love you Can I keep you forever ? This story dedicated for people who likes sweet, simple, innocent love story enjoy