Byan sedang terlelap tidur di kamar Alfan, dia merasa lemas setelah beberapa saat sampai di rumah. Badannya juga panas mendadak, sehingga Alfa buru-buru menempel plaster penurun panas di keningnya.
Setelah hampir dua jam tidur, Alfan harus membangunkan Byan untuk makan malam. Ia sedikit mengernyit merasakan suhu badan Byan sudah lumanyan turun.
Karena sangat khawatir dengan adiknya, Alfan membangunkan dengan cara yang sangat lembut. Dia mengelus beberapa kali dahi Byan, maka anak itu akan langsung terganggu.
"Aku lelah, ingin tidur," protes Byan, menyingkirkan tangan kakaknya.
Tapi Alfan hanya menghela napas pendek, tidak memperdulikan adiknya yang menggerutu. "Apa kamu tidak ingin makan malam?"
Byan menggeleng lemah, memejamkan matanya lebih erat lagi.
"Kak Dhafin pasti tahu caranya membuat kamu bisa makan, kan?" tanya Alfan iseng, tapi Byan malah langsung membuka matanya lebar-lebar.
Alfan heran, matanya sampai memandang tidak percaya Byan yang langsung duduk dan mulai meregangkan badannya. Seolah yang tadi tidak mau makan malam itu bukan dia.
Tangan Byan mulai meraba jidatnya, dia ingin melepas plaster penurun demamnya, tapi Alfan langsung melarang.
"Byan sudah dua puluh tahun, tidak ada harga dirinya pakai plaster anak-anak," ucap Byan, membuat protesan keras.
Tapi Alfan masih tetap menahan tangan Byan. "Sudah, makan saja dulu. Tidak akan ada yang memperhatikan umur kamu."
Byan berdecak kesal, tapi mau bagaimana lagi, Alfan sudah menarik tangannya untuk keluar dari kamar dan makan malam.
***
Byan cukup kaget saat satu keluarga menyambutnya dengan gembira, sama ibu, Daniara langsung menarik Byan ke dalam pelukan hangatnya.
Sangat lama Byan membeku kaku, canggung, dan binggung. Sampai mata Byan menangkap siluet bu Sari, yang menyuruh Byan untuk balas memeluknya.
Mungkin terlihat kaku, tapi Byan masih bisa merasakan kehangatan setelah beberapa lama. Bahkan, ayahnya juga ikut memeluk Byan, mengajaknya duduk di samping sang ibu.
Byan hanya diam, menikmati interaksi yang sangat jarang didapatkam dulu. Apalagi sang ibu berkata kalau makanan di atas meja adalah makanan kesukaan Byan. Itu dirinya sendiri yang memasak, atas bantuan bu Sari.
Karena memang tidak ingin menyia-nyiakan, Byan menjadi patuh.
Pandangan Byan yang awalnya hanya pada makanan sedikit dikejutkan dengan kehadiran Nara yang baru saja turun dari kamarnya.
Nara dengan santai ikut duduk dan makan, seperti ketahuannya tentang kebohongan itu tidak ada artinya. Nara benar-benar bebas dari amarah apapun.
Jujur Byan merasa kurang adil, bukankah dulu dia dihakimi hingga tidak punya topangan. Byan seperti dilucuti lalu dipukuli tanpa ampun, rasanya benar-benar berada di ujung kematian.
Byan benci situasi seperti ini, maka dari itu dia langsung makan dengan cepat, agar bisa pergi.
Manusia mana yang tidak sakit hati saat mengetahui fakta orang yang menjadi alasan hidupnya hancur tidak mendapatkan balasan apa-apa.
"Kamu kalau mau tambah sini Ibu ambilin," tawarkan Daniara, yang melihat anaknya makan dalam diam. Dirinya hanya berpikir kalau Byan belum terbiasa.
Namun, siapa yang bisa membaca isi hati Byan? Siapa yang mengerti kalau sakitnya tidak pernah terbalaskan hanya karena mereka tidak adil dalam mengambil tindakan.
Byan sedikit memaksakan senyumnya, dia memandang sang ibu cukup lembut. "Aku kenyang, apa boleh Byan duluan ke kamar?"
***
"Kamu pikir semuanya akan berubah?"
Byan yang sedang santai di teras rumah terkejut melihat Nara sudah ada di sampingnya.
Gadis itu dengan angkuh menyilangkan tangannya di depan dada, sambil menatap Byan prihati.
"Nyatanya aku tidak pernah dibuang seperti kamu. Apa mungkin pada dasarnya kamu bukan anak yang diinginkan?" Nara mulai mengompori.
Tapi Byan seakan tidak peduli, dia masih memperhatikan pak Rarjo mencuci mobil.
"Lalu setelah punya alasan mereka membuang kamu. Tapi Tuhan cukup baik memberikan kamu penyakit, mereka sedikit merasa simpati, karena berpikir umur kamu tidak akan lama." Nara berdecak sok prihatin, memandang Byan dari atas sampai bawah.
Tidak ada yang berubah dari sikap dan ekspresinya, tapi Nara tahu, seorang yang pernah depresi seperti Byan akan benar-benar cemas dengan kalimat penjatuhan sederhana itu.
Nara tersenyum sinis, menepuk bahu Byan agar pria yang lebih muda beberapa tahun darinya itu memandang Nara.
"Selama kamu sekarat mereka akan baik, jadi teruslah sakit," ucap Nara yang melambaikam tangannya akan pergi dari sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lilin Kecil (END)
Ficción GeneralByan memutuskan kabur dari rumah dengan sebutan anak pembunuh tidak bertanggung jawab dari keluarganya. Namun, setelah Byan lari sejauh mungkin, mereka malah mencarinya ke ujung bumi manapun Byan bersembunyi. Sialnya lagi, hati Byan kembali tergores...
